Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Muhaimin Azzet lainnya

Akhmad Muhaimin Azzet, penulis buku, blogger, dan editor freelance di beberapa penerbit buku. Beberapa tulisan juga pernah dimuat di Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Suara Karya, Ummi, Annida, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Bernas, Solo Pos, Suara Merdeka, Wawasan, Surabaya Post, Lampung Post, Analisa, Medan Pos, Waspada, Pedoman Rakyat, dan beberapa media kalangan terbatas.

Selanjutnya

Tutup

Bergerak dan Berbagi bersama Buku

27 Mei 2011   05:56 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:09 285 1 0

Hari ini, lima tahun yang lalu, 27 Mei 2006, Jogja diguncang gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter. Sudah cukup banyak cerita duka dikabarkan; tiada sedikit kisah bangkit kembali yang disampaikan. Kali ini, saya ingin berbagi cerita dari para penyair di seluruh pelosok negeri ini yang ingin turut berbagi dengan warga Jogja yang kala itu terkena musibah gempa. Para penyair Indonesia kemudian menuliskan puisi sebagai refleksi, ungkapan duka, sapaan sesama, atau bahkan doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Puisi yang terkumpul dibukukan dan segala keuntungan dari buku tersebut disumbangkan untuk para korban bencana di Jogja. Berikut mengenai buku yang berisi seratus puisi tersebut: Judul Buku     : Jogja 5,9 Skala Richter; Antologi Seratus Puisi Penyunting    : Ahmadun Yosi Herfanda, Endo Senggono, Kurnia Effendi, dan Saut Situmorang. Penerbit          : Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL), dan Bentang Pustaka Tahun               : 2006 Tebal                 : 157 hlm. Buku ini berisi puisi karya Abdul Wachid BS (Yogyakarta), Afrizal Malna (Yogyakarta), Agus Manaji (Yogyakarta), Agus Sutanto Mansur (Yogyakarta), Akhmad Muhaimin Azzet (Yogyakarta), Akidah Gauzillah (Jakarta), Alex R. Nainggolan (Jakarta), Aliyah Purwati (Hong Kong), Amien Wangsitalaja (Samarinda), Antonius Yunanto (Yogyakarta), Asep Sambodja (Jakarta), Ashilly Achidati (Yogyakarta), Azzah Zain Al Hasany (Jakarta), Badui U. Subhan (Bandung), Bambang Supranoto (Cepu), Bambang Widiatmoko (Yogyakarta), Budhi Sulis (Cilacap), Chavchay Syaifullah (Jakarta), Cunong Nunuk Suraja (Bogor), Dad Murniah (Jakarta), Dani (Jakarta), Dharmadi (Purwokerto), Diah Hadaning (Bogor), Dian Hartati (Bandung), Dianing Widya Yudhistira (Jakarta), Dino F. Umahuk (Jakarta), Doni Indra (Depok), Donny Anggoro (Jakarta), Eka Budianta (Jakarta), Elisa C., Endang Supriadi (Bogor), Eni Kusuma W. (Hong Kong), Epri A.R. (Jakarta), ES Wibowo (Magelang), Fahrudin Nasrulloh (Yogyakarta), Fati Soewandi (Surabaya), Fatin Hamama (Jeddah), Fikar W. Eda (Jakarta), Fina Sato (Bandung), Giyanto Subagio (Jakarta), Gunoto Saparie (Semarang), Hasan Al Banna (Medan), Hasan Aspahani (Batam), Heru Kurniawan (Purwokerto), Husnul Khuluqi (Tangerang), IAO Suwanti Sideman (Mataram), Ibnu Wahyudi (Depok), Idris Pasaribu (Medan), Indah IP (Jakarta), Indrian Koto (Yogyakarta), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Iyut Fitra (Payakumbuh), Johanes Sugianto (Jakarta), Joko Pinurbo (Yogyakarta), Katrin Bandel (Yogyakarta), KH Muhammad Fuad Riyadi (Yogyakarta), M. Badri (Bogor), M. Raudah Jambak (Medan), Maryanto (Yogyakarta), Mawie Ananta Jonie (Amsterdam), Medy Loekito (Jakarta), Mila Duchlun (Republik Maladewa), Mirwan Andan Yusuf (Jakarta), Misbach (Bekasi), Muchlish AR (Yogyakarta), Muda Wijaya (Denpasar), Mukti Sutarman Espe (Kudus), Mustafa Ismail (Jakarta), Nanang Suryadi (Malang), Nur Wahida Idris (Yogyakarta), Pakcik Ahmad (Jakarta), Pranita Dewi (Denpasar), Pulung Amoria Kencana, Putra Nusantara, R. Toto Sugiharto (Serang), Ragdi F. Daye (Padang), Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), Reza Idria (Aceh), S. Yoga (Ngawi), Saiful Amin Ghofur (Yogyakarta), Setiyo Bardono (Depok), Shobir Poer (Jakarta), Sigit Rais (Bandung), Sinar Ramses Sakti Simatupang (Jakarta), Sindu Putra (Mataram), Sitor Situmorang (Samosir), Slamet Raharjo Rais (Jakarta), Thomson HS (Pematang Siantar), Titik Kartiani, TS Pinang (Yogyakarta), Tulus Wijanarko (Jakarta), Viddy AD Daery (Jakarta), Wa Ode Nirmala Ningrum (Inggris), Warih Wisatsana (Denpasar), Wayan Sunarta (Denpasar), Widzar Al-Ghifary (Bandung), Yosi Kristanto (Tangerang), Zahrotun Nida (Yogyakarta), Zai Lawang Langit (Jakarta), dan Zen Hae (Tangerang). Demikianlah. Betapa pentingnya berbagi itu. Setiap kita bisa berbagi kepada sesama. Apalagi kepada yang membutuhkannya. Dengan apa saja yang kita mampu dan punya. Termasuk dengan puisi yang selanjutnya dijadikan buku. Sungguh, inilah kekuatan lain dari sebuah buku: bisa menyatukan penyair dari seluruh pelosok negeri yang selanjutnya melakukan gerakan bersama dalam berbagi.