Semoga Bunda Disayang Allah (Bukan Sekedar Resensi)

23 Juni 2012 19:29:27 Dibaca :

@Sahabat_Kaka


Ini bukan sekedar resensi buku tapi pengalaman penulis saat jadi sosok pembaca. Buku yang ditulis oleh Darwis Tere Liye ini begitu sangat saya rekomendasikan.



Hari itu aku sangat resah dan kangen keluarga terutama ibu; aku ingin pulang. Aku berada di suatu desa diperbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah; di kecamatan Mekarsari; berdampingan dengan kecamatan Rancah yang masih berkawasan di kabupaten Ciamis. Aku saat itu mengikuti kegiatan pengabdian yang dilaksanakan pihak universitas. KKN (Kuliah kerja Nyata) di daerah.


Kegiatan yang dilakukan disana adalah mencoba untuk berbaur dengan masyarakat; dan memberi kontribusi selaku generasi penerus. Kegiatannya lumayan rutin. Dan hanya ada waktu sore hari untukku menyamankan diri. Menikmati kopi hangat; susu hangat atau secangkit teh hangat. Sambil menikmati hujan dan membasuh badan agar tetap segar.


Disaat kawan-kawan yang lain sedang asik menonton acara hipnotisnya Uya kuya. Aku mengambil sebuah buku tebal milik kawanku; yang kuliah di jurusan sastra Indonesia. Ada dua buku diatas lemari dekat televisi itu. Tebal sekali. Jika tidak suka ceritanya mungkin tidak akan sampai akhir membacanya. Aku mengambil satu judul dan aku pinjam sama kawanku itu. Aku baru tahu kalau novel-novel itu akan dijadikannya sebagai bahan penelitian. Aku baca dulu ya!!


“Semoga Bunda di Sayang Allah” judul tercetak tebal dengan gambar anak perempuan yang sedang berada diantara pohon-pohon dan alam sekitar. Lebih mirip buku pelajaran biologi. Semenjak aku buka dan kuhirup wangi kertasnya aku merasa nyaman; rileks dan tenang. Aku siap mengarunginya.


Aku tak salah baca buku; ini novel pertama yang membuatku tergila-gila dengan sastra. Aku tak tahu kalau novel itu ternyata enak dibaca. Aku kira bahasanya akan rumit dan penuh kiasan yang sulit dicerna. Seperti drama kolosal yang tak pernah aku mengerti dialognya.


Adalah sebuah bacaan yang aku rekomendasikan bagi mereka yang peduli dan mau peduli sama mereka para penyandang. Saat aku membaca pada bab pertama sangat rumit; dengan arah cerita; tokoh; latar dan alur yang diaduk-aduk. Begitu cepat seperti beberapa film barat yang menaruh tayangan penasaran diawal cerita.


Pada bab pertama aku menemui beberapa tokoh Karang; seorang yang ampun berantakan; seorang gadis kecil yang bermain di pantai bersama orang tuanya; berlibur dengan topi berbunga-bunga; Pula seorang gadis kecil yang tertawan ombak bersama beberapa anak lain; Berteriak “Tolong”.. dan “Bertahan sayang!!”; Pula seorang wanita muslimah yang bermata indah dan seorang ibu yang selalu bermimpi anak gadis menyebut kata “Aku sayang Buda; Semoga Bunda di sayang Allah”


Semua tokoh mencampur jadi satu; dimiks sampai pas. Benar-benar mempermainkan pikiran dan perasaan.


Satu hal yang bisa saya bedakan dengan novel yang selama ini aku baca; adalah semua tokoh-tokoh dalam novel ini begitu kuat karakternya; sehingga kita bisa merasakan bagaimana menjadi tokoh-tokoh tersebut secara berbarengan. Entahlah biasanya hanya pemeran utama saja yang bisa dikatakan “ini gue banget!” tapi dalam novel ini kita bisa merasakan empati dari berbagai tokoh-tokohnya. Benar-benar mempermainkan perasaan.


Bagaimana kita merasakan sebagai Karang; sosok pemuda berantakan; yang dekat dengan minuman keras dan tidak pernah memangkas rambutnya. Begitu kacau hidupnya karena merasa bersalah akibat kelalaian yang entah siapa yang lalai. Tapi ia merasa dialah yang salah. Dunia tidak menyalahkannya atas kejadian 15 tahun yang lalu. Tak ada seorangpun yang menyalahkannya. Tidak pula ibu gendut itu.


Tapi rasa sayangnya pada anak-anak membuatnya ingin mengakhiri hidupnya.


Kalau saya berimajinasi bisa diibaratkan seperti Kak seto; seorang yang memberikan hidupnya pada anak-anak. Dalam cerita ini Karang demikian namanya. Bagaimana perasaan seorang beliau jika dengan tidak sengaja membuat celaka anak-anak. Hingga tewas dimakan ombak ganas.


Waktu pertama aku membacapun. Aku terkecoh dengan nama Karang tersebut. Karena latarnya di pantai; penuh ombak dan mengkoyak-koyak kapal. Saya kira Karang berupa batu karang.


Tepat sekali penulis memberi nama Karang padanya. Karena keras sekali hatinya. Beberapa surat yang datang tak pernah dibalasnya. Tidak pada gadis berjilbab itu; tidak pula pada ibu yang setiap bulan menunggu balasan suratnya.


Seorang ibu yang benar-benar menginginkan kebahagiaan anaknya mencoba merendahkan diri dihadapan keluarga Karang. Seorang istri dari suami terkaya di kota tersebut. Bahkan ia rela menginjak perumahan biasa demi menyembuhkan anak perempuannya. Ibu pengasih itu hanya ingin anaknya bisa menyebutnya Bunda; itu saja.


Tidak ada lagi yang bisa mengerti bahasa ibu kecuali Karang; Tidak ada yang bisa mengerti bahasa anak-anak kecuali Karang. Pada Karanglah dunia meminta untuk membantu ibu yang mencari jalan itu.


Hampir tak ada yang bisa mengobati anak perempuannya. Dokter yang dia datangkan dari luar negeri pun angkat tangan dan malah membuat marah anaknya. Seperti tek terkendali dan lebih parah lagi ada dokter yang menyebutnya tidak waras; gila. Hati ibu mana yang tak tersengat saat ada orang memanggil anak kesayangannya seperti itu.


Anak yang manis; yang hanya bisa menangis dan tak tahu apa yang akan diucapkannya. Anak penyandang Tuli; Buta dan otomatis akan Bisu karena tidak mengeri bahasa dan dunia luar.


Dunia yang begitu kejam. Anak sekecil itu tidak mempunyai daya. Dunianya gelap dan sepi. Hanya sentuhan tangan ibunya yang bisa menenangkan hatinya. Fitrah. Ya naluri seorang anak terhadap bundanya; dan naluri seorang bunda terhadap anaknya.


Aku tak tahu bagaimana merasa menjadi seorang yang buta dan tuli; yang otomatis bisu. Apakah ada harapan baginya? Bagiku jika itu aku? Tapi aku bersyukur punya bunda yang mau merawat kelemahanku; ketidaksempurnaanku; ibu yang selalu berupaya mencari jalan. Pulang pergi ia menemui pemuda bernama Karang yang diceritakan dunia itu. Mirip seperti perjuangan ibu Hajar yang mencari air untuk meredakan tangis ismail. Berulang kali mengirimkan surat dan bertamu diperumahan kumuh. Dilakukannya juga.


Tapi karang bukannnya tidak peduli; tapi rasa bersalahnya pada peristiwa yang menewaskan anak perempuan itu. Membuatnya ingin menjauhi anak-anak agar tidak terjadi kejadian seperti 15tahun yang lalu itu. Peristiwa tragis kapal yang terkena badai.


Karang pasti bisa!!! Karang mohon bantu ibu dan anak manis itu. Saya mohon.

Agus Sutisna Djunaidi Dilli

/agussutisna

Pegawai Swasta - Akademik LCC Tasikmalaya
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?