Mohamad Adriyanto
Mohamad Adriyanto Dosen PTS

A fan of Harry Potter books, a blog writer, a Pixar movie lover, an AdSense publisher. a teacher, a retired school principal, a lecturer, a management facilitator, and above all a father. Fulbrighter of 2000. A Twitter early user. A non-WA/BBM user. Now going back to school once again...

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Sekolah Kedokteran Kelas Dunia dari Kuba

22 Maret 2016   14:11 Diperbarui: 22 Maret 2016   19:31 408 1 1

Kita kenal Kuba sebagai negara komunis yang diembargo secara ekonomi selama bertahun-tahun. Kuba adalah negara miskin yang terkebelakang secara ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun ternyata mereka menyimpan mutiara yang luar biasa bernama ELAM (Sekolah Kedokteran Amerika Latin). Sekolah inspiratif yang lahir dari inisiatif pribadi-pribadi idealis dari tempat yang tak terpikirkan.

Berikut terjemahan bebas dari tulisan Sam Loewenberg dan Allison Shelley berjudul "Can Cuban Medicine Help Solve American Inequality?" yang dimuat di Medium. Sebuah tulisan dari orang Amerika untuk masyarakat Amerika, namun sangat relevan bagi kita di Indonesia. Semoga bisa menjadi inspirasi pagi para pemimpin dan pakar kedokteran di Indonesia. Bahwa dari anggaran yang minim dan keterbelakangan, tak ada sesuatupun yang dapat menghentikan kita untuk berbuat yang terbaik, selama niat baik itu selalu tertanam di hati.

[caption caption="Sekolah Kedokteran Kelas Dunia di Kuba"][/caption]

Dapatkah Model Kedokteran Kuba Memecahkan Masalah Amerika?

Rumah sakit Salvador Allende adalah sebuah oase hijau di Cerro, Havana, Kuba, jauh dari pantai, hotel dan restoran di kawasan wisata yang ramai. Awalnya dibangun pada tahun 1899 untuk memberikan perawatan kepada kaum penjajah Spanyol, kampus rumah sakit ini berdiri kokoh dengan bangunan bertiang artistik di tengah-tengah taman yang terawat. Lebih menyerupai sebuah perguruan tinggi seni dibanding sebuah rumah sakit. RS Salvador Allende sekarang menjadi rumah sakit pendidikan, dengan 532 tempat tidur dan lebih dari 5.000 mahasiswa kedokteran dari seluruh dunia.

Samantha Moore, seorang mahasiswa tahun keenam dari Detroit, bekerja di bangsal gerontologi, di mana ia belajar untuk merawat orang tua. Dalam sebuah bangunan lapang diisi dengan ubin berwarna-warni dan pencahayaan alami, pasien geriatri duduk mengobrol di beranda di suatu pagi. Moore membungkuk kearah pasiennya Ofelia Favier, yang telah kehilangan kakinya karena diabetes dan dirawat untuk dehidrasi. Dia pegang tangan halus pasiennya dengan lembut sambil menyapa, "Selamat pagi, Mami," katanya dalam bahasa Spanyol. "Bagaimana perasaanmu? Bagaimana tidurnya? Apakah ada sesuatu yang sakit?"

Ofelia yang berusia 85 tahun tidak dalam mood yang baik. "Aku tidak sakit, aku baik-baik saja, aku tidak demam lagi. Aku lapar. Aku berharap kantin bisa buka segera. "Moore tertawa hangat dan pergi untuk memeriksa sarapan yang terdiri dari beras, kacang, dan telur.

"Saya suka perawatan pasien," kata Moore. Di Kuba, dia menambahkan, siswa belajar tentang pentingnya faktor desain lingkungan - seperti bagaimana mengatur agar cahaya yang masuk di bangsal ini alami, udara bebas-mengalir, dan memberi warna pastel yang menenangkan untuk membantu pemulihan pasien. "Ini adalah pendidikan yang luar biasa; Anda tidak akan pernah belajar ini di Amerika." (Udara segar yang mengalir telah terbukti lebih efektif daripada AC atau sirkulasi udara yang sering Anda lihat di rumah sakit modern Amerika, yang merupakan faktor signifikan dalam menyebarkan infeksi di rumah sakit.)

Moore adalah salah satu dari 93 mahasiswa Amerika yang belajar di Sekolah Kedokteran Amerika Latin, dikenal dengan singkatan Spanyol ELAM. Sekolah ini adalah jawaban Kuba untuk sekolah modern yang top di bagian dunia lain. Tapi tidak seperti di sekolah kedokteran lain, mahasiswa ELAM ini secara khusus dilatih untuk bekerja di masyarakat berpenghasilan rendah. Hampir semua mahasiswa di ELAM bersekolah secara gratis, baik melalui hibah dari pemerintah Kuba atau dibayar oleh pemerintah negara mereka.

Moore, 35 tahun, mengatakan bahwa ia selalu ingin sekolah kedokteran tetapi tidak pernah memiliki uang untuk masuk. Dia mendaftar ke ELAM melalui Pastor for Peace, sebuah organisasi dari New York yang bekerja untuk memilih siswa AS yang bisa masuk ELAM. Moore mengatakan ia terinspirasi oleh khotbah dari direktur pendiri organisasi tersebut, almarhum Pdt Lucius Walker, yang menggambarkan ELAM sebagai tempat di mana orang bisa dilatih sebagai dokter yang bekerja untuk masyarakat kurang mampu dan tidak terlayani dengan baik dalam aspek medis.

Moore, yang kini belajar untuk persiapan ujian akhirnya, sedang mencari peluang menjadi dokter residen penyakit dalam di kampung halamannya Detroit. Dia bahkan ingin melakukan layanan panggilan rumah ke dalam pekerjaannya, praktik yang umum di Kuba namun sangat jarang ada di AS.

Secara global, kebutuhan untuk dokter sangat mendesak. Saat ini terdapat defisit tujuh juta dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya di negara berkembang - dan jumlah itu diperkirakan melonjak dua kali lipat dalam 20 tahun ke depan. WHO memperingatkan bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, seperti mengurangi angka kematian ibu dan bayi, tidak akan tercapai tanpa tersedianya pekerja perawatan kesehatan dalam jumlah yang cukup.

Bahkan dengan semua pendanaan yang tersedia begitu banyak untuk kesehatan global saat ini, pelatihan profesional tetap menjadi salah satu kebutuhan yang paling sedikit mendapat perhatian. Sekolah-sekolah kesehatan yang dikelola serius sangat dibutuhkan dan diperlukan tingkat komitmen yang sangat tinggi untuk mewujudkannya. Kebanyakan bantuan asing saat ini ditujukan untuk mencapai hasil tertentu, seperti memerangi penyakit, menyediakan makanan darurat, atau mengurangi efek dari bencana alam atau krisis.

Model dari Kuba ini mengambil pendekatan yang berbeda secara fundamental, yaitu mengajarkan keterampilan esensial sehingga mereka dapat bertanggung jawab untuk hasil mereka sendiri.

ELAM dibuka pada tahun 1999 saat Badai Mitch yang menghancurkan Karibia dan Amerika Tengah berakhir. Idenya adalah untuk membantu menggantikan dokter yang telah hilang di negara-negara tetangga Kuba. Sejak itu, sekolah ini telah mendidik lebih dari 26.000 dokter dari 124 negara di seluruh dunia.

Dalam satu kelas laboratorium kecil, terdapat dua lusin siswa yang berasal dari Chad, Sierra Leone, Angola, Afrika Selatan, Kongo, Belize, dan New Jersey, AS. "Setiap kali kita belajar tentang epidemi, kita mendengar tentang hal itu dari pengalaman rekan-rekan sekelas yang mengalami langsung di lapangan," kata Agyeiwaa Weathers yang berasal dari Newark, AS. Misalnya, Sada Ly, seorang mahasiswa dari Conakry, Guinea, yang berbagi cerita tentang dampak dari kurangnya pekerja perawatan kesehatan di negaranya selama wabah Ebola tahun 2015. "Seluruh dunia melihat bahwa sistem kesehatan negara saya tidak mampu mangatasi kejadian tersebut," katanya.

ELAM menyediakan enam tahun pendidikan kedokteran, dibandingkan dengan empat tahun di sekolah kedokteran AS. Tahun-tahun akhir dihabiskan untuk belajar tentang kesehatan masyarakat, kedokteran tropis, dan fokus unik dari Kuba pada pencegahan. Dokter belajar untuk membuat diagnosa dengan mengetahui tentang kondisi kerja dan hidup pasien mereka, dan dengan berinteraksi, menyentuh, dan mendengarkan.

Tidak ada laptop di ruang kuliah ELAM. Tidak seperti sekolah kedokteran AS di mana sebagian besar pelatihan berlangsung di dalam kelas, mahasiswa kedokteran Kuba menghabiskan banyak waktu merawat pasien dan melakukan prosedur seperti memasukkan kateter, mengobati patah tulang, atau melahirkan bayi.

Pelatihan langsung di pekerjaan seperti itu sangat membantu ketika mereka kembali ke AS, kata Dr Susan Grossman, yang menjalankan program untuk dokter di Woodhull Medical Center di Brooklyn, AS, yang memiliki tiga lulusan ELAM. Pada saat dokter memulai residensi mereka, kata Grossman, mereka memiliki pengalaman klinis lebih banyak dibanding lulusan sekolah kedokteran dari Amerika.

Woodhull, sebuah rumah sakit umum yang mengkhususkan diri dalam perawatan kesehatan masyarakat yang berpusat pada pasien (patient-centered community care), terbukti sangat cocok bagi para lulusan ELAM. "Ketiga dokter residen ini sangat fokus pada pasien dan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik," kata Grossman. "Saya tidak tahu apakah itu karena pelatihan mereka atau kepribadian mereka. Mereka memiliki pelatihan klinis yang sangat baik. "

Di Kuba, dokter belajar membuat diagnosis yang sebagian besar didasarkan pada pemeriksaan yang berfokus pada individu pasien (in-person examination), dan bisa sampai menghabiskan satu jam dengan pasien jika situasi menuntut hal itu. Mereka menggunakan darah dan tes radiologi untuk mengkonfirmasi diagnosis mereka. Banyak dokter AS terlatih dengan prinsip sebaliknya, mereka bergantung pada tes untuk membimbing diagnosis mereka.

"Di beberapa negara, teknologi telah menjadi pengganti pemikiran medis," kata Dr Enrique Beldarraín, seorang ahli epidemiologi dan sejarah kesehatan masyarakat di Pusat Nasional Ilmu Kedokteran Kuba.

Formalitas sistem medis AS jadi terasa aneh pada awalnya, demikian kata Dr Joaquin Morante, lulusan ELAM yang kini residen tahun ketiga di RS Woodhull. Morante, yang dibesarkan di Bronx dan lulusan sarjana dari Cornell, mengenang saat pernah ditegur oleh seorang dokter ketika ia menyambut pasien dengan, "Hei bro, bagaimana kabarmu?" Dia membela pendekatannya itu, "Saya berbicara dengan mereka sebagai sesama teman New Yorker," katanya.

Morante mengakui ada beberapa masalah medis yang tidak diajarkan di pendidikan dokter Kuba. Salah satunya adalah bagaimana menghadapi resistensi antibiotik luas yang terjadi di rumah sakit AS. Tidak seperti di Amerika, suntikan antibiotik sangat jarang dilakukan di Kuba.

Alumni Amerika lain, Dr. Kereese Gayle, baru saja menyelesaikan residensinya di RS Newark Beth Israel, AS. Dari perspektif kesehatan, transisi terbesar dari Kuba ke AS adalah "dari tidak memiliki cukup pilihan menjadi memiliki terlalu banyak pilihan."

Mahasiswa ELAM jauh dari dimanjakan, kenangnya. Gayle berbagi kamar dengan 9 wanita lain, barang-barang pribadi disimpan dalam locker sepatu, dan harus berbagi satu kamar mandi dengan 50 orang. Siswa mendapatkan tunjangan kecil dan kebutuhan dasar disediakan, seperti deodoran, pembalut, dan pasta gigi. "Kami sudah terbiasa dengan kenyamanan di Amerika," katanya. "Anda tidak memiliki air mengalir 24 jam sehari. Ada pemadaman listrik kadang-kadang. Ini adalah tempat yang menantang."

Cassandra Cusack Curbelo, mahasiswa tahun keenam yang dibesarkan di Miami, bercerita salah satu pengalaman di tahun ketiga dan pertama mulai menangani pasien. Dia bekerja shift malam, dan seorang pria datang keringat membanjiri sekujur tubuhnya, tekanan darah menurun, dan mulai kejang-kejang. Dia akan mengalami shock. Curbelo buru-buru mencoba untuk memasukkan IV ke dalam diri pasiennya ketika tiba-tiba listrik mati. Untungnya, dia memiliki senter kecil, yang ia gigit di antara giginya saat memasukkan IV dan menstabilkan pasiennya. "Ini adalah pengalaman pertama saya dengan pengobatan gerilya ala Kuba," katanya sembari tersenyum.

Kehidupan dokter Kuba tergolong sulit, ada lelucon bahwa mereka mendapatkan gaji yang sama seperti petugas pembersih rumah sakit (bahkan saat ini para janitor berpenghasilan lebih banyak karena ada kenaikan gaji dari pemerintah baru-baru ini sehingga pendapatan mereka naik menjadi sekitar $ 60 per bulan). Tapi hidup dalam kondisi yang sama seperti pasien ternyata memiliki manfaat. Dokter mengenal banyak masalah pribadi, tekanan sosial, dan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan pasien.

Ini menjadi bagian penting dari pendekatan preventif mereka, mengidentifikasi risiko dan memperhatikan pasien.

Praktek yang umum dilakukan para dokter di Kuba adalah melakukan panggilan rumah (house call), praktek yang hanya diketahui orang Amerika dari televisi. "Saya merasa bahwa kedokteran adalah seni, tapi di Amerika itu hanya bisnis," kata Katherine Leger, seorang mahasiswa tahun kelima yang tumbuh di Republik Dominika dan lulusan Ithaca College. Dia percaya kedokteran di AS terlalu materialistis, tidak personal, dan serba buru-buru. "Jika Anda tidak membuat pasien nyaman, bagaimana Anda akan mencari tahu apa sebenarnya masalah mereka?"

Dari awal pendidikan mereka, mahasiswa di ELAM mulai bekerja di klinik lingkungan, atau consultorios. Setiap klinik dikelola oleh dokter dan perawat, yang bertanggung jawab untuk sekitar 200 keluarga. Dokter bertemu pasien secara teratur untuk mengidentifikasi faktor risiko seperti merokok, alkoholisme, dan tekanan darah tinggi. Mereka kemudian mengambil langkah-langkah untuk membantu meringankan masalah-masalah tersebut, seperti mengajak pasien masuk kelompok diskusi kesehatan dan menunjukkan kepada mereka bagaimana membuat perubahan gaya hidup.

"Jika kita memiliki metode yang sama di AS, maka kesenjangan kesehatan pasti akan hilang," kata mahasiswa tahun kedua Nikolai Casanova, mahasiswa 27 tahun kelahiran Jamaika yang dibesarkan di Brooklyn, New York. Dia sangat terkesan bahwa dokter di consultorio-nya kenal nama-nama semua pasien. "Saya ingin tahu berapa banyak dokter di AS yang kenal nama pasien mereka."

Penekanan pada perawatan pencegahan tampaknya benar-benar sukses di Kuba. Para peneliti menemukan bahwa dalam periode 40 tahun di mana Kuba menekankan perawatan primer bertepatan dengan terjadinya penurunan 40 persen angka kematian bayi (bahkan pada saat GNP tidak berubah substansial), serta terdapat bukti juga bahwa terjadi penurunan substansial dalam rawat inap untuk penyakit kardiovaskular.

Salah satu bidang fokus khusus di Kuba adalah perawatan prenatal - seorang wanita hamil di Kuba akan bertemu dokter setidaknya sepuluh kali. Di AS, sebagai perbandingan, lebih dari seperlima dari wanita Amerika keturunan Latin dan Afrika memiliki kesulitan mendapatkan perawatan sebelum melahirkan, demikian menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.

Sebelum Revolusi Kuba, melahirkan adalah proses yang sangat berbahaya, seperti cerita Isolina Martínez Bacallao yang saat ini berusia 81 tahun. Di sistem masa pra-revolusi saat itu, walikota setempatlah yang memutuskan siapa yang harus pergi ke rumah sakit dan yang tidak. Wanita sering meninggal saat melahirkan karena mereka tidak bisa bertemu dokter. "Sekarang perubahan yang terjadi seperti siang dan malam," kata Martinez. "Para dokter yang mencari wanita hamil untuk mengurus mereka."

Fokus pada perawatan primer di Kuba saat ini berasal dari keyakinan bahwa lebih baik mencegah dari pada mengobati, kata Dr Angeline Cedre Cabrera, seorang profesor di ELAM yang mengkhususkan diri dalam kesehatan ibu dan bayi. Selain pelatihan biomedis biasa yang mereka terima sebagai dokter, mahasiswa diajarkan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan etika. "Di sini, siswa belajar untuk menjadi seorang dokter ilmu pengetahuan sekaligus dokter dari hati nurani," katanya.

Apakah pendekatan Kuba untuk pengobatan ini akan bisa menyebar ke seluruh dunia? Masih harus dilihat. Ribuan mahasiswa kedokteran Afrika Selatan telah datang ke ELAM dalam beberapa tahun terakhir untuk membantu mengisi kekurangan besar akan dokter di negara itu. Fokus Kuba pada pencegahan adalah perubahan besar bagi Afrika Selatan, kata Jalkie, mahasiswa tahun ketiga. Di Afrika Selatan, ia mengatakan, "kami menunggu orang sakit datang dan kemudian mencoba untuk membantu mereka."

Namun, lepas dari itu semua, pendidikan dokter Kuba memiliki keterbatasan yang serius. Mereka yang mempekerjakan lulusan Kuba di luar negeri kadang-kadang mengeluh bahwa dokter-dokter tersebut kurang memiliki teknik untuk mengobati pasien yang benar-benar sakit, dan tidak mengikuti teknologi dan perkembangan obat-obatan terbaru. Maklum, kita tahu bahwa Kuba adalah negara miskin yang terisolir dari dunia luar karena embargo ekonomi selama bertahun-tahun.

Dan politik kesehatan di Kuba, tentu saja, sangat sensitif. Pemerintah Kuba tetaplah rezim otoriter; kantor pejabat publik dihiasi dengan foto-foto Fidel dan Raul Castro, dan kadang-kadang Hugo Chavez, kata-kata mutiara mereka ditampilkan secara mencolok di tempat-tempat publik. Dan meskipun sistem medis Kuba banyak dipuji, namun Departemen Kesehatan Masyarakat tetap sangat sulit diakses oleh wartawan dan peneliti akademis.

Tapi sistem Kuba telah menunjukkan kepada dunia bagaimana suatu populasi bisa lebih sehat walaupun dengan anggaran sangat minim, demikian pula mereka mungkin tidak memiliki sumber daya untuk menangani penyakit kompleks atau epidemi yang besar, kata Dr Daniel Palazuelos, seorang dosen di Harvard Medical School, yang memiliki pengalaman bekerja dengan dokter Kuba di Haiti dan Meksiko. "Mereka seperti dokter keluarga AS yang benar-benar baik - mereka akan menjawab dengan baik 95% dari pertanyaan yang ditanyakan oleh mayoritas masyarakat," katanya.

Di rumah sakit Salvador Allende, di bangsal gerontologi yang sangat nyaman, Julián anak Ofelia Xavier duduk dekat pintu kamarnya. Ofelia telah dirawat selama 24 jam, dia dijaga bergantian oleh putri dan saudaranya. Ini adalah praktek standar untuk semua pasien, anggota keluarga atau pengasuh lainnya harus selalu ada untuk mendampingi.

"Saya di sini untuk membantunya jika dia ingin keluar dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi, atau berjalan," kata Julián. "Dia adalah keluarga saya, jadi saya merawatnya."

Samantha Moore mengatakan dia bertekad untuk menerapkan pelajaran dan pengalaman yang didapatkan di Kuba saat kembali ke Detroit nanti. "Pasti bahagia sekali jika suatu saat aku berjalan-jalan di suatu tempat dan seseorang manyapa dengan ramah, 'Hei, Doctora, bagaimana kabarmu?'"

-----------

Sam Loewenberg dan Allison Shelley melaporkan untuk International Reporting Project (IRP). Allison Shelley adalah seorang fotografer dokumenter yang fokus pada kesehatan perempuan dan keadilan, dan isu-isu perpindahan. Situsnya ada di www.allisonshelley.com.

Proyek ini didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation. Kami tetap memiliki kebebasan editorial. // Lisensi Creative Commons hanya berlaku untuk teks artikel ini. Semua hak dilindungi dalam gambar. Jika Anda ingin mereproduksi teks untuk tujuan non-komersial, silahkan hubungi kami.