Tanggapan Artikel Mahrufin: Esa Hilang, Dua "Tidak Pernah" Terbilang

01 Mei 2013 09:35:31 Dibaca :

Salam satu jiwa

Setelah selesai mengajar di kelas, penulis menyempatkan membuka laptop dan menghubungkan laptop ke jaringan internet dengan memanfaatkan wifi yang sangat tak terbatas. Alhamdulillah, penulis menyempatkan juga membuka forum kompasiana yang beberapa waktu terakhir ini mulai bersih dari gerombolan dengan apa yang dinamakan pecinta kebenaran anti mafia sekaligus anti terhadap rekonsiliasi yang sukses dicapai melalui kebesaran dua pemimpin yaitu bapak Djohar Arifin Husein dan bapak La Nyalla Mahmud Matalitti.
Rekonsiliasi telah berlalu dan sekarang saatnya mendukung semua program PSSI pimpinan Djohar Arifin Husein. Tidak lebih dari itu, bahwa dalam menjalanken programnya, Djohar memerlukan dukungan yang kuat dari semua stakeholder sepakbola nasional. La Nyalla Matalitti beserta pahlawan lainnya berkomitmen untuk memperkuat kedudukan Djohar sebagai ketuam umum PERSATUAN SEPAKBOLA SELURUH INDONESIA (PSSI). La Nyalla pun mengungkapkan bahwa dia dan kawan-kawannya siap mendukung semua program PSSI demi kemajuan sepakbola Indonesia.

"Kami siap kembali ke PSSI. Demi menyelamatkan sepakbola kita dan sekalian saja memperkuat posisi ketum dari gangguan pihak-pihak yang tidak suka adanya rekonsiliasi" ujar La Nyalla kepada wartawan beberapa waktu silam.

Pasca kembalinya La Nyalla dkk ke "rumahnya" di PSSI, ada beberapa keputusan kontroversial yang diambil oleh PSSI. Yang paling membuat kompasianer pendukung AP kalang kabut adalah pergantian posisi ketua Badan Tim Nasional (BTN) dan pergeseran posisi pelatih timnas, Manuel Blanco digeser ke tim garuda "Belia". Bagi penulis yang berotak waras dan berpikiran maju, tentunya dua keputusan ini menjadi sesuatu yang sangat wajar. Hal ini didasarkan kepada keinginan melihat semua pengurus PSSI berada dalam kondisi soliditas yang baik tanpa polemik. Karena, asumsinya adalah jika PSSI solid tanpa konflik, maka semua itu akan bermuara pada pembentukkan timnas. Tanpa polemik, fsikologi timnas akan bisa tetep terjaga.
Keputusan pergeseran Blanco sangat tepat, mengingat diawal-awal dia mulai menukangi timnas, dia telah membuat beberapa masalah yang dirasa sangat berpotensi merusak harmonisasi di timnas. Bagaimana mungkin ketika pemain timnas yang kelelahan dipaksa berlatih. Namun, ketika pemain meminta diistirahatkan tiba-tiba Blanco memecat pemain tanpa toleransi sedikitpun. Hal yang hampir sama juga terjadi pada Isran Noor. Pada saat pertama penugasannya sebagai ketua BTN. Ia banyak sekali mendapat hujatan di beberapa media, pun hujatan itu juga ramai terdengar di kompasiana khususnya kanal bola. Isran pun jumawa menjadi BTN, dan bahkan tanpa ragu memfitnah Harbiansyah mengelapkan uangnya.
Mahrufin seorang kompasianer sejati belakangan ini gencar menulis artikel yang intinya hanya menjelek-jelekkan PSSI. Artikelnya bisa kita tebak, intinya tidak jelas dan terkesan menabrak realita yang sedang berjalan pada saat ini. Semua tulisannya memiliki kesamaan yang sangat identik dengan tulisan Zen Muttaqin, Manly Villa, tetua "adat" kompasiana yang sangat terkenal dengan segala macam bentuk fitnahannya.

Bertobatlah kalian kafir-kafir !!

Andika Hasrimaidal Khaizan

/ahkhaizan

"Menyembunyikan sebuah kesalahan adalah sebuah kejahatan" "Nasionalisme tidak bisa diukur dengan uang, emas, ataupun statuta" "Saya tidak bisa berbicara, karena saya tidak punya kuasa. Saya punya rasa ingin merdeka, bebas dari diskriminasi dan ketidakadilan. Saya akan melawan, makanya saya menulis"
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?