Nurdin Halid Versus Ilham Arif Sirajuddin (Perang Saudara Orang Bugis)

02 Maret 2011 15:37:41 Dibaca :

PAMEO yang mengatakan tidak ada yang abadi di politik, tampaknya benar-benar tergambar dengan jelas dalam perseteruan antara Ilham Arief Sirajuddin dan Nurdin Halid. Ilham yang dulu sangat mengidolakan Nurdin yang dia anggap sebagai gurunya, sekarang malah berada di barisan terdepan, dalam menentang  Nurdin di PSSI. Kini perseteruan antara murid dan guru ini semakin melebar, dengan melibatkan dua keluarga besarnya. Bahkan membawa-bawa gerbong sesama orang Sulawesi Selatan. Sebuah perang saudara dari Sulsel yang sesungguhnya tidak membawa manfaat bagi daerah sendiri. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Kamis 24 Februari 2011, Ketua Umum PSM Makassar Ilham Arief Sirajuddin, di Hotel Aryaduta, dengan tegas mendesak Ketua Umum PSSI Nurdin Halid mundur dari jabatannya. "Kalau merasa masih berada pada norma budaya, Pak Nurdin mundurlah. Anda tidak bisa lepas dari simbol-simbol Sulawesi Selatan. Kalau Anda dipermalukan, kami juga ikut malu," papar Ilham. Pernyataan Ilham ini menanggapi maraknya demo anti Nurdin di Makassar, dan sejumlah daerah seperti Jakarta, Medan dan Surabaya. Ilham berharap,Nurdin tidak mengulur waktu untuk mundur.Sebagai sahabat, saudara dan sesama orang  Sulawesi Selatan, Nurdin berjiwa besar dan menerima keadaan. Menurut dia, publik sudah sangat mempermalukannya. "Alangkah sedihnya orang Makassar demo Pak Nurdin," kata Ilham. Di suruh mundur, Nurdin tak bergeming. Ia malah balik menuding demo-demo yang berlangsung di Makassar dan daerah lainnya, hanyalah demo bayaran. " Saya tahu demo itu bayaran. Ini sudah jelas sekali. Ada yang menggerakkan tapi saya sabar,” kata Nurdin kepada wartawan di Bone, Kampung Halamannya ketika ia pulang kampung merayakan maulid. Dituding seperti itu Ilham balik menyerang. " Pak Nurdin tahu dengan demo bayaran karena beliau yang dulu selalu suruh saya atur-atur bayar demo," katanya. Di Makassar Kadir Halid, adik kandung Nurdin, marah besar dan  menyatakan Ilham bukan lagi saudara. " Aco itu bukan lagi saudara kami," katanya.  Ia bahkan menuding Ilham lempar tanggungjawab, sebab selama memegang PSM selama tujuh tahun prestasi PSM ditangan Ilham malah tidak ada, dan bahkan Ilham-lah yang memulai menggunakan dana APBD di PSM."Sekadar Anda tahu Ilham itu yang memulai penggunaan dana APBD di PSM. Nah sekarang dia yang ngotot menghapuskan dana APBD di klub. Ini sama saja maling teriak maling," kata Kadir seraya menantang Ilham untuk debat publik soal PSM Makassar. Keesokan harinya, 25 Februari 2011,   Rahman Halid,  adik kandung Nurdin, memperkarakan Ilham  ke polisi dengan dugaan kasus penipuan sebesar 1,5 Milyar rupiah.  Rahman Halid, melaporkan kasus tindak pidana penipuan dengan terlapor Ilham,  sang walikota.Laporan dengan nomor 553 / K / II / 2011 telah terdaftar di Polrestabes Makassar. Dalam keterangannya,  Rahman, mengakui Ilham selama ini dianggap  sebagai saudara, sehingga tidak pernah secara gamblang mempermasalahkan penipuan itu. Namun karena belakangan Ilham dianggap sudah terlalu merongrong dan melakukan tekanan pada Nurdin, ia akhirnya melaporkan kasus ini ke polisi. "Waktu itu Ilham meminjam uang kepada saya karena mengaku terdesak waktu untuk merenovasi stadion Andi  Mattalatta saat itu, untuk persiapan piala champion Asia. Saya meminjamkan dengan kurang lebih 11 kali pencairan, mulai tanggal 22 Januari 2011 sampai tanggal 26 Maret 2011. Dengan janji akan dikembalikan dalam jangka waktu sebulan setelahnya, Ilham mengembalikan kepada saya berupa dua lembar cek Bank BTN senilai 350 juta tertanggal 28 November 2011 dan 150 jt rupiah tertanggal 9 Februari, tetapi saat akan saya cairkan bank menolak, karena ternyata dananya tidak ada," ujar Rahman pada wartawan saat menggelar jumpa pers di rally café Makassar. Tidak terima diadukan ke polisi, 27 Februari 2011,  Pengacara Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin Asmaun Abbas langsung juga menggelar jumpa pers.Menurut Asmaun, tuduhan Rahman bahwa Ilham membayar utangnya dengan cek kosong di Bank BTN adalah tidak benar. "Klien kami dalam kapasitas sebagai tokoh masyarakat, pimpinan partai politik besar yang juga menjabat wali kota tidak mungkin melakukan tindakan tercela seperti itu," kata Asmaun. Menurut Asmaun, kasus ini sebernarnya sudah selesai. Kasus yang sama pernah menjadi alasan gugatan perdata yang diajukan Rahman Halid di Pengadilan Negeri Makassar. Dengan nomor Perkara 259/Pdt.G/2009/PN.Mks yang telah diputus pada tanggal 5 Mei 2009." Sesuai pertimbangan hukum, majelis hakim menolak gugatan perdata tersebut kala itu,"kata Asmaun. Asmaun didampingi beberapa pengacara pemkot lainnya di antaranya Amran Alimuddin, Charles E Lessnusa, Sugali Halim, dan Hasbi Abdullah. Menurut Asmaun, utangpiutang antara Ilham dan Rahman Halid terjadi menjelang Piala Champion Asia di Stadion Mattoanging Makassar, 2001 lalu. Ilham selaku ketua panpel membutuhkan dana untuk renovasi stadion sebagai salah satu syarat menggelar pertandingan  internasional. "Jadi Pak Ilham meminjam duit bukan dalam kapasitas pribadi tapi atas nama panitia PSM," kata Asmaun. Menurut Asmaun, utang renovasi stadion ini sudah dilunasi oleh Ilham dalam bentuk penyerahan hak kepemilikan atas tanah beserta bangunan yang terletak di Jl Danau Pelangi No 6, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate serta tanah dan rumah di Jl Danau Datur No 178. Kedua rumah ini sudah ditempati keluarga Nurdin Halid. Nilainya sudah lebih dari nilai utang."Juga ada bukti pembayaran berupa uang," tambah Amran. Berdasar bukti-bukti yang dimiliki, penasihat hukum Ilham tak gentar menghadapi gugatan pidana adik Nurdin hingga pengadilan. Penasihat hukum Ilham, malah  berniat melaporkan balik Rahman dengan tuduhan pencemaran nama baik.  "Karena Saudara Rahman Halid telah mengetahui bahwa kewajiban Saudara Ilham telah lunas berdasarkan putusan yang telah ada. Namun dengan sadar dan sengaja mempublikasikan hal tersebut ke media sehingga jelas bahwa ini ada indikasi dan tujuan untuk mencemarkan nama baik Saudara Ilham," timpal Asmaun. Namun keterangan pengacara Ilham langsung ditanggapi Rahman Halid. Keesokan harinya, 28 Februari 2011,  Rahman menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pelunasan atas utang-utang yang dimiliki oleh Ilham Arief Sirajuddin."Kalau memang sudah ada pelunasan, tolong berikan bukti-buktinya,"  tegasnya. Menurut Rahman, rumah yang diklaim Ilham sebagai bentuk pembayaran utangnya tidaklah benar. Karena rumah yang dimaksud merupakan bantuan pihak PT GMTD untuk pengurus dan pengelola PSM. “Artinya bukan bantuan kepada pribadi melainkan kepada pengelolah dan pengurus. Selanjutnya, dua buah rumah tidak tidak ada yang mau membelinya karena lokasi berbentuk "tusuk sate"," ungkapnya. Rahman juga menegaskan siap menghadapi gugatan balik dari kubu Ilham . Dia mengaku sudah memikirkan matang-matang sebelum mengambil sikap ini. Rabu, 2 Maret 2011, Entah ada hubungannya atau tidak  dengan perseteruan Nurdin dan Ilham. Adik kandung Nurdin Halid yakni Natsir Halid yang selama ini menjabat Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Dispenda di copot dari jabatannnya. Dia gantikan oleh Andi Mappanyukki yang sehari-hari sebagai Lurah Tamamaung. Sedang Natsir halid sendiri menjadi pegawai pemkot tanpa jabatan alias non job. Pergantian posisi ini dilakukan dalam rotasi beberapa pejabat dalam lingkup pemerintah kota Makassar.Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Makassar, Sittiara mengatakan Mutasi pejabat hanya dinamisasi organisasi di pemerintahan.  Tidak ada hubungannya dengan masalah yang terjadi antara Ilham dan Nurdin. Murni hanya pertimbangan jabatan. Pecahnya Kongsi  Murid dan Guru Perseteruan Ilham yang merembes ke gugatan hukum dan keluarga ini, mengagetkan banyak pihak. Apalagi Ilham Arief Sirajuddin dan Nurdin Halid, awalnya  adalah ibarat Murid dan Guru. Ilham yang saat ini menjadi Walikota Makassar,  mengakui kalau Nurdin Halid adalah guru politik baginya. Kebersamaan keduanya bahkan sudah terjalin sejak jauh-jauh hari. Berawal di Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia, AMPI Sulsel. Selama puluhan tahun Nurdin yang menjabat Sebagai Ketua AMPI Sulsel selalu membawa Ilham sebagai anak emasnya.Di Organisasi kepemudaan Golkar ini Nurdin memplot Ilham sebagai Ketua Harian. Sebuah jabatan strategis yang juga merupakan perpanjangan tangan Nurdin. Sejak itu Ilham dianggap sebagai tangan kanan sang big bos. Bahkan Ilham dengan secara terang-terangan mengatakan, ia adalah benteng Nurdin tatkala didemo oleh mahasiswa di Makassar terkait SWKP. “Saya pasang badan saat itu membela Nurdin,” katanya. 2008 lalu, ketika Nurdin Halid dibebaskan dari Rutan Salemba, Ilham yang sudah tercatat sebagai Walikota Makassar, langsung mencium tangan sang guru. Aksi cium tangan  yang menggegerkan kalangan politisi, terjadi di rumah kediaman Nurdin di Jalan Mapala Makassar.Menurut sejumlah sumber, ketika Nurdin ditahan 18 September 2007, dalam kasus korupsi minyak goreng Koperasi Distribusi Indonesia, Ilham termasuk orang yang paling rajin membesuk Nurdin. Namun cerita kebersamaan ini, akhirnya harus usai juga. Perpecahan yang memisahkan dua sahabat  ini, terjadi pertama kali pada Musyawarah Nasional (Munas) DPP Partai Golkar, Oktober 2009.Nurdin saat itu menjadi Tim Pemenangan Aburizal Bakrie,  sementara Ilham sebagai Koordinator sekaligus jurubicara Tim Pemenangan bos Media Group Surya Paloh. Kala itu Ilham “melawan” Nurdin, ketika ia diminta meninggalkan Surya Paloh.Ilham didetik-detik terakhir tetap bersikukuh di barisan Paloh bersama Jusuf Kalla saat itu. Disini awal perpecahan itu.Namun sikap Ilham kala itu coba dimaklumi kubu Nurdin. Maklum sosok JK dianggap sebagai penentu. Nurdin memahami sikap Ilham karena JK ada di kubu Paloh. Namun ketika, Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar digelar November 2009, disini pecahnya kongsi itu semakin terlihat jelas. Nurdin yang menjabat sebagai Pengurus DPP Golkar terang-terang mendukung Syahrul Yasin Limpo Gubernur Sulsel. Ilham meradang, maklum saat itu Ilham yang masih tercatat sebagai Ketua Golkar Sulsel sedang berjuang mempertahankan posisinya sebagai Ketua DPD Golkar Sulsel. Jabatan tertinggi Partai Berlambang Beringin yang ditinngalkan Amin Syam pasca kekalahan di Pemilihan Gubernur Sulsel. Pertarungan keduanya pun terbuka. Publik dan para pengamat, yang semula menduga, perseteruan di Munas antara Ilham dan Nurdin hanya sandiwara, ternyata benar bukanlah sebuah lakon belaka. Kala itu Nurdin dan ilham bahkan sudah saling “memaki” meski hanya melalui para ajudannya saja melalui telepon. Dan, ketika saat ini Ilham kemudian melawan Nurdin dalam tubuh PSSI, publik pun akhirnya mahfum. Ini persoalan luka lama.Kalah di dua laga sebelumnya.Ilham yang sekarang pindah partai dan menduduki jabatan nomer satu di Partai Demokrat Sulsel,  partai pemenang Pemilu dimana Presidennya adalah SBY, Ilham kini punya senjata baru melawan seniornya. Dengan menggunakan PSM Makassar, sebagai “amunisi” barunya. Ia langsung menembak Nurdin Halid. Kali ini tidak tanggung-tanggung, bertekad melengserkan Nurdin Halid dari Ketua Umum PSSI. Sebuah jabatan strategis yang sangat diandalkan dan dibanggakan Nurdin Halid saat ini. Ilham menggunakan PSM, klub kebanggaan Nurdin untuk melawannya. Bagi Nurdin PSM adalah segalanya. Di PSM-lah nama Nurdin terangkat secara nasional, setelah ia sukses membawa PSM juara Liga pada Ligina ke VI. " PSM itu darah daging saya. Sayang kalau ia harus hilang dari persepakbolaan Indonesia,"  kata Nurdin ketika ditemui di  sela-sela Kongres PSSI di Bali. Nurdin terlihat terpukul ketika tim kebanggaannya di giring Ilham ke Liga Primer Indonesia (LPI) yang dibesut pengusaha minyak Arifin Panigoro. Maklum, ia tahu persis ketika PSM berlaga di Liga yang tidak diakui PSSI dan FIFA otomatis PSM akan diberi sanksi. Berbagai upaya penyelamatan Nurdin lakukan, termasuk mendorong adiknya Kadir Halid masuk ke PSM. Namun upaya itu mental setelah Ilham yang semula membuka peluang kepada orang lain menangani PSM, menutup pintu itu. Nurdin akhirnya ia mengibarkan bendera putih. " Apa boleh buat kita tidak bisa menyelamatkan PSM," katanya sembari menggeleng. Nurdin memang harus diberi pilihan berat. Memberi sanksi kepada PSM, yang berarti dia harus kehilangan tim kesayangannya, atau membela PSM, tapi ia harus melawan Statuta PSSI dan FIFA. Upaya Ilham mengganggu konsentrasi mantan bosnya terbukti ampuh. Apalagi ketika kolega Ilham di Partai Demokrat yang juga Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng ikut nimbrung di kisruh PSSI.  Ini dipicu setelah  dua jagoan Ilham yaitu Arifin Panigoro dan KASAD Jenderal TNI George Toisutta yang juga kelahiran  Sulawesi Selatan gagal masuk dalam bursa pencalonan ketua Umum PSSI yang rencana awalnya digelar 26 Maret 2011. Menegpora bahkan secara terang-terangan ikut terlibat memprotes PSSI dan mendesak PSSI membatalkan hasil verifikasi calon ketua umum PSSI. " Sesuai UU,pemerintah mempunyai kewenangan terhadap PSSI, tidak hanya FIFA," kata Menegpora Alifian Mallarangeng ketika menggelar komperensi Pers di Jakarta, akhir pekan lalu. Bukan hanya Menegpora yang juga putra Sulawesi Selatan yang harus dihadapi Nurdin. Dari Jawa Timur. Ketua KONI Jatim yang juga Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Jatim, La Nyalla Mattalitti  ikut memotori PSSI tandingan.   Bahkan Mattalittilah yang mendorong lahirnya deklarasi PSSI Tandingan. Yang kini semakin kuat melawan Nurdin Halid cs. Ia Bahkan dengan terang-terangan mengatakan PSSI tandingan adalah salah satu bentuk perlawanan dan kekecewaan terhadap Nurdin Halid yang tidak mau mundur dari PSSI. Nurdin pun dikepung oleh putra-putra daerah tempat ia berasal. Selain Ilham yang sejak awal terang-terangan menentangnya, kini ada Alifian Mallarangeng, George Toisutta, dan Mattalitti. Seteru Sesama Orang Sulawesi Selatan Perseteruan Ilham dan Nurdin yang kemudian diikuti oleh sejumlah orang penting di tanah air yang berasal dari Sulawesi Selatan, menimbulkan keprihatinan banyak kalangan. Apalagi perseteruan ini dianggap tidak membawa dampak positif bagi Sulawesi Selatan.Perseteruan yang  melibatkan sesama putra Bugis Makassar, yang dinilai sangat kontraproduktif bagi semangat soliditas dan solidaritas sesama orang Sulsel."Tidak ada manfaatnya. Seharusnya orang Sulsel bersatu membangun Indonesia dan daerah yang lebih baik. Ini yang bertengkar  Paraikatteji," kata Yunus, salah seorang warga Makassar yang gemes melihat perseteruan orang-orang Sulsel dikancah nasional. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang saat bertemu dengan pengurus Pengrov PSSI Sulsel, mengatakan seharusnya kisruh PSSI ini diselesaikan di Makassar saja. " Harusnya kasus ini selesai di Makassar saja,"kata Agus yang mengaku prihatin atas kondisi ini. Gubernur Sulawesi Selatan  Syahrul Yasin Limpo, belum memberikan komentar apa-apa soal kemelut yang menimpa orang-orang penting Indonesia dari Sulsel ini. Meski demikian ia sempat menyinggung kisruh PSSI yang melibatkan da orang tokoh Sulawesi Selatan yakni Ketua Umum PSSI dan Ketua Umum PSM Makassar, di penghujung Februari lalu. " Daripada kita bicara tentang PSSI yang berkelahi terus. Lebih baik kita bicara tentang kewirausahaan," ujar Syahrul Yasin Limpo di Hotel  La Macca UNM, Jl AP Pettarani, Makassar, Senin, 28 Januari 2011. Perlu ditengahi Ilham Alim Bachri, Wakil Ketua Kadin Sulsel yang dimintai tanggapannya soal “perang saudara” sesama orang Sulsel, berharap masalah ini harus segera ditangani. " Para tokoh masyarakat Sulsel terutama KKSS harus turun tangan menangani masalah ini.Karena ini akan merugikan masyarakat Sulsel sendiri di pada tingkat nasional,"  katanya kepada KabarMakassar. Seharusnya para tokoh politik ini bisa bersama-sama dan bersatu sehingga bisa membuat bangga orang Sulsel, bukannya saling  menjatuhkan demi untuk kepentingan politik dan kekuasaan.  " Seharusnya ada budaya saling menghargai dan saling mengingatkan,"  kata Ilham. Ilham Alim Bachri juga mengaku malu atas perseteruan orang-orang Sulsel saat ini. " Saya malu sebagai orang Sulsel,melihat mereka berseteru dan saling menjatuhkan. Kita ditertawai oleh orang luar. Sulsel yang dikenal akan rasa persaudaraan dan  kekeluargaannya,kini harus saling menjatuhkan," tambahnya. Ia juga berharap ada tokoh nasional dari Sulsel yang bisa menengahi masalah ini.  Apakah perang  saudara sesama orang Sulsel ini akan berlanjut? Kita menunggu cerita selanjutnya. Yang pasti sejarah telah mengajarkan kepada kita setiap pertikaian hanya akan menimbulkan malapetaka. Seperti kata pepatah yang mengatakan menang jadi arang kalah jadi abu. [DI KUTIP DARI WWW.KABARMAKASSAR.COM]

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?