Agussalim Paradeden
Agussalim Paradeden Mahasiswa

Agussalim Paradeden dilahirkan di Bajo, kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 1 september 1996. Menyelesaikan pendidikan pada Sekolah Dasar Negeri Bajo (2008), Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Soromandi (2011) dan SMAN 3 Kota Bima (tamat tahun 2014). Melanjudkan studi di Strata 1 Universitas Muhammadiyah Makassar Konsentrasi Pendidikan Seni Rupa. Penulis sekarang aktif di beberapa organisasi, di antaranya Anggota Himpunan Mahasiswa Islam(HMI), Anggota BEM FKIP Unismuh Makassar, Anggota HIMASERA UMM, KOPA (Bima-Dompu-Makassar).

Selanjutnya

Tutup

Muda

Dalam Keadaan Tertekan Kita Tidak Memiliki Apa-apa Kecuali Allah Semata

18 Mei 2017   14:20 Diperbarui: 23 Mei 2017   14:11 102 0 0
Dalam Keadaan Tertekan Kita Tidak Memiliki Apa-apa Kecuali Allah Semata
dokumentasi pribadi

"Semoga engkau tetap menikmati hidup, mesti kenyataan hidup pahit. Dan, semoga engkau tetpa bergembira, ketika semua orang bersungut-sungut."

Ketika kesedihan datang, kesedihan bergelayut, kedukaan kian parah, jalan serasa semakin sempit dan daya-upaya menjadi percuma, maka seseorang akan berteriak kepada Allah: "Wahai Allah, wahai Allah, Tidak ada tuhan selain Allah yang maha agung dan maha bijaksana tidak ada tuhan selain Allah tuhan pemilik Arsy yang agung tidak ada tuhan selain Allah tuhan pemilik Langit, bumi dan Arsy yang agung." Maka, kesedihan lenyap, bencana menghilang dan kesulitan teratasi. 

"Maka kami kabulkan permintaanya dan kami selamatkan dari kesedihan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anbiya : 88)

"Tidak ada satupun nikmat yang ada pada kalian kecuali semuanya dari Allah. Apabila kalian didera marabahaya, maka kepada-Nya kalian tersedu-sedu." (QS. An-Nahl :53)

Ketika rasa sakit yang mendera seseorang semakin bertambah, sehingga tubuhnya melemah, warna wajahnya memucat, tiada daya dan upaya, segala cara sia-sia, dokter pun sudah angkat tangan, jiwa mulai mengeluh, tangan tak mampu digerakan, hati sudah tak punya lagi harapan, maka orang yang sakit itu pasrah menghadapkan wajahnya kepada Zat yang Maha Tinggi sambil berseru: "Wahai Allah, wahai Allah. Maka, penyakit itu akan hilang, penderitaan akan larut dan do'a akan didengarkan: " Ketika Ayub berseru kepada tuhanya, sungguh aku telah ditimpa kemalangan dan engkau adalah Zat yang Maha Mengasih. Maka, Kami kabulkan seruannya dan kami hilangkan kesulitan yang menimpanya. Kami datangkan keluarganya dan orang-orang yang seperti mereka sebagai kasih sayang dari kami dan peringatan bagi orang-orang yang menyembah." (QS. Al-Anbiya : 83)