Agus Sutisna
Agus Sutisna Pegawai Swasta

Akademik LCC Tasikmalaya

Selanjutnya

Tutup

Novel

Trainer #4

20 April 2017   10:21 Diperbarui: 21 April 2017   09:56 50 0 0
Trainer #4
download-58f82b962623bd56068c3d1f.png

Hai. Identitasku adalah Susan Nevada.

Datang dari masa depan.

“Duduklah!” Seorang guru menyuruhku mendekat.

“Akan aku ajarkan ilmu pengetahuan padamu!”

Aku menutup daun netbook dan mendekati guru. Apa yang akan kudengar mungkin tidak akan pernah terdengar orang lain.

Guru memegang telapak tanganku begitu lama. Aku tak berniat untuk melepaskannya. Suatu hal yang mungkin tidak terlihat normal. Tapi bagi kami ini normal. Aku mengambil nafas dalam-dalam sesuai perintah dan menghembuskannya.

“Bukalah matamu. Dan kembali beraktifitas seperti biasa.” Guru mengakhirinya. Aku kembali ke tempat dudukku dan kembali membuka laptop. Apakah kau mendengar yang guru ajarkan?

Aku mengetikan sesuatu di aplikasi. Lalu mensharenya. Aku harap orang lain bisa memahaminya. Tidak lama kemudian muncul tanda like dan sebaris komentar.

“Kau masih betah tinggal disana dan mengikuti semua ajarannya?” memang nadanya tidak terdengar mencemooh tapi aku merasakan sedikit, sedikit rasa penghinaan.

“Kau sebut dirimu manusia pilihan?” Aku membacanya seperti tertohok.

“Oh Tuhan apa yang merasuki otakmu! Sadar!”

Mungkin kalimatnya seperti memerintahkan aku untuk meninggalkan sekolah ini. Tapi aku tak akan terpedaya lagi. Berita-berita hoax yang mencul di sekolahku semakin menjadi-jadi dan menjadi viral di media sosial.

Ya. Aku tidak menutup telingan dan mata. Aku membaca semua komentar-komentar tidak berbukti itu. Apa yang mereka maksud. Sedangkan mereka ada di luar sana. Aku menutup laptopku dan mendekati guru.

“Sampaikan padaku informasi yang kamu peroleh padaku.” Guru memegangi telapak tanganku lagi. Aku kembali terlelap dan terasa tenang. Kegelapan ketika menutup mata bukan sesuatu yang menyeramkan tapi itu adalah suatu dimensi dimana kehidupan nyata terjadi. Warna hitam adala gerbang. Konon siapa yang bisa merubah warna hitam dalam kegelapan berarti ia telah masuk ke level yang lebih tinggi. Dan aku ingin mendapatkan hal seperti itu.

Aku kembali ke depan leptopku dan mengerjakan logaritma. Lalu membuka slide untuk membuat materi ajar. Aku rasa sudah penuh dayaku. Aku melepaskan kabel ditanganku dan menempatkan alat chargernya ke tempat semula.

Tubuhku mulai terasa membaik dan perkembangan sel ku makin kuat. Aku sudah siap untuk kembali ke dunia luar.

Dalam keseharian seorang pengajar tidak jauh-jauh dengan guru. Sebab seorang pengajar perlu bantuan pengetahuan lebih banyak. Selain menerima transfer ilmu dari guru, sesama pengajar pun bisa mentransper ilmu ke sesama pengajar lain.

Seperti yang akan aku lakukan sekarang pada pengajar yang bernama ‘Nukil’. Ia salah satu angkatan sama yang bekerja sebagai pengajar.

“Kau punya informasi yang baru, Nukil?’” Aku menyapanya dan ia mendekat.

“Aku kira aku telah menjatuhkan informasiku setelah terjatuh tadi. Jadi kumohon beri aku informasi kembali.” Ia yang kukira punya informasi lebih ternyata telah rusak.

“Kemari pegang tanganku!” Dari sela-sela jemariku keluar untaian seperti kabel yang saling terhubung dengan untaian di tangannya. Dan itu sungguh kenikmatan yang luar biasa. Sampai aku tak mampu membuka mata karena saking menikmatinya.

“Kukira kau telah mencapai level tertinggi.” Aku melepaskan ikatanku.

Dan tiba-tiba seluruh tubuhku bergetar. Seluru dayaku habis olehnya. Aku merasa kelelahan yang luar biasa. Seperti inilah proses yang harus dihadapi sebagai seorang pengajar. Aku membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk pulih. Dan dalam keadaan lemah seperti itu. Kami berdua berdiri mematung.

Aku bekerja di sekolah ini sudah sekitar sepuluh tahun. Tidak ada yang aneh bagiku. Hanya memang murid disini tidak biasa, mereka mempunyai kecerdasan di luar kebiasaan. Anak-anak ini tidak jauh dari gadget dan teknologi. Bahkan aku sama sekali tidak dapat membedakan antara kulit dengan mesin.

Aku duduk di meja Trainer dan menghubungkan listrik. Aku mau menanggapi para haters di media sosial.

Seseorang yang sama sekali tidak kukenal memberi komentar pedas. Berulangkali ia menyuruhku untuk kembali. Aku tidak tahu maksudnya. Sementara aku menyalakan hub yang terhubung ke komputer miliknya. Dan aku melihat siaran langsungnya lalu tetiba ia tersengat arus listrik.

Selesai. Ia tidak akan mengganggu lagi.

Pagi ini aku bertugas untuk membangunkan anak-anak asrama. Lampu kuhidupkan dan otomatis anak-anak itu bangun dengan sendirinya. Lalu mereka mengikutiku ke kelas.

“Pelajaran hari ini adalah membuat senjata dengan benda disekitar kita.”

Anak-anak sangat antusias. Mereka mencari data di komputer mereka dan menemukan cara yang lain.

“Tugas dikumpulkan minggu depan!” Aku pamitan dan meninggalkan kelas. Sementara anak-anak itu masih duduk di ruang kelas. Aku lupa mematikan lampu.

Nukil mendekatiku, ia mempunyai informasi baru. Ia menghubungkan tangannya padaku dan aku memperoleh informasi itu.

“Benarkah yang aku dapatkan ini?” Aku kaget luar biasa.

Manusia yang kuanggap musuh ternyata adalah bagian dari masa laluku. Aku menemukan data yang lain. Selama ini aku hanya mengajari robot agar berprilaku sebagai manusia. Sementara kami bersepakat untuk tidak mendekati umat manusia.

“Betul Susan, kau dulunya manusia.” Sang guru datang dari arah yang tidak diketahui.

“Mari ikut akan aku jelaskan bagaimana kami menemukanmu.”

Nukil dan aku mengikutinya ke sebuah aula besar. Disana berdiri kamar-kamar kaca berisi robot yang berwujud manusia.

“Kami tidak sengaja menemukanmu di perbatasan perang. Dengan luka serius di seluruh tubuh. Kami mencoba menyelamatkanmu dengan segala upaya. Kami menebar mesin di tubuhmu. Dan itu mempengaruhi memorymu.”