'Nabung' Pohon Pangkal Sehat

13 Mei 2013 12:22:45 Diperbarui: 24 Juni 2015 06:38:26 Dibaca : 117 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :



Kesehatan merupakan hal yang paling utama dalam kehidupn. Orang yang tidak fit dalam artian tidak sehat atau sakit tidak akan dapat berbuat apa-apa. penyebab orang sakit bermacam-macam, mulai dari makanan dan minuman, faktor genetik atau keturunan, gaya hidup, dan karena faktor lingkungan tentunya. Selama ini kita hanya memperhatikan makanan yang kita konsumsi ketika kita sakit, padahal ada hal lain yang harus kita perhatikan yaitu masalah udara yang kita hirup sehari-hari atau lebih tepatnya masalah lingkungan.

Berbicara mengenai lingkungan berarti kita berbicara tentang alam tempat kita tinggal. Alam wajib dijaga kelestariannya karena ia merupakan titipan buat manusia dari penciptanya. Namun kalau kita melihat realitas sekarang ini, alam sepertinya bukan lagi titipan yang harus dijaga akan tetapi seolah-olah telah menjadi alat dan bahan pemenuhan hasrat keserakahan manusia. Terbukti dengan eksploitasi yang berlebihan terhadap alam seperti penebangan secara liar tanpa memperhitungkan aspek akobat yang ditimbulkannya. Disisi lain, polusi udara akibat berkurangnya pohon tiap tahun terus mengalami peningkatan.

Pencemaran udara yang semakin meningkat disebabkan salah satunya karena penebangan hutan yang semakin menjadi-jadi. Menurut data, penebangan liar di Indonesia sudah mencapai tingkat kecepatan 1,6 - 2,0 juta hektar per tahun [1]. Data lain menunjukkan bahwa kerusakan hutan nasional,sudah mencapai  41 juta hektar hutan menjadi gundul. Data dirilis pada tanggal 24 November 2012 [2].

Keberadaan pohon sebenarnya secara tidak langsung berkaitan dengan kesehatan manusia. Penelitian menemukan bahwa peningkatan jumlah pohon yang mati berkaitan dengan meningkatnya jumlah kematian manusia akibat penyakit jantung dan gangguan pernafasan. Penelitian yang dilakukan Dinas Kehutanan AS ini mencoba meneliti hubungan antara kesehatan manusia dibalik matinya 100 juta pohon di daerah Coast dan Midwest. Para peneliti memeriksa data mengenai demografi, angka kematian dan kondisi hutan dari tahun 1990 sampai tahun 2007 dihampir 1.300 wilayah yang tersebar di 15 negara bagian. Peneliti melihat perbedaan kondisi kesehatan manusia yang tinggal di daerah yang dipenuhi kumbang penggerek pohon. Ternyata penduduk yang tinggal di daerah dimana banyak terdapat kumbang penggerek ini memiliki angka kematian karena penyakit jantung yang lebih besar, yaitu 15.000 kasus lebih banyak. Angka kematian akibat penyakit pernafasan juga ditemukan 6.000 lebih banyak ketimbang daerah lain [3].

Oksigen yang kita hirup sehari-hari secara gratis sebenarnya berasal dari pohon-pohon yang ada di sekitar kita. Karbondioksida yang kita hembuskan diolah kembali oleh tumbuh-tumbuhan khususnya pohon-pohon dalam proses fotosintesis untuk selanjutnya dikeluarkan dan dihirup oleh tubuh kita. Sehingga, bagaimana jadinya kalau pohon di sekitar kita semakin berkurang tanpa diimbangi dengan penanaman kembali? Sementara jumlah manusia tiap hari kian bertambah banyak jumlahnya.

Polusi udara akan menghambat fotosintesis tumbuhan. Selain itu, hal tersebut juga akan meningkatkan efek rumah kaca dan menyebabkan rusaknya alpisana ozon serta dapat menyebabkan hujan asam. Untuk mengatasi masalah tersebut, penghijaun dan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon pengganti wajib dilakukan mulai hari ini. Tidak perlu muluk-muluk, mulai dari diri sendiri, cukup 'nabung' satu pohon di dekat rumah masing-masing.

Menurut data sensus, kelahiran jauh lebih banyak daripada angka kematian. Tahun 2005-2010, angka kelahiran sebesar 4.464.000 per tahun, sementara kematian sebanyak 1.692.000 per tahun. Angka kelahiran berkisar 19,1 per 1000 jiwa dan angka kematian berkisar 7,2 per 100 jiwa [4]. Dan pasti tiap tahun terus mengalami peningkatan, khususnya untuk tahun 2013 ini. Artinya, perebutan oksigen diudara bebas semakin ekstrim. Jadi, mau tidak mau kita harus menanam pohon agar asupan oksigen yang kita perlukan tiap hari bisa terpenuhi. Mulai dari menanam atau me'nabung' pohon, dengan resep minimal satu pohon untuk satu kepala keluarga atau untuk satu rumah.

Kalau ada pepatah mengatakan "menabung pangkal kaya", maka tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa "me'nabung' pohon pangkal sehat". Oleh karena itu, menjaga kesehatan dalam hal ini me'nabung' pohon wajib dilakukan dan merupakan bagian dari kebutuhan hidup.

Keterangan: Tulisan dengan format cetak tebal miring adalah data yang bersumber dari nomor-nomor yang ada di belakangya yang bercetak hurup [biru].

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana