Agus Sutisna
Agus Sutisna Pegawai Swasta

Akademik LCC Tasikmalaya

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bumi Perkemahan #5

20 April 2017   14:13 Diperbarui: 21 April 2017   09:59 43 0 0
Bumi Perkemahan #5
download-58f97585717a61ef08e10bd7.png

Hening suara pagi. Melepuhkan seluruh udara dan embunnya. Terdengar tetesan embun ketika telinga mencium perut bumi. Ada pergerakan yang terjadi. Tidurnya tidak nyenyak. Seringkali terbangun ketika ada pergerakan sedikit pun. Terdengar.

Sam memejamkan mata kembali dan mengulang hapalan mantra. Berharap kesempatan ia dapat kembali merajut mimpi. Terkadang tidak.

“Haha …“ Suara tawa menyadarkannya. Terkaget dan membuat matanya terbelalak. Dihadapannya tenda bergetar dan tetesan embun terlihat.

“Ayo lekas bangun. Kita berkumpul di lapangan.” Seorang pemuda yang bermata sipit memutar badan dan menawarkan pegangan tangannya pada Sam.

Pemuda itu membereskan tempat tidurnya dengan tergesa-gesa. Sementara Sam masih duduk menatapnya lama-lama. Lalu ia mendekati Sam dan membereskan tempat tidurnya, dan melap mukanya.

“Bangun, Sam!”

Sam membuka matanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi. Namun tidak ia temukan apa yang diingat. Sepertinya seseorang menghapus rangkaian memori di otaknya.

“Makan roti dulu!” Pemuda itu menyelupkannya di sebuah gelas yang berisi susu. Sam terima ajakannya lalu berkumpul di lapangan.

Orang-orang membentuk lingkaran penuh dan mengucapkan mantra-mantra. Sam tidak dapat mendengarnya secara jelas. Mana mungkin bisa ia hapal. Sementara sendi-sendinya masih kaku, lemas seperti bangun dari sakit yang panjang.

Salah satu dari mereka memberi aba-aba untuk membubarkan diri dan kembali ke tenda-tenda. Ia adalah pemimpinnya. Ketua namanya. Sam hanya bisa mendengar pembicaraan mereka, tanpa sedikitpun berusaha untuk bicara.

“Namaku Lee, Senang satu tenda denganmu, Sam. Kau dari regu mana?” Lee menanyainya dan memberi Sam sedikit potongan roti dan sedikit air susu. “Kalau belum memilih regu, masuk regu kita aja!”

“Baiklah.” Aku memasukan sedikit roti dan sedikit susu. Aku melihatnya hati-hati ketika menelannya sekarang. Sungguh tidak ada lagi roti tersisa.

“Ini roti terakhir.” Ia berucap. “Tapi aku akan senang ketika kau mau jadi reguku.”

Ia tertawa senang. Dikiranya dapat undian lotre. Tapi aku belum paham. Setiap aku bangun selalu saja di tempat yang berbeda. Tapi Lee hampir tidak asing bagiku.

Lee. Baiklah aku turuti saja, aku akan melakukan hal yang wajar dan tidak mencurigakan orang. Mungkin karena aku telah terbiasa seperti ini. Sekali aku bertindak dan mengaku hilang ingatan pasti aku didiskualifikais. Dibuang, dianggap gila dan diasingkan.

Mulai sedikit demi sedikit ingatanku pulih. Aku mengingat darimana aku berasal. Sekilas ada bayangan semasa kecil. Tapi aku heran kenapa aku ada di tempat ini. aku mengalami sedikit gegar otak barangkali.

Hampir saja aku terbuai dengan kilasan masa lalu yang indah bersama keluarga. Namun aku masih tidak yakin apakah itu memoriku atau bukan. Aku masih berpikir ada yang menyuruhku mengingat suatu kenangan orang lain hingga aku yakin jika itu semua adalah kenanganku.

 “Sam, ada yang ingin aku bicarakan!” Sengaja ia tutup tendanya. Dan hanya cahaya handphone yang ada di tengah kita. Rasanya seperti privasi. Aku agak risih juga.

Aku melihat sinar di wajahnya. Apa yang akan ia katakana. Menanyai asalku? Aku sudah tahu darimana asalku. Alasanku bergabung di team ini? aku sudah tahu harus mengatakan apa.

Aku terpilih sebagai team kandidat. Begitu yang kudengar ketika yang lain bercerita. Meskipun aku belum yakin apa sebenarnya team kandidat.

“Kau sudah memili regu?” ia  mulai mengatakan pertanyaan. Sungguh diluar prediksiku. Kenapa ia menanyakan hal yang belum aku ketahui.

Aku menggeleng.

“Baiklah, nanti jika ketua datang kesini. Kamu mau bergabung dengan regu ku saja ya.”

“Apa hebatnya regumu?”

Ia membuka tasnya. “Aku punya peta jalan keluarnya!’’

Aku melihat gulungan tipis. Diikat semacam tali dan disimpan di tempat yang tidak mungkin orang menyangkanya.

“Peta jalan keluar?”

Ia menekan pahaku dengan keras.

Dan ya ketahuan.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Orang yang dinamai ketua datang.

Ia mengambil tas Lee. Membukanya dan memuntahkan isinya. Aku sempat khawatir kulihat wajah Lee sangat merah ketakutan.

Tapi tidak ada apa-apa. Hanya potongan roti dan sekaleng susu.

“Dasar anak pencuri!” Lee mendapatkan satu tamparan dan tendangan dari ketua. Aku tidak tega melihatnya. Tapi apa yang harus aku lakukan? aku melihatnya dibawa ke tenda lain.

“Sam, kemari ada yang ingin aku bicarakan!” ketua memandangiku.

“baik, ketua.”

Aku diajak ke tenda sebelah yang lebih besar. Ada Lee disana. Ia mendapatkan tanda merah di wajahnya. Kasihan ia. Tidak sadarkan diri.

“Duduklah!” Ketua merapikan tempat duduknya dan membawa catatan kecil dihadapanku.

“Sam, ada yang ingin Ketua bicarakan.” Ia memulai pembicaraan.

Aku tak paham kenapa mereka berkomunikasi dengan bahasa yang kaku dan tidak banyak perbedaharaan kata. Terdengar sama dari ucapan orang-orang diperkemahan ini. Termasuk Lee.

“Coba sekarang kamu pilih yang mana?” Ketua menyembunyikan suatu benda di kedua kepalan tangannya. Dalam hati aku tertawa, “ini apa?”

Aku menunjuk satu diantaranya. Lalu ia membuka kepalannya. Ada totem berbentuk Daun. Ditangan sebelahnya ada totem berbentuk batu. Apa maksudnya? Lalu ia mengepalkan kembali tangannya.

“Coba sekarang kamu pilih yang mana?”

Aku memlih lagi. Dan ketua memperlihatkan totem berbentuk Listrik dan totem berbentuk api. Lalu kembali membuat pertanyaan lagi. Memperlihatkan totem yang lain.

“Baiklah, kurasa aku tahu regu mana yang akan cocok buatmu.”

Aku teringat ucapan Lee. Tapi bodohnya dia atau bodohnya aku yang tidak menanyakan nama regunya. Semoga pilihanku sama.

“Kembalilah ke tendamu. Dalam waktu sepuluh menit kau dan yang lain berkumpul sesuai regu kalian. Paham!”

Aku berdiri paling depan sesuai totem yang diberikan. Totem api. Tapi aku tidak melihat Lee. Entah dimana ia.

Seluruh pengikut berbaris sesuai totemnya masing-masing. Aku tidak bisa menghitung berapa jumlahnya. Ini seperti lautan manusia yang tidak ada hujungnya.

Seseorang dari setiap regu totem berdiri paling depan, dan menghadap kami para pengikut. Di telinganya ada semacam alat panggilan.

“Perkenalkan nama saya Bras Katanji, mulai detik ini saya adalah pemimpin regu ini. harap kalian bisa memperkenalkan diri.”  Pemuda yang bertubuh tegap itu membuat lingkaran kecil sehingga kami bisa saling memperkenalkan diri.

“Hallo, Saya Koda saya anak pelaut dari selatan. Saya ikut kandidat ini untuk memperjuangkan kehidupan nelayan di kotaku.” Aku melihat tato laut di dadanya. Motif yang belum pernah kulihat.

“Hallo, Saya adidah. Saya seorang atlet pemanah. Saya bergabung di Kandidat ini atas undangan dari kampus.” Aku melihat busur panahnya. Aku teringat cerita hunger game ketika kusapa jabatan tangannya.

Aku masih melihat ketidak hadiran Lee di tengah-tengah kumpulan kami. Apakah ia tidak satu grup.

“Sam kau mencari siapa?” Bras melihatku gelisah.

“Lee, anak yang satu tenda denganku.”

“Ia sudah seminggu ini dikeluarkan dari team kandidat karena ketahuan mencuri.” Bras menjelaskan tanpa memandang wajahku. sehingga kesulitan bagiku mengajukan pertanyaan lain.

Yang kuingat ia memegang peta jalan keluar. Aku tidak mengerti ia melarikan diri dari apa.

“Hallo, aku Sya. Maafkan keterlambatanku aku baru dijemput sejak pendaftaran. Kukira aku tidak akan diundang di Team kandidat ini.” ia mengeluarkan buku catatannya dan mencatat semua nama semua team.

Aku melihat gulungan yang diikat. Hampir mirip dengan yang dimiliki Lee. Aku makin penasaran dengan ikatan itu.

Peluit ditiup keras dan panjang. Kami diperjalankan ke rute panjang. Kami harus mengumpulkan seluruh totem dan merebut totem dari regu lain.

“Tidak ada yang bisa keluar dari sini hidup-hidup sebelum kalian dapatkan totem dan merebut bendera di puncak itu!” suara menggema terdengar keras.

“Apa maksudnya candaan ini!” Koda mendengarnya serasa neraka. Aku juga sama tapi aku masih ingin tahu ini tempat apa.

Kami berlari menuruni bukit, hingga terjungkil dan bergulung-gulung menahan rasa sakit. Antara tertawa karena geli dan pedih tubuh kami terkoyak-koyak kawat berduri.

Banyak anggota dari setiap regu yang kehilangan anggotanya, karena tertusuk tumbak di perbatasan. Terjerat kawat berduri hingga lehernya putus dan tubuh yang terputus karena terjatuh dari ketinggian.

Mulai dari sana suasana menjadi serius. Ini bukan latihan, ini adalah penyeleksian. Yang akan menyisakan team terkuat dan bertahan hidup paling lama ia yang akan menjadi kandidat.