Arca Ganesha dari Jalatigo, Pekalongan

19 Mei 2017   11:19 Diperbarui: 19 Mei 2017   11:30 31 1 1
Arca Ganesha dari Jalatigo, Pekalongan
Foto 1 Pemakaman umum tempat temuan arca Ganeha| Sumber: Dokumentasi pribadi

Temuan arca dari daerah Jalatigo, Talun, Pekalongan di komplek pekuburan umum pada akhir tahun 2014 cukup menarik perhatian karena hal itu membuat kita perlu melihat kembali laporan penemuan arkeologis yang pernah terjadi di Jalatigo.  Sebelumnya, tahun 1975, Sri Soejatmi Satari (Puslitarkenas ) pernah melaporkan adanya yoni dan dua arca Ganesha di depan kantor perkebunan teh, Jolotigo.  Selain itu beberapa arca dari Jalatigo juga kini berada di Museum Ronggowarsito: tiga arca Ganesha (No. inventaris  04.033, 334 and 512) dan tiga  lingga semu (no. inventaris 04.335, 336 and 337).  Adapun temuan terbaru tahun 2014 ini seluruhnya berjumlah empat arca,  tiga arca dalam kondisi baik sedangkan satu arca dalam kondisi fragmentaris. 

Keempat arca tersebut diidentifikasi sebagai tiga arca ganesha dan satu  arca tokoh.    Arca Ganesha pertama berukuran tinggi 45 cm dan lebar 25 cm terbuat dari batu digambarkan dalam posisi duduk utkutikasana (kedua telapak kaki bertemu), berperut besar, bertangan empat kedua tangan belakang memegang aksamala dan kapak.  Tangan depan diletakan di depan lutut, ujung belalai ke arah kiri, memakai mahkota dan terdapat sandaran arca.  Arca Ganesha kedua berukuran tinggi 35 cm dan lebar 20 cm memiliki bentuk yang hampir sama dengan arca Ganesha pertama hanya saja kondisinya lebih aus dibandingkan dengan yang pertama, berukuran lebih kecil dan mahkota tipe jatamahkuta.  Arca Ganesha ketiga, berasal dari tempat yang sama hanya saja kondisinya sudah fragmentaris.

Bagian yang menarik dari temuan arca-arca Hindu dari Jalatigo adalah temuan arca Ganesha ketiga yang kondisinya sudah fragmentaris karena ditemukan lubang berdiameter 2 cm mulai dari lapik arca dan terus sampai ke bagian atas arca (kepala).   Temuan lubang pada arca batu jarang ditemukan di Indonesia.  Lubang ini tampaknya telah digunakan untuk meletakkan mantra pada bagian dalam arca.  

Mantra yang ditulis di atas lempengan/ lembaran logam bisa terbuat dari emas/ perak/ perunggu kemudian digulung/ dilipat lalu diselipkan pada lubang seperti itu.   Tujuan dari peletakan mantra ini adalah termaktub di dalam ajaran tentang praktek ritual pentasbihan arca dengan mengisi bagian ruang kosong dari tubuh arca dengan lembar logam kecil yang disebut pratisthāsatau dhārmakāyasberisi dharani atau bijas, formula magis atau silabel (Bosch 1961:181). 

Foto 2. Arca Ganesha dalam kondisi fragmentaris|Sumber: Dokumentasi pribadi
Foto 2. Arca Ganesha dalam kondisi fragmentaris|Sumber: Dokumentasi pribadi

Dharmakāyas dipercaya secara umum bahwa sebagai penambah kekuatan - yang secara substansi terakumulasi di dalam sarīrasehingga gambar/ arca yang awalnya mati dibuat menjadi hidup.   Kata-kata suci yang dipercaya sebagai pendukung, pelindung, dan elemen dasar inspirasi kehidupan - merupakan gagasan yang telah ada jauh sebelum Hindu/ Buddha hadir, pada pemikiran orang India pada zaman Rgveda (1933:72; Bosch 1961: 182)  .

Foto 3. bagian dasar arca yang berlubang|Sumber: Dokumentasi pribadi
Foto 3. bagian dasar arca yang berlubang|Sumber: Dokumentasi pribadi

Di dalam Rgvedic hymn X,125 disebutkan :

”..after having performed tapas, Prajapati first of all created the brahman (in the form of) the threefold vedic science (trayi vidyā).  This (brahman) became a foundation (pratisthā) for him (Prajāpati)”. (Bosch 1961:183).

Oleh karena itulah dikatakan bahwa Brahman adalah pondasi untuk Prajapati.  Prajāpati juga menciptakan  air dari Vāc. Vāc adalah dewi dari kata suci (the sacred word) tampaknya dianggap sebagai pendukung kekuatan dan kelahirannya memberikan air terbaik (the primeval waters) untuk kekuatan kreatif.  Konsep ini diekspresikan di dalam Hindu dan Buddha sebagai praktek membuat teks atau formula yang berfungsi seperti pratisthā alam semesta yang diwakili dalam bentuk simbolik.- dalam pandangan ini, tempat brahman, Vac atau representatif lain dari kata suci telah ditempati oleh dharmakāya, posisi paling tinggi dan paling suci dari tiga ”tubuh” Buddha di dalam dokrin Mahāyanā  (Bosch 1961: 183).

Kata dharma di ambil dari akar kata “dhr” artinya untuk mendukung atau menurut definisi yang dikemukan oleh Hodgson kata “dhr” berarti mendukung seluruh fenomena.  Hal ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa dharmakāya mewakili konsep yang dekat hubungannya dengan brahman di dalam hubungannya dengan pratisthā (1899:291: Bosch 1961:183).

Kata “ Brahman” meskipun kata tunggal tetapi memiliki dua sifat yakni, Brahman tidak berwujud (avyaktam) dan Brahman berwujud (vyaktam).  Brahman tidak berwujud harus dipahami sebagai suatu zat, diwujudkan di dalam altar  tetapi keberadaan tidak aktif.  Brahman yang berwujud, untuk mengaktifkannya diperlukan kata-kata yang puitis yang menginspirasi kehidupan dan membuat pratisthā yang mendukung dan memperkuat para dewa yang turun di altar (Bosch, 1961: 188).

Konsep Brahman yang memiliki dua sifat ini kemudian diikuti di dalam konsep Buddha.  Diyakini bahwa Buddha juga memiliki dua eksistensi: rūpakaya atau tubuh fisik Buddha dan dharmakāya atau intisari tubuh, yang murni dan kekal.  Rūpakaya pada Sakyamuni akan rusak dan hilang setelah eksistensinya di dunia berakhir tetapi dharmakāya – esensi dirinya- selalu ada, menjadi tidak terpengaruh waktu atau apapun di dunia.   Dengan kata lain rūpakaya dari Buddha adalah tubuh kasar dan dharmakāya adalah ruh yang tak terbatas sangat esensi dari kebuddhaan (Chutiwongs, 1984 :18).

Prinsip dua kaya (rūpakaya dan dharmakāya) ini kemudian menjadi penggabungan “relik /dharmasarīra” di stupa, dan praktek mengisi ruang kosong pada arca dengan mantra. Mantra mempunyai peran sebagai dharmakāya (wujud rohani) dan arca sebagai rūpakaya (wujud fisik).  Penggabungan keduanya pada arca yang awalnya mati akan menjadi hidup.

Praktek mengisi ruang kosong pada arca ini juga ditemukan pada arca-arca perunggu dari Desa Kunti, Nganjuk.  Di dalam arca tersebut diselipkan gulungan yang terbuat dari perak dan emas dengan inskripsi yang berbunyi ”om hung phat” artinya mendapat kebebasan”.  Inskripsi-inskripsi pendek ini sangat penting karena arca yang dipuja dalam haruslah “dihidupkan” dengan memberi mantra-mantra  (Ferdinandus, 1995: 22).  Praktek ini pula tampaknya diterapkan pada temuan satu arca Ganesha di Jalatigo sehingga dari bagian dasar dibuat lubang sampai pada bagian kepala arca lalu mantra-mantra dimasukkan ke dalamnya.