HIGHLIGHT

Kucing

19 November 2012 12:01:23 Dibaca :
Kucing
-

Cerpen Agus Pribadi

Malam dingin. Aku dan Bejo berboncengan sepeda motor menuju ujung desa tetangga. Pertunjukan wayang kulit telah menarik hati kami untuk menuju ke sana. Tepatnya, gadis-gadis cantik yang ikut menonton pertunjukan itu yang membuat kami, bujang kampung sangat tertarik ingin segera ke sana.

“Jangan ngebut, Jo!” Protesku ketika Bejo tancap gas dengan kecepatan tinggi.

“Tenang saja, Dul!” Bukannya memperlambat laju sepeda motor, Bejo malah semakin mempercepat laju motornya. Aku mempererat pegangan tanganku di pundaknya.

Bejo seperti tak terkendali. Aku curiga dia habis minum-minuman keras, bau alkohol menyeruak dari mulutnya. Ia seperti tak mempunyai rasa takut.

“Awas, Jo ada orang!” Teriakanku terlambat. Seorang lelaki baya telah tertabrak sepeda motor yang dikemudikan Bejo. Lelaki baya itu berguling-guling terlempar membentur pohon di tepi jalan untuk kemudian tak bergerak. Aku dan Bejo pun terjatuh, namun tak mengalami luka parah.

“Jangan kabur Jo!”

“Ayo mau ikut tidak? Kalau tidak, nanti kamu dikejar massa lho!”

Aku celingak-celinguk. Sepi.

Dengan terpaksa aku ikut lagi dengan Bejo yang dengan tergesa-gesa menghidupkan sepeda motor dan melaju menuju jalan yang lebih sepi. Kami tidak jadi menonton wayang. Perasaanku dan juga mungkin perasaan Bejo sangat was-was.

Adakah orang yang tahu kejadian kecelakaan itu?

Bagaimana nasib orang yang tertabrak itu, benar-benar matikah?

Jika mati, siapa yang akan mengurus jenazahnya?

Jika ada orang yang melihat kejadian itu, akankah dilaporkan ke polisi?

Jika dilaporkan ke polisi, akankah aku dan Bejo dipenjara?

Inikah yang bernama tabrak lari?

Sepanjang perjalanan, entah kemana, kami tidak berbincang-bincang. Kami larut dengan pikiran masing-masing. Pikiran tentang kejadian yang baru saja menimpa kami, menabrak seorang lelaki baya sampai tak bergerak. Kami melarikan diri karena takut dihakimi massa.

“Awas Jo, ada kucing!” Lagi-lagi aku berteriak. Dan lagi-lagi terlambat. Seekor kucing hitam bertubuh gemuk tertabrak sepeda motor kami. Kepalanya nyaris pecah bersimbah darah. Kucing itu tak lagi bergerak. Teronggok di tepi jalan.

“Kita kuburkan, Dul!” Bejo membawa kucing itu lebih menepi. Bau amis darah kucing menyengat hidung.

“Lho, tadi ada orang tertabrak, kamu tidak menolongnya. Sekarang ada hewan yang tertabrak kamu akan menguburkannya?”

“Ini lain Dul. Kalau kucing aku tak berani mengambil resiko. Setahuku tidak ada orang yang berani meninggalkan kucing mati karena tertabrak. Pasti si penabrak akan menguburkan korbannya yang berupa kucing itu. Mereka takut terjadi kenapa-kenapa kalau menelantarkan kucing yang mati atau terluka parah, Dul. Dan kalau pun ada yang nekat menelantarkan kucing yang telah tertabraknya, pasti akan mendapat sial.

Kamu tahu, si Kasdut mengalami kecelakaan setelah menabrak kucing sampai mati dan menelantarkan kucing itu. Ada lagi pengendara mobil yang menabrak pohon setelah meninggalkan kucing mati karena ditabraknya. Dan masih banyak lagi kejadian seperti itu, Dul.”

“Kucing yang terluka atau mati karena tertabrak kendaraan kita memang seharusnya kita urus, Jo. Tapi masalah nasib itu urusan Tuhan. Kalau perilaku kita baik dan sikap kita jujur, maka Tuhan akan selalu bersama kita. Dan seharusnya kamu tadi menolong orang itu, Jo. Dia juga manusia sama seperti kita. Ini namanya kita telah melakukan tabrak lari. Kalau ketahuan polisi kita bakal ditangkap!”

“Kamu jadi laki-laki jangan penakut sih! Coba kalau tadi kita ketahuan orang-orang kampung. Kita bakal dikroyok sama mereka karena telah menabrak mati lelaki itu!”

“Kamu brengsek, Jo!”

“Sudah kalau mau ribut nanti saja. Kita kubur dulu bangkai kucing ini!”

Bejo menggali tanah di tepi jalan dengan kayu yang tergelatak di tempat itu. Kucing yang tak bernyawa itu dimasukannya ke dalam lubang itu. Diurug kembali dengan tanah sampai rata dan ditutupi daun-daun kering oleh Bejo.

“Nah, sekarang kamu maunya apa, Dul?”

“Kamu maunya apa?”

“Kita berkelahi!”

“Ayo, aku tidak takut padamu, Jo!”

Kami menuju lapangan yang tidak jauh dari tempat menguburkan kucing yang telah mati. Di lapangan itu kami berkelahi. Tubuh Bejo gempal dan kelihatan keras sekali. Aku memukul perutnya, tapi Bejo seperti tak merasa sakit. Bejo balas memukul perutku, perutku perih sekali. Aku tersungkur. Bejo mengayunkan kakinya. Namun aku berhasil menghindar dengan berguling di tanah lapangan. Bejo menubrukku. Kami saling berguling-guling seperti dua ekor kucing jantan yang sedang berkelahi memperebutkan kucing betina.

Sekitar setengah jam aku dan Bejo berkelahi. Kami kelelahan, dan sama-sama kehabisan tenaga.

“Kamu hebat, Dul!”

“Kamu juga hebat, Jo!”

Kami pun berjabat tangan, saling memaafkan.

“Kita pulang, Dul!”

“Ayo!”

Sepeda motor yang kami tumpangi kembali melaju, memutari jalan kampung agar tidak melewati jalan dimana kami menabrak lelaki baya tadi. Kami tidak ingin menanggung resiko, dikeroyok orang-orang kampung.

Sesampai di rumah, aku menenangkan diri dalam kamar. Aku mencoba memejamkan mata, namun tak berhasil. Bayangan orang yang berguling-guling dan bayangan kucing hitam yang mati bersimbah darah selalu menari-nari dalam kepalaku.

Bejo teman karibku, yang selalu bermain bersamaku sejak masih kecil sampai saat ini. Bejo yang dulu waktu di sekolah dasar selalu ingusan, kini telah menjadi bujang yang tak bertanggung jawab.

Menjelang subuh, aku baru bisa terlelap. Meninggalkan sejenak gundah di dada ini.

***

Hari-hari berlalu. Lelaki baya yang kami tabrak benar-benar telah meninggal. Kabar itu aku dapat dari pembicaraan orang-orang di pos ronda.

“Wah tega sekali yang menabrak lelaki itu, bukannya menolong malah melarikan diri. Lelaki itu tewas di tempat.” Ucap seorang petugas ronda.

“Iya, giliran kucing yang tertabrak, kalau mati pasti akan dikuburkan. Kalo luka-luka pasti akan dibawa pulang dan diobati. Tak ada yang berani meninggalkan kucing yang mati atau luka parah.” Timpal petugas ronda yang lain.

“Iya, kucing itu hewan. Sedangkan manusia adalah manusia sama seperti kita. Kalau dengan hewan saja ada rasa kasihan, dengan manusia juga harusnya lebih ada rasa kasihan lagi.” Kata petugas ronda yang lain lagi.

Aku hanya mendengarkan mereka bicara. Tidak berani berkata apa-apa. Demikian juga dengan Bejo, hanya tertunduk sambil memainkan bidak catur. Seakan ingin membuat skak mat dan mengalahkan permainan caturku.

***

Aku sedang di kamar, ketika Bejo teman karibku datang menemuiku. Ia tampak gundah. Tubuhnya kuyup seperti kucing kuyup kehujanan.

“Dul, tolong aku Dul!”

“Ada apa Jo?”

“Ini masih ada kaitannya dengan kejadian malam itu.”

“Polisi sudah tahu kita pelakunya?”

“Bukan, Dul?”

“Terus apa?”

“Aku sering mimpi buruk, Dul.”

“Mimpi apa?”

Bejo pun menceritakan ihwal mimpi yang sering ia alami.

“Lelaki baya itu sering mendatangiku, Jo. Dalam mimpiku, lelaki itu mendatangiku dengan penampakan mengerikan. Berbadan manusia, tapi kepalanya merupakan kepala seekor kucing. Gigi-gigi yang diperlihatkannya tampak runcing, lehernya penuh darah, baunya amis darah. Kepala orang itu yang berwujud kepala kucing, berwarna hitam seperti kucing yang kutabrak itu. Aku digigitnya, terasa sangat sakit karena gigitannya seperti nyata. Aku meraung dalam mimpi dan kenyataan. Emakku selalu membangunkanku saat suaraku melengking seperti suara kucing yang ekornya diinjak. Mimpi itu hampir setiap malam menghantuiku. Tolong aku, Jo!”

“Aku harus menolong apa?”

“Apa yang harus kuperbuat, Jo?”

“Kita harus melapor polisi atas kejadian itu, kamu mau?”

“Apa Jo? Kamu jangan gila, nanti kita dipenjara.”

“Itu jalan satu-satunya agar hidup kita tenang.”

Bejo tak mampu berkata apa-apa. Hanya kepulan asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungnya. Beku hati kami. Sebeku dingin malam ini.

***

Bejo menyerah. Ibarat kucing, ia seperti seekor kucing yang disiram air dan digebug dengan balok kayu. Pada hari kesepuluh setelah kejadian malam itu, kami menyerahkan diri ke kantor polisi.

Kami berboncengan naik sepeda motor menuju ke kantor polsek yang letaknya di kota kecamatan. Dalam perjalanan kami seperti dua ekor kucing yang akan menghadap ke seorang manusia yang telah dicuri ikannya.

“Nanti kamu mengakui semua perbuatanmu kan, Jo? Tanyaku dalam perjalanan menuju kantor polisi.

“Iya, Dul. Aku sudah insyaf. Nanti akan aku ceritakan kronologinya dengan sebenar-benarnya.”

“Wah, syukurlah jika kamu telah berubah, Jo.”

Aku pun agak sedikit tenang dengan ucapan Bejo yang akan berkata jujur pada polisi.

Namun ketenanganku hanya sampai di pintu kantor polisi. Ternyata Bejo sama sekali tidak berubah. Bejo tidak lagi seperti kucing kuyup kehujanan. Di dalam kantor polisi, Bejo seperti kucing jantan yang buas dan licik. Aku melihat wajah Bejo seperti seekor kucing hitam saat memberi kesaksian di depan polisi. Mimpi-mimpi menyeramkan itu ternyata tidak membuat Bejo kapok.

Bejo menceritakan kronologi dengan penuh kebohongan. Dan kebohongan yang menyudutkanku adalah pada saat Bejo mengatakan bahwa aku lah yang mengemudikan sepeda motor pada malam kejadian itu.

“Abdul yang mengemudikan sepeda motorku dan Abdul yang telah menabrak lelaki itu.” Mata Bejo berkilat seperti mata seekor kucing di malam hari yang tersorot lampu sepeda motor. Telunjuknya menunjuk tepat di wajahku.[]

Banyumas, 19 Nopember 2012

Agus Pribadi

/aguspribadi1978

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Mencoba menghayati kehidupan dan menuliskannya dalam cerita-cerita sederhana. Kunjungi juga tulisan saya di http://aguspribadi1978.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?