PILIHAN

[HORORKOPLAK] Gagalnya Misi Menjadi Memedi

12 Januari 2017 00:14:33 Diperbarui: 12 Januari 2017 00:33:13 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
[HORORKOPLAK] Gagalnya Misi Menjadi Memedi
Logo Koplak Yo Ben -dok KYB

Kisah nyata ini sudah lama berlalu, saat saya masih berseragam merah hati putih. Bersama kakak kandung, yang sudah duduk di bangku Sekolah Menengah. Kami melewatkan masa kecil, di desa kecamatan enam kilometer dari kota kabupaten.

Kakak saya yang satu ini, memiliki sifat tak mau mengalah dan cukup perhitungan. Bahkan pada adiknya sendiri, selalu maunya menangnya sendiri. Beberapa kali katauan berlaku curang, terutama soal makanan pada saya adiknya.

Kalau ada roti sobek misalnya, dia lebih dulu pegang kendali dalam hal pembagian. Pada saat memotong roti sobek menjadi dua, bagian lebih panjang untuk dia, sisanya yang lebih pendek diserahkan pada adiknya. Hal yang sama juga dilakukan, untuk pembagian pekerjaan atau apapun yang sekiranya bisa diakali.

Suatu hari si kakak timbul ide iseng, pengin ngerjain orang yang lewat depan rumah.

"mumpung besok libur dan ga belajar, yuk gangguin orang lewat" cetus kakak usil.

Kebetulan letak rumah kami, berada di pinggir jalan utama menuju kota. Biasanya jalanan mulai sepi, setelah sholat maghrib ditunaikan. Hanya ada satu dua kendaraan lewat, selebihnya orang dengan jalan kaki.

Malam hari jalanan di kampung sepi, cahaya lampu teplok yang menyinari tak begitu jelas. Mengingat saat itu belum masuk listrik, hanya penerangan seadanya membantu pengguna jalan. Biasanya setiap teras rumah memasang lampu minyak, tentu dengan daya jangkau sangat terbatas.

"Gangguin gimana?" balas saya belum paham

"Kita jadi memedi (atau demit)"

"Hah, memedi, serem amat"

"Sesekali gak apa"

"Trus, caranya bagaimana"

"Gini, aku kan pake sarung, kamu nanti masuk dari bawah sambil manggul aku" jelasnya

Ide konyol tapi masuk akal, kalau berhasil pasti membuat orang takut. Saya sebenarnya enggan, tapi untuk seru-seruan tidak ada salahnya.

Sambil masih belum terlalu paham, kakak menjelaskan detilnya. Bahwa saya punya tugas, memanggul badannya di atas pundak. Kemudian separuh badan saya, masuk dalam sarung warna putih yang dipakainya. 

Kalau saya dalam posisi berdiri, otomatis kami berdua seperti satu orang dewasa dengan tinggi menjulang. Bagian atas tampak badan dan kepala kakak, bagian bawah adalah kaki saya. sementara muka saya tertutup, kain sarung menjulur sampai separuh badan.

Mendadak saya membayangkan, malam-malam melihat sosok berkain putih tinggi, berdiri merapat di dekat pohon. Siapa tak merinding, dijamin kalau anak-anak akan lari terbirit.

Tapi masalahnya, apa badan saya sanggup memanggul badan kakak. Secara ukuran tentu badan saya lebih kecil, kami terpaut usia lima tahun. Dasar kelakuan kakak tidak mau mengalah, tetap bersikeras saya ada di bawah.

"Gimana, kalau gantian, pertama kakak manggul setelah itu aku yang dibawah" usul saya

"ya wis gak apa, tapi bener yo"

Usul saya diterima, sekitar jam 8 malam misi menakut nakuti orang lewat dimulai. Kebetulan suasana sedang terang bulan, sehingga tak terlalu gelap menambah kesan horor. 

Kain sarung warna putih mulai saya kenakan, kakak masuk dari bawah dan saya duduk di pundaknya. Kami berdiri di dekat pohon waru, tepat di depan kebun samping rumah. Kepala saya sejajar dengan daun di dahan atas, saat gelap dijamin tidak ada yang bisa mengenali. Sesuai kesepakatan awal, kami hanya berdiri tak mengelurakan suara.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Kira kira dari jarak seratus meter, saya melihat anak usia sebaya berjalan.
Semakin mendekat langkah sosok itu, semakin saya mengenali siapa namanya. Adalah budi teman sekelas saya, dengan tas plastik ada ditentengan.

Dari gerak gerik dan bahasa tubuh, rupanya Budi mengetahui keberadaan kami. Langkahnya tampak mulai ragu, saat berada sekitar 50 meter dari tempat kami berdiri. Mula-mula dia menghentikan langkah, seperti menanggung bimbang, kemudian berbalik arah dan berlari kencang.

Setelah Budi menjauh, kami kakak beradik tertawa puas, misi menakut-nakuti berhasil.

"Giliran kamu di bawah" kakak menagih.

"Tapi, kalo ga kuat bagaimana"

"Sudahlah, dicoba dulu"

Dengan perasaan tidak yakin, akhirnya kakak gantian duduk di atas pundak saya. Untung ada bagian sarung dengan sedikit sobek, saya bisa mengintip apa yang ada di luar.

Selang tak berapa lama, kami lihat budi hendak lewat lagi, tapi kali ini dengan satu orang dewasa.
 Kami berdiri di tempat yang sama, tentu kami tetap tak bersuara. Dari jarak seperti saat  teman sekelas ini ketakutan, telunjuk tangan kanannya menunjuk kami. Seperti mengabarkan pada orang di sebelahnya, keberadaan makhluk yang membuatnya lari ketakutan.
 Kami diam membisu, saat Budi dan satu orang dewasa mendekat. Langkahnya  terayun perlahan tapi pasti, jauh dari kesan gamang. Bersamaan itu, apa yang saya khawatirkan di awal terjadi.

"Pundakku ga kuat" ujar saya menahan suara agar tidak terlalu kencang

Kakak tak menjawab, berusaha agar misi yang dijalankan berhasil. Langkah dua orang semakin dekat, sampai berjarak sekitar dua puluh meter.

"BRUGGG"

Pertahanan saya gagal total, saya jatuh ke tanah, Kakak yang ada di pundak otomatis tersungkur.

"Huuh, kamu pake jatuh segala"

"Aku kan sudah bilang kalo gak kuat"

Budi dan satu orang dewasa, yang kami kenal namanya Pak Sunar sontak kaget, melihat kami sedang membenahi diri. Tak pelak terdengar mereka menahan tawa, bahkan Budi sampai cekikikan..

"Oalah ternyata kamu tho" celetuk Pak Sunar

"Tak kira memedi beneran" sahut Budi.

Untung saja malam hari,  meski terang bulan tak tampak bagaimana merah padamnya muka ini. Kami minta maaf pada Budi dan Pak Sunar, sembari menahan sakit pulang kembali ke rumah.

Sejak peristiwa memedi gagal, kisah konyol ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Setelah itu, tak pernah kakak meminta saya memanggulnya. Tapi untuk urusan berbagi makanan atau pekerjaan, kakak tetap maunya menang sendiri. 


demikian dan salam :) 

Agung Han

/agungatv

TERVERIFIKASI

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter @agunghan_ , FB; Agung Han
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana