Astha Brata, Kriteria Pemimpin dalam Budaya Jawa

20 Februari 2013 12:31:55 Dibaca :

2014 bangsa Indoensia akan kembali memilih presiden dan wakilnya. Sejak setahun sebelum tibanya masa itu, partai politik sudah mulai melakukan manuver untuk menarik suara masyarakat. Ada yang dilakukan dengan pencitraan diri atau bahkan merusak citra lawan. Dana juga disiapkan, baik dengan dana yang halal ataupun haram. Semuanya demi satu tujuan, yaitu memimpin negeri ini untuk memajukan negeri ini (katanya).

Bagi yang bingung kiranya sosok pemimpin seperti apa yang paling ideal menjadi pemimpin negeri, kiranya anda bisa melihat pada istilah Astha Brata. Astha Brata merupakan istilah dalam ilmu Jawa yang merujuk pada fungsi atau kriteria seorang pemimpin. Astha berasal dari bahasa sansekerta yang aslinya delapan, brata juga dari bahasa sansekerta prasetya atau mampu setia atau menjaga amanah. Jadi Astha Brata yaitu 8 kriteria pemimpin yang mampu menjaga amanah. Berikut isi dari Astha Brata :

1. Komandan. Kriteria pemimpin pertama mampu menjadi komandan atau pemimpin yang mampu memimpin jajarannya dan masyarakatnya untuk membangun bersama dan menciptakan kesejahteraan untuk kepentingan bersama.

2. Pelopor. Pemimpin harus punya kreativitas dan harus memiliki inisiatif dalam membuat kebijakan yang bermanfaat untuk kemajuan bersama.

3. Bapak. Seorang pemimpin haruslah bijaksana dan mampu mengayomi, tidak hanya mengayomi masyarakat, tapi juga mengayomi jajaran dibawahnya agar bisa bekerja bersama-sama.

4. Ibu. Seorang pemimpin harus punya sifat seperti ibu yang mampu menampung aspirasi atau curhatan anak-anaknya atau masyarakatnya. Pemimpin juga harus bisa memahami perasaan masyarakat dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan dan kengototan.

5. Guru. Pemimpin harus mampu mendidik, mengajar, dan melatih jajarannya untuk bersama-sama membangun kesejahteraan, lebih baik lagi seorang pemimpin mampu memberikan suri tauladan yang baik, tidak hanya baik dari perkataanya saja, tapi juga perbuatan dan tindakannya.

6. Pandita. Pandita atau pendeta merupakan pemimpin agama hindu yang dulu banyak dianut masyarakat Jawa sebelum masuknya islam. Pemimpin sebagai pandita maksudnya seorang pemimpin harus mampu menjadi imam bagi jajaran dan masyarakatnya.

7. Sahabat. Pemimpin tidak boleh terlalu menjaga jarak dengan masyarakat dan jajarannya. Pemimpin jangan terlalu mengistilahkan dirinya sebagai atasan dan yang lainnya adalah bawahannya atau anak buahnya, akan lebih baik menganggap semuanya adalah sahabatnya. Dengan begitu rasa dekat dan saling memiliki akan selalu muncul.

8. Satria. Seorang pemimpin harus mampu menjadi kesatria bagi masyarakatnya. Pemimpin harus mampu melindungi dan mau berkorban demi kesejahteraan bersama, bukannya malah memperkaya diri dengan korupsi dan membiarkan masyaraknta terlantar kelaparan tak punya rumah dan tak bisa bersekolah.

Melihat kriteria diatas dan melihat stok politikus negeri ini saat ini memanglah susah (kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin). Jikalau mungkin tidak ada yang benar-benar memiliki kriteria Astha Brata diatas, paling tidak semoga ada yang mendekati, sehingga diharapkan akan membawa negeri ini kejalan kemakmuran dan kesejahteraan yang sangat diidam-idamkan oleh bangsa ini semenjak pendeklarasian kemerdekaan. Semoga Allah memberikan Indonesia pemimpin tersebut. (Amin)

Sumber

Bratawidjaja, T. Wijaya. 1997. Mengungkap dan mengenal Budaya Jawa. Jakarta : Pradnya Pramita

Endah, Kuswa. 2008. Diktat Etika Jawa. FBS UNY

Amin Enyong

/akhmadfatkhulamin

Pengagum budaya Indonesia
Twitter : @AFamin_
Blog : http://adigunaku.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?