Kecerdasan Emosional Jokowi-Ahok, Bukan Kecerdasan Spritual [Tanggapan Terhadap Artikel Zen Muttaqin]

23 Juni 2013 21:08:53 Dibaca :

Tulisan ini merupakan opini untuk menanggapi artikel Zen Muttaqin, "Kecerdasan Spiritual Jokowi sebagai Pemimpin, Pindahkan PRJ ke Monas." Yup, saya sependapat dengan opini Zen Muttaqin bahwa upaya Jokowi-Ahok untuk mengembalikan "ruh" Jakarta, salah satunya melalui pengembalian pesta rakyat Jakarta ke Monas, adalah salah satu usaha yang bisa dikatakan soft revolution, sesuatu yang sangat bagus dan mungkin tak terpikirkan atau tidak dapat dilaksanakan oleh pemimpin-pemimpin Jakarta terdahulu. Namun, penyebutan Kecerdasan Spritual untuk gebrakan Jokowi-Ahok tersebut tidak tepat, karena gebrakan yang dilakukan Jokowi-Ahok tersebut bersifat "emosional", bersifat rasa, lebih kepada karakter simpatik dan empatik terhadap warga Jakarta dan kota Jakarta itu sendiri, suatu upaya untuk menimbulkan rasa memiliki. Sedangkan Kecerdasan Spritual berhubungan dengan aktivitas-aktivitas yang bersifat ketuhanan, pengakuan diri bahwa ada zat yang tidak terperikan oleh manusia, yang menciptakan dan menguasai manusia. Saya telah menilik atikel Zen Muttaqin tersebut beberapa kali, namun saya tidak menemukan adanya hubungan antara Kecerdasan Spritual dengan opini yang dikemukakan Zen Muttaqin tersebut. Atau mungkin saya yang khilaf? Mudah-mudahan Zen Muttaqin bersedia menanggapi opini ini. Salam Hangat Sahabat Kompasianers... Jokowi-Ahok dan Aku

Rahmad Agus Koto

/ajuskoto

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Alam Terkembang Jadi Buku," dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan... Insyaallah... Belajar sampai nafas terakhir. Suka membaca, menulis, mengamati perkembangan Agama, Filsafat, Sosial Budaya, Politik, Teknologi Informasi, Fotografi, Biologi, dan Entrepreneurship.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?