HIGHLIGHT

Menunggu Penjelasan KH Said Aqil Siradj Mengenai Situs Porno

10 September 2012 17:01:56 Dibaca :

"Situs porno secara hukum fikih tak berdosa, hanya makruh. Yang dosa itu yang membuat dan menjadi bintang porno."
[KH Said Aqil Siradj].

Pernyataan itu dikeluarkan oleh KH Said Aqil Siradj yang dilansir oleh situs Arrahmah di Gedung PBNU Jakarta, Selasa 27 September 2011.


Pernyataan itu direspon oleh Saudara Adi Supriadi dalam tulisannya "PBNU Halalkan Nonton Video Porno" yang diposting di Kompasiana kurang lebih setahun yang lalu, yaitu pada tanggal 24 October 2011 pukul 10:50.


Kemarin, 9 September 2012 pukul 08:09, Pengelola Kompasiana memposting artikel pengumuman resmi, "Mempertimbangkan Etika Jurnalistik dari PBNU". Dalam postingan tersebut Kompasiana menerima surat resmi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr M Sulton Fatoni. (Sayangnya Pengelola Kompasiana tidak ada menyebutkan kapan persisnya surat itu diterima Kompasiana).


Dalam suratnya Saudara Sulton meminta Pengelola Kompasiana mempertimbangkan untuk menghapus artikel Adi Supriadi yang menurutnya mengandung upaya penyebaran kebencian secara tidak berdasar.


Pengelola Kompasiana pun membela artikel Saudara Adi Supriadi tersebut karena tidak melanggar peraturan (ToC) Kompasiana dan Saudara Adi Supriadi pun telah mengklarifikasi sesuai permintaan Pengelola Kompasiana.


Namun, hingga hari ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belum merespon kembali kebijaksanaan Pengelola Kompasiana tersebut.


"Kasus" inipun direspon oleh Sahabat-Sahabat Kompasianers, masing-masing memberikan pendapatnya berupa tulisan maupun komentar.


Demikianlah sekilas kronologis kasus ini.


***


Menurut saya, yang jadi masalah utama adalah pernyataan KH Said Aqil Siradj yang telah menimbulkan berbagai macam persepsi atau polemik, bukan pada kredibilitas situs Arrahmah dan bukan pada artikel Saudara Adi Supriadi.


Jika seandainya Arrahmah telah memberikan informasi yang tidak benar, sudah selayaknya KH Said Aqil Siradj atau pengurus PBNU untuk menggugatnya.


Namun apabila memang benar KH Said Aqil Siradj mengeluarkan pernyataan itu, sudah seharusnyalah beliau mengklarifikasi dan menjelaskan lebih lanjut perihal pernyataannya tersebut. Karena apabila dibiarkan, besar kemungkinan akan menimbulkan berbagai macam opini-opini yang kacau di tengah-tengah masyarakat.


Saya rasa tidak mungkin KH Said Aqil Siradj tidak mengetahui hal ini, karena yang mempermasalahkan artikel saudara Adi Supriadi adalah pengurus resmi PBNU yang otomatis berhubungan langsung dengan KH Said Aqil Siradj. Suatu keganjilan apabila pengurus resmi itu tidak memberitahukan beliau.


Mudah-mudahan KH Said Aqil Siradj bersedia menjelaskan hal ini.


***


Terdapat beberapa kejanggalan dalam kasus ini, yaitu mengapa pengurus PBNU baru "sekarang" mempermasalahkan artikel saudara Adi Supriadi tersebut, kemudian mengapa pengurus PBNU tidak menggugat atau melaporkan situs Arrahmah kepada instansi terkait, yang merupakan sumber utama kasus ini.


Saya juga menyarankan kepada Saudara Adi Supriadi untuk mengganti judul artikelnya tersebut, karena menurut saya (berdasarkan telaah artikel di situs Arrahmah), pernyataan itu adalah pernyataan KH Said Aqil Siradj, bukan pernyataan resmi dari PBNU.


***


Terlepas dari isi kasus ini, saya pikir kasus ini adalah salah satu bukti bahwa Citizien Journalism, khususnya Kompasiana, telah diakui masyarakat, mempunyai pengaruh yang cukup signifikan, sebagai salah satu sumber informasi yang diakui oleh masyarakat umum terutama bagi netizen.


***








Rahmad Agus Koto

/ajuskoto

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Alam Terkembang Jadi Buku" Dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan, Inshaallah. Belajar sampai nafas terakhir. Suka membaca, menulis, mengamati perkembangan Agama, Filsafat, Sosial, Budaya, Politik, Teknologi Informasi, Fotografi, Biologi, Psikologi dan Entrepreneurship.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?