HIGHLIGHT

Jokowi Nyapres, Pasti Menang? Belum Tentu

23 Juli 2013 04:31:00 Dibaca :
Jokowi Nyapres, Pasti Menang? Belum Tentu
-

Hello Dear Readers... Baiklah kita asumsikan Jokowi akhirnya masuk menjadi salah satu calon presiden dalam pemilu tahun depan. Yang jadi pertanyaan adalah seberapa besar kemungkinan Jokowi terpilih jadi presiden? Dari sekian-sekian pendukung Jokowi dan pengamat politik, banyak sekali diantaranya yang sangat yakin sekali Jokowi bakalan terpilih jadi presiden. Bahkan ada yang memberikan komentar yang agak ekstrim, seandainya Jokowi dipasangkan dengan orang utan pun, Jokowi akan memenangkan pesta demokrasi tersebut. Wow... Sah-sah saja kok memiliki pendapat yang biasa hingga pendapat yang ekstrim. Namun, cobalah kita abaikan dulu keyakinannya masing-masing untuk sementara, memposisikan diri tidak mendukung dan tidak menolak Jokowi jadi presiden, dan melihat kenyataan Geliat Politik Jelang Pemilu 2014 dengan kaca mata bening. Jokowi Nyapres, Pasti Menang? Belum Tentu... Berikut beberapa argumennya, Pertama Seperti yang telah saya kemukakan dalam artikel terdahulu, "Jokowi Nyapres? Semut vs Dinosaurus!" pemilu kali ini akan sangat berbeda sekali dengan pemilu-pemilu sebelumnya, akan menjadi bab baru dalam buku sejarah politik Indonesia. Selain disebabkan oleh hadirnya Jokowi, salah satu yang menonjol adalah mulai terlibatnya secara aktif orang-orang yang sangat berpengaruh dan memiliki dana yang sangat besar sekali. Mereka bukan lagi bermain di balik layar. Kita sebut saja diantaranya Hary Tanoesoedibjo (Hanura) dan Hashim Djojohadikusumo (Gerindra). Menarik sekali menyikapi keberanian Ical, Hatta Rajasa dan Prabowo yang telah menyatakan secara resmi menjadi capres Golkar, PAN dan Gerindra, dan jauh lebih menarik lagi melihat kepercayaan diri Wiranto dan Hary Tanoe, yang jauh hari telah menyatakan mereka enggan berkoalisi (Kompas). Mereka-mereka ini bukan orang-orang sembarangan, kalangan intelektual dan tidak mengandalkan feeling semata. Dari sudut pandang pendukung Jokowi, fatal akibatnya apabila disepelekan atau diabaikan. Sudah pasti mereka menyatakan diri jadi capres berdasarkan hasil penelitian internal, berdasarkan fakta-fakta di lapangan yang mereka peroleh dari cabang-cabang organisasinya yang menyebar hingga ke pelosok tanah air, yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun. Entah kalau ada calon presiden tersebut yang berpikiran, "Haaahhhh kepalang tanggung, hajar aja blehh..." Saya sendiri sudah menyaksikan langsung pergerakan salah satu partai capres-capres tersebut yang menurut saya efektif dan menjangkau "akar rumput". Kedua Sebaiknya para pendukung Jokowi tidak terlena dengan hasil berbagai survei non partai yang mengunggulkan Jokowi. Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa hasil survei mereka tidak bermanfaat atau bersifat "menipu", tetapi data yang mereka berikan bersifat data sekunder, tidak bisa dijadikan patokan utama tentunya. Kelemahan survei non-partai ini antara lain dari segi jumlah peserta survey, berkisar antara 1500-3000, sementara jumlah peserta pemilu 2014 diperkirakan antara 170-200 juta, kemudian dari segi lokasi pengambilan sampel yang umumnya diambil dari daerah perkotaan, dan dari segi waktu yang relatif singkat, hanya sebulan hingga beberapa bulan. So, dari ketiga parameter ini, jumlah, lokasi dan waktu, hasil penelitian internal partai datanya lebih akurat daripada hasil survey non-partai. Pemaparan ini saya uraikan berdasarkan pengalaman saya saat mahasiswa dahulu yang pernah terlibat langsung dalam suatu penelitian metode survey (sebagai data primer) dan dari berbagai media massa (sebagai data sekunder). Ketiga Selain kedua poin di atas, jangan terlena dengan jargon "media darling" terutama dalam dunia maya. Cakupan isi media tradisional (koran, majalah, tabloid, buku dan sejenisnya) berbeda sekali dengan media modern atau new media, khususnya internet. Tingkat keterbacaan media modern juga relatif sedikit dibandingkan dengan pembaca media tradisional. Sebagai contoh sederhana, kolom khusus Jokowi-Ahok, tidak memungkinkan selalu ada di media tradisional. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan dan stratifikasi sosial. Well Dear Readers... Dari penjabaran ketiga poin di atas, rasanya terlalu berani atau bisa juga dikatakan "over confidence" bagi yang berpendapat bahwa Jokowi pasti terpilih dalam pemilu 2014 apabila beliau menjadi salah satu calon presiden. Bagus kok percaya diri, namun kalau diembeli dengan kata terlalu, jadi tidak bagus loh... Meskipun demikian, secara pribadi, saya mengakui Jokowi memang punya kans besar terpilih dalam pemilu tahun depan. So, silahkan memakai "kacamata warnanya" kembali, dan mengambil apa yang bisa diambil dari artikel ini, semoga bermanfaat. Khusus bagi pendukung Jokowi, bersiap-siaplah memposisikan diri sebagai semut untuk menghadapi keganasan gerombolan dinosaurus. Wow, Semut vs Dinosaurus! Ho..ho.ho... kedengarannya keren kan? Salam Hangat Sahabat Kompasianers... ^_^ Artikel Terkait Jokowi-Ahok dan Aku

Rahmad Agus Koto

/ajuskoto

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Alam Terkembang Jadi Buku" Dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan, Inshaallah. Belajar sampai nafas terakhir. Suka membaca, menulis, mengamati perkembangan Agama, Filsafat, Sosial, Budaya, Politik, Teknologi Informasi, Fotografi, Biologi, Psikologi dan Entrepreneurship.
Selengkapnya...