Berita Tv dan Tuna Rungu

02 Februari 2011 06:47:02 Diperbarui: 26 Juni 2015 08:58:13 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Berita Tv dan Tuna Rungu
Ilustrasi Bahasa Isyarat/deafcactusnews.com

Ilustrasi Bahasa Isyarat/deafcactusnews.com
Dulu, sajian berita malam pukul 19:00 dan 21:00 TVRI masih menyediakan inzet bergerak bahasa isyarat bagi pemirsa tuna rungu yang ikut nonton berita. Saat itu jendela video kecil di sudut kiri bawah layar kaca masih menampilkan orang menggerak-gerakkan tangannya di depan dada dan wajah tanpa suara apa-apa. Bahasa isyarat semacam itu memang diciptakan dan digunakan untuk menyampaiakan isi pesan suara yang ada sehingga bisa dicerna secara visual oleh para penderita tuna rungu/tuli. Saat ini fitur bergerak dalam beberapa program berita teve sudah tak lagi menyediakan bantuan terjemahan bagi para pemirsa tuna rungu. Apakah ini sebuah efisiensi produksi, atau disakomodasi? Dalam hal produksi berita, saat ini fakta yang nampak adalah terjadi disorientasi bagi pemirsa tuna rungu di Indonesia untuk mengikuti alur pemberitaan media televisi. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, tak ada jalan lain untuk mengerti isi berita selain membaca tulisan deskripsi yang hanya sebaris kalimat bahkan beberapa kata saja. Harapan untuk memahami inti berita secara utuh menjadi sangat susah karena tidak ada lagi penerjemahan seperti dulu. TVRI sejak tahun 1994 menyediakan fitur terjemahan bahasa isyarat dalam program berita malamnya. Saat ini pun fitur itu bahkan sudah ditiadakan. Lalu dari mana lagi bantuan bahasa isyarat didapatkan? Sempat ada perdebatan saat fitur bahasa isyarat dalam berita malam ini ditampilkan TVRI yang saat itu direlai empat tv swasta termasuk TPI. Satu teve swasta, RCTI yang sedang naik daun saat itu juga sempat menampilkan fitur penerjemah bahasa isyarat dalam programnya Seputar Indonesia saat itu. SCTV turut menampilkannya dalam Liputan 6 pukul 18:30. Disebutkan, fitur bahasa isyarat dalam jendela kecil di layar kaca bersandingan dengan jendela utama berita dianggap mengganggu penglihatan normal karena mengurangi fokus mata pada tayangan berita. Tampilan visual gerakan-gerakan tangan si penerjemah dianggap sangat mengganggu konsentrasi penonton. Tak pelak, ide menampilkan fitur bahasa isyarat ini dianggap sangat terkendala. Selain masalah fokus penonton, sulitnya menemukan tenaga penerjemah saat itu turut menjadi pengaruh depresiasi pemanfaatan fitur berita yang satu ini. Hal di atas juga ditengarai menjadi penyebab dihilangkannya bantuan bagi penderita tuna rungu ini. Hambatan lain ada pada sedikitnya kosakata Bahasa Indonesia dalam Kamus Sist[e]m isyarat Bahasa Indonesia (KSIBI). Kamus yang diluncurkan Menteri P dan K, 29 April 1994 lalu, hanya memuat 1.942 kata, hingga "Belum memadai untuk menerjemahkan berita." Ini diakui oleh Imas A.R. Gunawan, Ketua Pelaksana Yayasan Pendidikan Zinnia, salah satu lembaga pengembangan bantuan bahasa isyarat sebagaimana dilansir Tempo. Beberapa upaya yang dilakukan TVRI adalah mengurangi kecepatan pembacaan berita dalam setiap programnya sehingga petugas penerjemah bisa efektif menerjemahkan kata per kata bagi pemirsa tuna rungu. Saat ini, dengan kecepatan pembacaan berita yang semakin tinggi oleh teve-teve sekarang, wajar jika fungsi penerjemahan mengalami kendala. Minimnya lembaga pengembang bahasa isyarat bagi tuna rungu akhir-akhir ini juga menjadi kendala tersendiri sehingga prospek pengakomodasian fitur terjemah bahasa isyarat dalam program teve masih dipertimbangkan. Wacana yang sempat berkembang justru adalah mengarahkan pera penderita tuna rungu untuk mempelajari bahasa oral dalam bentuk latihan pengucapan. Susahnya implementasi pelatihan bahasa isyarat justru mengarahkan beberapa lembaga sosial untuk beralih mengakomodasi perbaikan nasib penderita tuna rungu dengan latihan pengucapan. Dianggap, bahasa isyarat dalam sajian berita teve tidak begitu efektif secara keseluruhan karena susah ditangkap oleh penderita tuna rungu. Suara senada juga dikemukakan Lani Bunawan, penanggung jawab Kelompok Kerja Pendidikan Luar Biasa (KKPLB), yang membuat kamus bahasa isyarat. Menurut Lani, kamus itu dibuatnya agar masyarakat mau peduli bahwa ada kalangan yang masih perlu diperhatikan. Saat ini sekitar 0,1 persen dari sekitar 3,5 persen dari seluruh penduduk (per Sept.2010) penderita cacat di Indonesia adalah tuna rungu/tuli. (psibkusd.wordpress.com) Persentase ini setara dengan 8.750.000 orang, jika asumsi jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa. Sedangkan dari jumlah itu, yang mengerti bahasa isyarat hanya sekitar 700.000 orang. Prof. dr. Hendarto Hendarmin, Ahli Telinga, Hidung, dan Tenggorokan di Jakarta, Senin (11/9/2010) mengungkapkan bahwa dengan jumlah penderita sebanyak itu, jumlah lembaga pencegah tuna rungu masih sangat minim, bahkan belum ada yang secara efektif menimbulkan perubahan dalam hal pencegahan bertambahnya penderita tuna rungu. Jadi, semakin gencarnya inovasi sajian berita teve modern saat ini nampaknya perlu berpikir ulang untuk menyediakan bantuan efektivitas sosial bagi para penderita tuna rungu di Indonesia yang masih setia menjadikan teve sebagai media utama penyedia layanan berita. Di samping itu, negara diharapkan masih dalam fokus intinya menekan jumlah penderita cacat di Indonesia. Semoga ada kecerahan bagi semua. Referensi: http://en-gb.connect.facebook.com/topic.php?uid=42752141173&topic=15245 http://psibkusd.wordpress.com/2010/09/17/kurangnya-lembaga-pencegah-tuna-rungu/

Fandi Sido

/afsee

TERVERIFIKASI

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta, dan kawin. | @FandiSido
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article