Cintaku Bersemi di Jembatan Tabayang

07 Juni 2013 18:29:15 Dibaca :

“Cintaku Bersemi Di Jembatan Tabayang”

Karya : Agung Suharmanto

Desir ombak pantai terus mengikuti sampan mungilnya. Berharap ikan ikan datang menghampiri agar ia segera pulang ke rumah. Tiba tiba saja mata kailnya tertarik kencang, menandakan ikan telah terjerat di kail badung. Ia sangat gembira karena ikan yang di dapatkannya lumayan besar. Melihat hari sudah mulai petang, Badung bergegas pulang kerumah. Ia segera menghidupkan bot-nya dan berjalan melalui sungai Asahan, karena rumahnya di daerah Pulo Simardan yang harus melewati sungai asahan.

Di perjalanan ia melewati jembatan panjang yang bernama Tabayang, panjangnya mencapai 1 KM yang menyambungkan Kota Tanjungbalai dengan Sei Kepayang. Sewaktu hampir melewati jembatan itu Badung mendengar sesuatu jatuh ke dalam bot-nya, ternyata ada Camera Digital yang jatuh dari jembatan panjang itu. Badung pun melihat ke atas jembatan ternyata ada seorang wanita yang melambaikan tanganya, tanpa pikir panjang Badung langsung mengarahkan bot-nya ke pinggir sungai dan naik ke jembatan itu.

“Ini Camera mu.” sambil memberikan camera digital milik wanita itu.

“Makasih ya..” sambut Nina dan mengambil cameranya.

“Oh, yasudah aku hendak pulang dulu” ujar Badung bergegas meninggalkan wanita itu.

“Eh, tunggu sebentar aku mau ngomong sesuatu” memanggil Badung yang sedang berlari. Dan Badung segera kembali menghampiri wanita itu.

“Ado apo ya mbak?” tanya Badung dengan logat Tanjungbalai.

“Nama kamu siapa ya kalau boleh tau?” tanya Nina kembali kepada badung.

“Aku Badung, kalau mbak siapo?, kok seperti orang baru?” tanya Badung senyum tipis.

“Perkenalkan aku Nina, sebenarnya aku tinggal di Medan tapi aku 2 hari disini untuk liburan tempat pamanku.” Jawab Nina sambil mengulurkan tangannya.

“Oh, Nina. Ka..kamu cantik ya” menyambut tangan Nina dengan gugup karena melihat Nina tersenyum manis padanya.

“Ah, kamu ni bisa aja lo dung.” ujar Nina tertawa pelan.

“hehehe., tapi Nin aku mau pulang dulu ya, karena sudah mau magrib ni” ujar badung kepada Nina.

“Yasudah dung, aku pun mau pulang juga. Besok kita jumpa di jembatan ini lagi ya. Aku kepingin tau tentang Kota Tanjungbalai ini.” ujar Nina sambil berlari meninggalkan badung dan menuju mobilnya.

“Oke Nin, besok siang kita jumpa lagi” ujar Badung sambil melambaikan tanganya.

Badung pun bergegas pulang dan menaiki sampan mungilnya. Di tengah perjalanan ia terbayang kembali wajah Nina. Wanita cantik yang tidak di sangka bisa berjumpa denganya. Hingga sampai ke tangkahan sampannya Badung masih senyum-senyum sendirian. Hingga di depan pintu rumahnya ia di tegur oleh ibunya yang sedang mengkoncek kelapa di samping rumah.

“Dung, kenapo kau nak? Senyum sendirian.” tanya ibu Badung kebingungan melihat tingkah badung.

“Tak ado mak, ini Badung dapat ikan besar sewaktu mincing tadi” jawab badung tersenyum sambil menunjukan ikan yang ada di tangannya.

“Yasudah, kau letakan aja di ember. Bantu omak mengkoncek kelapa ini” ujar Ibu Badung sambil melanjutkan koncekan kelapanya.

“iya mak !” jawab Badung bergegas meletakan ikannya dan segera membantu ibunya yang sedang mengkoncek kelapa.

Badung pun membantu ibunya hingga larut malam dan segera mandi karena ia belum mandi dari tadi siang. Setelah mandi ia segera solat isya dan belajar. Itu lah yang badung lakukan setiap harinya. Walaupun begitu ia tidak merasa lelah apalagi merasa terhina. Karena menurutnya pekerjaan yang ia lakukan adalah pekerjaan yang bermanfaat baginya. Setelah ia belajar ia segera tidur. Tapi, ia terbayang kembali wajah wanita cantik yang bernama Nina itu. Dan ia tidak sabar menunggu besok siang.

Keesokan harinya sepulang dari sekolah ia langsung pulang dan bergegas pergi ke jembatan Tabayang. Tempat ia berjanji bersama Nina semalam. Sesampai disana Badung langsung terdiam melihat Nina yang begitu cantik.

“Dung kemari, kok malah melamun di situ” jerit Nina kepada badung.

“Eh, i..iya Nin.” jawab badung dan segera mendekati Nina.

“Dung, ngomong-ngomong kita mau kemana ni?” tanya Nina kepada Badung.

“Kita ke Boting kopah aja Nin, gimana?” tanya Badung kembali.

“Oke, kita naik apa kesana dung?”

“Kita naik betor aja ya Nin. enggak apa-apa kan?”

“Yasudah !”

Mereka berdua pun pergi menuju boting kopah. Boting kopah adalah tempat yang indah karena pasirnya yang putih dan banyak kepah di sana. Tidak berapa lama kemudian mereka sampai ke Boting kopah.

“Dung, ini yang namanya Boting kopah?” tanya Nina.

“Iya Nin, kenapa?”

“Cantik dan indah ya dung, pasirnya putih, banyak kerangnya lagi” ujar Nina sambil membuka tangannya lebar dan menarik nafas dalam-dalam.

“Ini lah Tanjungbalai Nin, Kota yang indah dan sejuk.” ujar Badung tersenyum melihat Nina yang gembira.

“Iya ya dung, pemandangannya pun indah. Eh itu lagi ngapain?” tanya Nina sambil menunjuk kearah bapak nelayan.

“Oh, itu sedang menjait jaring yang robek Nin. sewaktu menangkap ikan di laut.” Jawab Badung berusaha menjelaskan.

“Eh, Dung ayo kita naik kapal ke sungai asahan. Nina mau lihat pinggir sungai asahan” ujar Nina mengajak Badung.

“Oke Nin, nanti Badung tunjukan bangunan bersejarah yang bernama Balai di ujung tanjung.” ujar Badung.

Mereka pun pergi menuju Balai di ujung tanjung dengan menaiki kapal nelayan milik warga sekitar. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka sampai di pinggir sungai asahan. Tepatnya di Balai ujung tanjung.

“Dung, ini tempat apa?” tanya Nina bingung.

“Ini adalah bangunan paling bersejarah di Tanjungbalai Nin. Di dalamnya terdapat gambar sejarah Tanjungbalai.” jawab Badung menjelaskan Balai itu.

“Wah, Tanjungbalai emang kaya. Hasil laut,perkebunan,budaya dan sejaranya.” ujar Nina sambil memandangi bangunan Balai.

“Itulah makanya Badung suka tinggal di sini.” Ujar badung yang sesekali melirik wajah Nina.

“Eh, dung aku harus pulang. Karena aku nanti sore harus pergi ke Medan” ujar Nina.

“Apa? pulang Nin? kok cepat sekali?” tanya Badung dengan nada agak sedih.

“Iya. Maaf ya, aku enggak bisa lama denganmu” jawab Nina sambil meraih tangan Badung.

“Yasudah Nin, tapi sebelum kamu pulang, kita jumpa di jembatan Tabayang ya. Untuk terakhir kalinya.”ujar Badung dengan meneteskan air matanya yang tidak dapat di bendung lagi.

“Iya Badung, nanti aku sempatkan kesana. Tapi kamu jangan menangis dong” ujar Nina sambil menghapus air matanya badung.

Nina pun pergi bergegas pulang dan segera merapikan bajunya kedalam koper. Setelah semuanya selesai Nina minta izin kepada Pamannya agar pergi sebentar ke jembatan Tabayang. Paman Nina setuju dan mengantarkan Nina ke jembatan Tabayang. Sesampai disana ia tidak melihat Badung di sekitar jembatan Tabayang itu. Lima belas menit telah berlalu dan badung pun belum juga datang. Paman Nina mengajak Nina pulang karena sudah mulai malam. Nina pun masuk kedalam mobil dengan wajah lesu.

“Nin ! tunggu !” jerit badung dari kejauhan.

“Paman tunggu.” Ujar Nina sambil melirik kearah belakang mobil.

“Nin, i..ini Tepak yang di lapisi kulit kerang. Ini tanda Badung mencintai Nina” ujar Badung dengan nafas agak tersengal memberikan Tepak yang di bawanya.

“Dung, Nina juga cinta dengan Badung. Jangan lupakan Nina ya, selamat tinggal.” Ujar Nina tersenyum manis dan menaiki mobilnya.“

“Nina ! Aku akan datang nanti. Aku akan melamarmu Nin !” jerit badung sambil melambaikan tangannya dan air matanya pun menetes tidak terbendung lagi.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?