HIGHLIGHT

Mendaki Gunung Kerinci

10 September 2011 02:37:29 Dibaca :

Apa nikmatnya naik gunung ? Pertanyaan ini sulit dijawab kecuali kita sendiri yang melakukannya ! Perjalanan naik gunung Kerinci di Jambi, Sumatera  adalah salah satu pendakian yang paling menantang dan berkesan untuk saya, yang membuat saya bukannya  kapok ,tapi  ketagihan untuk mendaki gunung lainnya (yaitu gunung tujuh) keesokan harinya setelah merampungkan pendakian gunung Kerinci ! Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju kota Padang, seru pagi jam 5 kita sudah berkumpul di airport Sukarno Hatta, semua kelihatan bersemangat, wah pokoknya semangat 45 deh ! Sampai di Padang kita bertemu dengan teman yang dari Kualalumpur ( Kiki ) yang bergabung dengan kita dalam pendakian ke gunung Kerinci . Berpose ramai-ramai sesampai di Padang Dengan menggunakan 2 buah minibus yang nyaman berpendingin  kami memulai perjalanan dari Padang menuju Desa Kersik Tuo di Jambi dengan mencari sarapan terlebih dulu, karena hampir semua ternyata belum makan pagi. Desa Kersik Tuo sendiri akan kami tempuh kurang lebih hampir 8 jam perjalanan yang sungguh sangat menarik, melewati Danau Kembar yang cantik luar biasa.... kami tidak henti-hentinya mengagumi alam Sumatera yang sungguh indah dan asri Istirahat di depan danau kembar Bagi saya pribadi perjalanan ke Sumatera ini adalah yang kedua kali, tapi kali ini kami  yang dikoordinis oleh Karash Adventures akan melakukan pendakian gunung Kerinci.  Gunung Kerinci (3805 mdpl) adalah gunung ke dua yang akan saya daki sebelumnya saya juga bersama Karash Adventures  (yang dipimpin oleh Bapak Vicky Gozal) yang sudah berpengalaman dalam pendakian gunung-gunung di Indonesia khususnya mendaki Gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia. Kami satu grub 18 orang , masing-masing sudah mempersiapkan diri untuk pendakian ini, sebagian dari kami sudah banyak berpengalaman mendaki berbagai gunung di Indonesia bahkan ada juga yang sudah mendaki gunung Kilimanjaro di Afrika yaitu dr Agung Hadyono dari Surabaya . Kembali ke perjalanan menuju Desa Kersik Tuo, wah sungguh mengesankan , saya masih banyak melihat rumah-rumah adat Padang yang masih dirawat oleh pemiliknya, walaupun mereka tidak tinggal di rumah tersebut . Kami juga sempat berpose di depan salah satu rumah tsb. Di depan rumah Gadang Perjalanan yang memakan waktu panjang ini sungguh tidak kami rasakan, karena kami semua menikmati setiap kilometer yang kami lalui disamping pemandangan danau kembar yang sungguh menawan dan udara yang tidak panas ditambah oleh rasa senang kami karena kami tau besok pagi-pagi kami akan mulai mendaki gunung Kerinci , semua menambah semangat kami .  Kami juga sempat bertemu dan berbicara dengan orang lokal , menikmati kue putu yang ternyata penjualnya dari pulau Jawa dan tidak ketinggalan kami mencicipi makanan padang yang mungkin hanya satu-satunya yang kami lewati namanya Rumah Makan Suliti Permai . Tanpa terasa, malam harinya kami sampai di sebuah rumah yang biasa menampun para pendaki dari berbagai kota di Indonesia bahkan Eropa, rumah yang sederhana yang dikelola oleh sepasang suami istri dibantu oleh anak mereka yang sudah sarjana.  Kami semua sudah siap seburuk apapun kondisi rumah tempat kami bermalam kami tidak akan kecewa, hanya lucunya ada satu peserta wanita ( ada 4 wanita) yang menanyakan dimana salon terdekat, hahahahaha....... kita semua tertawa !  Saya tidak tahu  persis , serius atau tidak tapi saya kasih komentar bahwa rambutnya masih oke banget, tapi dia jawab  tadi di hairspray ! Ketika pagi sekali kami bangun , kami semua begitu terpesona oleh keindahan gunung Kerinci yang terletak persis di depan homestay kami...........CUANTIIIIIIIK     sekali    ! Sambil menatap saya berpikir wah, bisa sampai engga ya???????  Berbagai pertanyaan muncul, seperti apa perjalanan kesana , apakah kita akan bertemu dengan hewan liar , karena di Gunung Kerinci ada ribuan hewan liar hidup disana, mulai dari monyet, harimau sampai babi hutan dam . Gunung Kerinci yang cantik dari depan homestay Saya dengan para wanita perkasa pemetik teh. Selesai makan pagi , Ternyata ada satu orang teman kami yaitu Pieter yang sakit dan tidak bisa ikut mendaki bersama !  Kami pun bersiap-siap membawa semua perlengkapan mendaki kami , mulai dari sleeping bag, jas hujan karena memang musim hujan, jas anti angin ( wind breaker,  yang akan kami perlukan ketika kami akan melakukan summit attack jam 02 dini hari keesokan harinya) dan semua perlengkapan keperluan pendakian yang akan kami perlukan selama perjalanan.  Kami ber 17 belas peserta ditambah 1 orang guide yang sudah berpengalaman dan mengetahui seluk beluk gunung Kerinci  ditambah oleh kurang lebih 8 porter yang akan mengangkut semua keperluan kami (tenda, makanan , air minum dll), kami sendiri terutama para wanita yang 4 orang hanya membawa keperluan yang betul-betul dibutuhkan dalam perjalanan ke ketinggian 3.300 mdpl  seperti jas hujan, baju ganti dan air minum, barang-barang kami selebihnya dibantu dibawakan oleh porter. photo bareng sebelum pendakian Vicky paling belakang mengawal..... Papan Selamat Datang Pos 1 Perjalanan pendakian yang panjang ini kami mulai dengan semangat tinggi, semua berharap bisa mencapai  puncak Kerinci, tapi sebelum itu kesampaian kami harus berjuang mendaki ke ketinggian 3.300 mdpl dimana kami akan bermalam atau tepatnya tidur beberapa jam dan harus bangun jam 02.30 dini hari untuk melakukan pendakian ke puncak ( 3.805 mdpl). Semua semangat, semua gembira apalagi kami didampingi oleh pamandu yang sudah berpengalaman yang bernama bapak Een, ia mengetahui semua seluk beluk gunung Kerinci , pokoknya jaminan tidak salah jalan dan Insya Allah bisa sampai puncak. Bapak Een, pemandu senior Kerinci Bagi kami orang Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk dan bising suara serta polusi udara, suasana di dalam hutan ini ( rain forest ) amatlah  LUAR  BIASA    , wangi tumbuh-tumbuhan dan keindahan bunga hutan yang tidak kita jumpai di luar hutan sungguh menakjubkan dan memberikan rasa damai tentram, saya pikir inilah salah satu yang paling berharga yang kita bisa rasakan ketika kita mendaki gunung. Berjalan bersama  teman-teman merasakan keindahan hutan adalah salah satu waktu untuk merenung dan merasakan nikmat Tuhan karena walaupun bersama-sama masing-masing kita tidak perlu berbicara, disamping napas yang senin-kemis ( tergantung stamina masing-masing), kami juga merasakan bahwa tanpa berbicara pun kita tetap menikmati kebersamaan. Sejenis anggrek hutan Kami juga diminta pak Een untuk mencoba memakan sejenis tumbuhan hutan yang kaya akan oksidan , saya lupa namanya tapi rasanya asam .  Oleh pak Een kami juga diberitahu tempat/pohon yang dijadikan binatang buas  tidur pada malam hari. Oya , perjalanan menuju ke ketinggian 3.300 harus kami selesaikan sebelum matahari terbenam, karena pada saat itulah semua jenis binatang turun dan tidur, sedangkan ketinggian 3.300 tempat kami membangun tenda terlalu dingin sehingga binatang tidak mau tidur di sana, jadi aman untuk para pendaki. mba Erna, di salah satu track yang wah....seru soooo .... green ! Vicky, dr Agung, Pia, Budiman, Ronny. Ada bagian dimana kita harus melalui jalan / saluran air yang kadang-kadang lebarnya kurang dari badan kita , sampai-sampai kita harus miring jalannya, ada perasaan seperti kita sedang berjalan di dalam liang kubur..... hiiiiiii ngeriiiii, belum lagi kebayang bagaimana kalau hujan deras turun ya?   waaaah, kita pasti kerendam air ! Saluran air yang mendaki  sekaligus jalan yang meski kita lewati! Beruntunglah selama pendakian sampai di ketinggian 3.300 mdpl tidak ada hal berarti yang mesti kita hadapi, hampir semua dari kita sampai sebelum matahari terbenam..... Tetapi, Ternyata ada satu teman kita yang belum juga sampai padahal matahari sudah terbenam, ia ternyata tertinggal jauh dan satu persatu teman-teman seperjalanan menjauh dari dia , hanya seorang porter dan kebetulan juga tahu banyak seluk beluk Kerinci sehingga porter ini sekaligus memandu mba Tika. Ketika akhirnya Tika sampai kita semua bersyukur, dari ceritanya ternyata ia sempat berpapasan dengan babi hutan dan ada sedikit cerita seru tentang ini, hahahaha........   sdaya sendiri karena dingin sampai tidak berania keluar tenda , lelah tidak terasa yang terpikir adalah siap-siap menghadapi summit attack yang akan kami lakukan pada jam2.30 pagi huuuuuuuuuu........dingiiiiiiin ! Oya, akhir dari pendakian hari ini juga diiringi hujan gerimis yang tiada henti-hentinya, walaupun dingin, lapar, lelah, tapi kami semua bahagia sekaligus lega karena sebagian dari pendakian ini sudah kami lewati ! Pia & Vicky, happy di ketinggian 3.300 mdpl Sepatu saya ketika mulai mendaki...... Sepatu saya ketika sampai di ketinggian 3.300 Akhirnya........ Kami semua bangun dan bersiap-siap untuk mendaki ke ketinggian 3.805 mdpl !  Semua kelihatan semangat, semua kelihatan siap !  Yes,  Vicky mempersilahkan saya untuk mulai berjalan , tepatnya nanjak dalam kegelapan hahaha..... dengan kalimat  Ladies first..... !   Rute yang ini sungguh menantang dinamakan Gibbon Track, karena terdiri dari batu-batuan besar yang mendaki....... hahahaha...... semua kita lakukan dalam kegelapan dan hanya ditemani oleh head lamp masing-masing . Mengabadikan dalam photo adalah tidak mungkin kita lakukan dalam gelap dan sekaligus medan yang tidak gampang ini,  saya hanya berdoa dalam hati dan selalu meningkatkat awareness saya agar bisa selalu waspada dengan medan yang saya lalui.. Sungguh saya menikmati perjalanan pendakian ini !  Untuk saya adalah tantangan karena selama ini saya selalu rajin melakukan olahraga di gym ini adalah kesempatan uji nyali/ uji mental. Sensasi menyaksikan merasakan matahari terbit sungguh menakjubkan , ini terjadi di ketinggian kira-kira 3.500 mdpl ... mau lihat gambarnya ? Saat-saat menunggu...... Cantiiiiik..... ! Matahari menampakkan dirinya ! Wah, Semua sibuk mengabadikan pemandangan yang spektakuler ini, sampai lupa bahwa perjalanan masih jauuuuuhhhhh........... !  Kami melanjutkan perjalanan tepatnya pendakian walaupun rasanya duh, udah deh pemandangan cantik banget  , maunya terus melihat dan menyaksikan keindahan alam ini. Mas Budi, mba Erna, Pia dan Chris.....melanjutkan pendakian Pia , Vicky...... masih ada tumbuhan hijau, lanjut ! Kaos   merah Indra.....istirberpose dan beristirahat 1, 2 menit ! Pendakian berlanjut, sudah terasa susahnya........ Tapi semangat tetap tinggi !  Di ketinggian 3.600 kami sudah terbagi - bagi, kami berenam (termasuk saya ) kebetulan  ada di grub   depan pantang menyerah , perlahan tapi pasti . Beriringan mendaki ! 1, 2, 3 ....... Serunya beristirahat di atas awan ! Beriringan..... Mas Budi menyempatkan mengabadikan keindahan awan! Sampai di ketinggian 3.800 mdpl ,   oksigen sudah mulai menipis, kita berjalan perlahan tapi pasti, kabut turun, saya bertanya kepada pak Een sang pemandu, " diterusin engga nih? kabutnya tebal sekali ! dijawab "terusin aja,nanti kabutnya kalau kita beruntung juga hilang ", Seru, mendaki dalam kabut...... Selanjutnya, sukar dibayangkan ...... ternyata kita menyadari bahwa mendaki gunung bukannya menaklukan alam , tapi adalah menaklukan diri sendiri ! Persis seperti kata Sir Edmund Hillary   : It's not the mountain you conquer, but ourselves ! Akhirnya di puncak Kerinci 3.805 mdpl ! Ketika akhirnya kami sampai di Puncak, kabut bertambah tebal , jarak pandang hanya beberapa meter, sementara udara dingin, angin dan bau belerang memaksa kami untuk segera turun tanpa menunggu kedatangan teman-teman yang lain ! Turun dalam kabut yang tebal ! Jadi...... Kembali ke awal ,  menjawab pertanyaan dari teman-teman saya "apa sih nikmatnya naik gunung"?   Saya hanya bisa menjawab " wah , sungguh nikmat ketika berada di atas  AWAN", sensasi perasaan yang tiada duanya ! Ketika pertama kali saya mendaki gunung Kinabalu, Sabah, pikiran saya mengatakan saya tidak akan bisa melanjutkan pendakian ke puncak, tapi ketika Ronny teman saya meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa, yah ternyata memang bisa !  Sungguh mengerikan menengok ke atas , betapa tinggin puncak tersebut dan betapa kecil dan lemahnya saya..Saya hanya bertekad satu langkah yang pasti dilanjutkan dengan langkah-langkah berikutnya akan membawa saya ke puncak ! Begitulah hidup,  seberat apapun hidup haruslah kita mulai dengan 1 langkah kecil yang akan terus diikuti oleh langkah-langkah berikutnya ! Teriring terima kasih saya , untuk Kang Vicky, mas Yos, Ronny, Jacky, mba Erna , mas Agung, mas Budi, mas Budiman,kang Daman, Indra,Chris, Kiki,  Pieter, mba Tika  dan Abaw....dan teman-teman lainnya ! Thank you so much, for giving me chance to climb together ! piairawan's channel-youtube.

Afiah Irawan

/afiah.irawan

A simple woman who love mountain climbing and living in simplicity !
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?