Rahmad Agus Koto
Rahmad Agus Koto Bioentrepreneur

"Alam terkembang jadi buku!"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

[Bukan] Warisan: Untuk Adinda Afi Nihaya Faradisa

19 Mei 2017   10:44 Diperbarui: 19 Mei 2017   11:00 2015 1 1

Opini untuk menanggapi opini Adinda Afi Nihaya Faradisa

WARISAN
Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa

[Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.]

Benar, tidak ada jaminannya.

[Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri]

Benar agama adalah warisan hingga kita telah mampu berpikir dan memutuskan suatu hal secara mandiri ('Aqil Baligh), setelah itu kita diberi kebebasan untuk berpikir apakah tetap memilih agama tersebut atau tidak. Jadi, sampai disini agama bukanlah warisan. Agama adalah hal terpenting dalam hidup kita, jika diperlukan nyawapun kita korbankan untuk kepentingan agama demi mendapatkan ridho Allahu. Membela agama adalah perintah Allah.

Sementara itu ras (genetis) jelas sifatnya warisan. Sedangkan agama, suku dan negara, kita diberikan kebebasan untuk memilih yang sesuai dengan kehendak kita sendiri.

[Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu]

Iya, tidak akan ada titik temu. Namun, dakwah adalah kewajiban setiap orang yang mengaku beragama Islam. Saling beradu superioritas adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Disinilah perlunya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan yang kontras.

[Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."]

Pendapat Jalaluddin Rumi tersebut bukan dalam konteks memilih agama yang benar. Hanya satu agama yang benar. Akan menimbulkan kerancuan jika kebenaran sejati ada pada dua atau lebih agama.

[Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".]

Pembuktian jelas dibutuhkan oleh orang yang berpikir. Keimanan lahir dari kemampuan berpikir. Semakin tinggi ilmu yang diperoleh, semakin kuatlah keimanannya.

[Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba]

Boleh melabeli orang masuk surga atau neraka, yang penting ada dasarnya, berdasarkan firman Allah, sabda Muhammad Rasulullah dan nasehat para ulama. Hanyasaja, dalam melabeli ini tidak boleh sembarangan, mesti memperhatikan konteks, tempat dan waktu penyampaiannya.

Melabeli itu kadang diperlukan, sehingga kita bisa mengetahui identitas atau status masing-masing. Kita bisa mengenali bahwa Si A begini, Si B begitu, dst. Dengan demikian kita bisa menentukan atau menjaga sikap kita terhadap mereka yang kita labeli.

[Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya"]

Bukan, samasekali bukan. Perselisihan itu bukan dilatarbelakangi oleh klaim tersebut. Perselisihan itu terjadi karena adanya ambisi yang berlebihan, adanya pemaksaan, atau hasil dari berkelindannya kepentingan ego (nafsu) terhadap kekuasaan (politik) dan perekonomian.

[Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini? Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa. Tapi tidak, kan?]

Diciptakannya keberagaman itu merupakan konsekuensi logis dari kebebasan berpikir yang dianugerahkan kepada kita.

[Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.]

Iya kesamaan agama dalam suatu negara tidak menjamin kerukunan. Ketidak rukunan itu terjadi karena adanya ambisi kekuasaan (nafsu) yang berlebihan dari oknum-oknum atau golongan (mahzab). Yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mengadu domba mereka.

[Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.]

Mayoritas minoritas adalah konsekuensi logis dari demokrasi. Otomatis yang mayoritas yang menjadi pihak yang berkuasa untuk mengatur komunitas (negara) tersebut. Hanyasaja yang mayoritas tidak boleh semena-mena terhadap yang minoritas. Kepentingan minoritas mesti tetap diperhatikan atau diperlakukan secara adil oleh negara.

Jika tidak, berarti negara tersebut negara otoriter, bukan negara demokrasi. Musyawarah untuk mencapai mufakat adalah kunci untuk menyelaraskan kepentingan mayoritas dan minoritas.

[Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita. Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan].

Sekali lagi, tidak boleh ada pemaksaan apalagi kekerasan. Kita sudah sepakat bahwa negara kita dijalankan berdasarkan Pancasila dan UUD '45, bukan kitab suci suatu agama. Hal yang sudah berjalan dengan relatif baik hingga kini. Hal yang telah terbukti bisa menyatukan kita semua dalam negara Republik Indonesia.

Intervensi. Dalam hal ini pengertian intervensi mesti diperjelas. Apakah intervensi yang dimaksud disini merupakan tuntutan rasa keadilan tentang suatu persoalan? Apakah sebentuk protes terhadap suatu kebijakan?

Jika tuntutan atau intervensi agama A tersebut lebih berkuasa daripada negara, maka negara tersebut telah gagal menjadi negara demokrasi. Nyatanya, di negara kita hal tersebut tidak terjadi bukan? Kita bersyukur memiliki MPR dan DPR untuk memusyawarahkan hal-hal yang demikian.

[Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.]

Sekali lagi, agama bukan warisan. Perhatikan juga kemungkinan adanya pihak luar yang hendak mengadu domba kita rakyat Republik Indonesia demi tercapainya tujuan mereka. Perhatikan juga sejarah, bagaimana model penjajahan yang negara kita alami.

Intinya, ketertinggalan kita penyebabnya kompleks, bukan semata-mata karena meributkan soal "warisan" yang Adinda maksud.

[Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir]

Sepakat, kita mesti sama-sama berpikir. Walaupun mustahil semua orang memiliki pemikiran yang sama. Apalagi, homogenitas bertentangan dengan "hukum alam". Secara biologis, keanekaragaman yang tinggi dalam suatu komunitas merupakan indikator baiknya keseimbangan ekosistem dalam komunitas tersebut.

Secara umum, saya salut dengan perhatian Adinda Afi terhadap negara kita yang sama-sama kita cintai. Dengan seusia Adinda, Afi telah menunjukkan kemampuan berpikir yang bisa dikatakan (mungkin) diatas rata-rata dibandingkan teman-teman seusia Adinda yang lebih disibukkan dengan hal-hal yang sifatnya hura-hura.

Demikian tanggapan saya buat opini Adinda Afi. Jika ada yang hendak ditanggapi, disanggah atau dipertanyakan, saya siap mendiskusikannya yang didasari niat untuk kebaikan kita semua, khususnya kita rakyat Republik Indonesia.

Oh ya, saya turut prihatin dengan mereka yang berupaya menutup akun Facebook Adinda. Hal yang sangat disayangkan.

Terima Kasih...