Kencan Pertama

09 Mei 2013 11:44:31 Dibaca :

Tomi mematut pakaiannya.

"Hmmm, ternyata kamu keren juga!"

Terdengar pujian dari bibirnya sendiri. Ah!

"Kamu cantik sekali, Ratri," ia berkata-kata sendiri.

"Kamu juga ganteng," jawaban yang terucap terdengar feminin, dan lagi-lagi keluar dari bibirnya sendiri. Hmmm, kencan pertama membuat nervous. Ia merasakannya, sangat berdebar-debar.

Tomi menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Beberapa kali sebelum akhirnya ia mantap melangkah keluar kamar.

Sepeda motor matic di teras sudah dalam posisi menghadap ke arah kemana ia akan pergi. Menjemput Ratri, dan membawanya pergi untuk kencan pertama. Buru-buru ia menaiki dan mendorongnya dengan kaki turun ke halaman hingga pintu pagar. Menyalakan mesin di teras akan mengundang perhatian Lina, adik semata wayangnya yang masih TK. Lina selalu ribut ingin ikut jika mendengar suara motornya dinyalakan dan ia selalu harus bersusah payah untuk membujuknya lebih dulu.

Ia tak mau melakukan itu malam ini. Ratri pasti sudah menunggu, dan ia tak mau kehilangan waktunya untuk saat-saat paling berharga, kencan pertama, karena harus membujuk Lina. Membuatnya berhenti menangis.

Maka ia menyalakan motornya di jalan dan pergi dengan lega.

------

Ratri sudah berdiri di depan mulut gang dan tersenyum manis menyambutnya. Tomi menahan rasa gemetarnya melihat Ratri memakai gaun warna putih yang cantik.

"Kamu takut aku tak datang, makanya kamu tunggu aku di depan gang begini?" tanya Tomi.

Ratri mengangguk dengan senyum termanis, senyum yang mampu melontarkan hatinya, melambung tinggi-tinggi.

"Kamu cantik sekali, Ratri," kata pujian yang ia persiapkan keluar dari bibirnya.

"Simpan rayuanmu," sahut Ratri. Bibir mungil manisnya terus mengulas senyum.

"Kita pergi sekarang?"

"Bawa aku kemana pun kamu pergi," Ratri mencubit lengannya. Tomi meringis-ringis dan hatinya semakin melambung.

Dadanya berdegup-degup kencang sepanjang perjalanan. Ratri memeluk pinggangnya begitu erat. Rasa senang bercampur bergulung-gulung dengan rasa tak percaya, kencan pertama ini akan begitu indah.

------

Mereka tiba di depan sebuah restoran yang direkomendasikan Winda untuk kencan. Kata teman kantornya itu, dulu ia juga di restoran itu pada kencan pertamanya.

"Tempat dan menunya sangat romantis," kata Winda. "Tempat yang terjangkau kita-kita."

"Memang harus begitu ya, kencan pertama?"

"Di mana pun sebenarnya sama saja, tapi mestinya kau ingin kencan pertamamu berbeda dan berkesan bukan?"

Tomi memperhatikan restoran yang dikatakan romantis itu. Tak ada mobil atau motordi pelataran parkir. Hanya motornya saja satu-satunya.

"Sepi sekali," ia mengedar pandang ke sekeliling.

"Bukankah lebih baik begitu?" kata Ratri sembari menggamit lengannya. Tomi menoleh pada Ratri yang menatapnyasendu.

"Eee, iya. Tapi, kita tidak salah kan, ini tempat yang dikatakan Winda?"

"Tidak, tidak salah. Memang benar ini tempatnya."

"Tapi, sepi sekali. Ini malam minggu yang cerah, dan ini tanggal muda. Semoga saja restoran ini masih punya pelanggan."

Ratri tertawa kecil mendengar celotehannya. Tomi menoleh pada Ratri. Menurutnya, tawa Ratri tak secantik dan semerdu biasanya.

"Sejak kapan tawamu berganti aliran?"

Ratri tersenyum lagi tanpa jawaban.

Tapi ia tak ingin peduli tentang itu. Ia lebih mempedulikan selentingan dari dalam hatinya, tentang dua buah kata, semoga cukup, akan lembar-lembar dalam dompet kulit cokelatnya.

Tak akan menjadi masalah jika semuanya harus ditinggalkan di meja restoran untuk membayar semuanya. Makan malam untuk kencan pertama. Yang menjadi masalah adalah jika semuanya tak cukup.

"Kurasa aku tahu kenapa restoran ini sepi," tomi membisikkan sesuatu di telinga Ratri. "Lihat wajah pelayan itu. Dingin dan sama sekali tak ramah. Aku heran, si Winda bisa mengatakan ini tempat yang romantis."

"Mungkin karena sepi," ratri menyahut.

"Tapi ini terlalu sepi, hanya kita berdua dan dua pelayan yang mukanya pucat itu," ujar Tomi. "Kurasa kita salah tempat."

"Tidak, memang ini tempatnya," Ratri menyahut.

"Kamu yakin?"

Anggukan dan senyum Ratri sekali lagi menjadi jawaban yang membuatnya yakin.

"Silakan," pelayan itu meletakkan buku menu di depan mereka. tomi mengamatinya. Bukan buku menu, melainkan wajah pelayan yang tak sedikit pun tersenyum.

Mungkin memang susah untuk tersenyum jika kau bekerja di restoran yang bahkan di malam minggu pun sepi pengunjung.

"Apa ini?" Tomi mengerutkan kening melihat gambar-gambar menu yang tersedia. "Menunya aneh."

"Kau akan menyukainya," ujar Ratri. "Aku akan memilihkannya untuk kita."

Sedikitnya, ia merasa malu pada Ratri. Ia merasa terlalu udik dan asing dengan menu-menu restoran. Pelayan itu kemudian meninggalkan mereka setelah mencatat apa-apa yang disebutkan Ratri.

Semuanya menu yang aneh.

Saat menunggu makanan yang terlalu lama telah mereka lewatkan dengan sesuatu yang begitu menyenangkan dan membuatnya tenggelam. Ratri tak keberatan ketika ia memegang jari jemarinya dan membelai rambutnya. Pun ia kemudian duduk di samping Ratri, dan ia teringat sesuatu.

Akan mengurangi keasyikan jika tiba-tiba ibu menelepon dan menyuruhnya segera pulang. Maka ia mematikan teleponnya.

Ketika makanan yang kemudian diantar pelayan berwajah dingin itu memenuhi meja, maka makanan itu bukan lagi sesuatu yang menarik. Mereka tak menghiraukan makanan yang disajikan, bahkan tak menghiraukan pelayan yang mempersilakannya. Ratri telah membuatnya tenggelam...

------

Senin pagi Ratri tak menemukan semangat, ia tetap tak bisa melupakan kekecewaan itu. Kencan pertama yang gagal. Ia menunggu di malam minggu hingga tengah malam, dan Tomi tak datang. Tanpa kabar, tanpa alasan. Bayangan indahnya kencan pertama di malam minggu buyar sudah.

Tomi jahat! Tomi pembohong! Bahkan teleponnya tak bisa dihubungi.

Ah, ia sudah memutuskan untuk tak mempedulikan Tomi.

"Ratri..."

Tomi mencegatnya di depan pintu masuk ke ruangannya.

"Semalam aku menghubungimu..."

Ratridiam dan menghindar dari hadangan Tomi.

"Aku akan menjelaskannya, kamu pasti kesal aku tidak datang!" Tomi mencegatnya lagi. "Ini mungkin konyol, tapi..."

"Kamu memang konyol!"

"Aku tahu, ini mengecewakan. Tapi kau akan tahu kenapa," Tomi mencoba meyakinkannya, tapi Ratri bergeming. Ia menerobos hadangan Tomi dan tetap tak mempedulikan bagaimana pun Tomi mengejar sampai ke meja kerjanya sambil terus menceritakan semua alasannya.

Tapi baginya, apa pun yang dikatakan Tomi tak lebih dari sekedar alasan saja.

"Aku datang, Rat," ujar Tomi. "Kau sudah berdiri di depan mulut gang menuju rumahmu. Aku bawa kamu ke tempat yang kita janjikan, restoran yang diceritakan Winda."

"Aku berdiri di depan gang?" tanya Ratri. "Aku menunggumu di rumah! Bukan di depan mulut gang, dan aku tak melihat kamu datang!"

"Itu yang ingin aku..."

"Sudahlah!" kata Ratri. "Kita gagal. Lupakan saja, karena kamu bahkan tak mengaktifkan teleponmu!"

------

Tomi keluar dari ruangan Ratri dengan wajah lemas. Ratri tak bisa menerima penjelasannya.

"Bagaimana kencan kalian?" Winda bertanya antusias ketika ia berpapasan dengannya.

Tomi tersenyum lebar.

"Syukurlah. Selamat, ya?"

"Syukur? Selamat? Kacau, Win! Semua kacau!"

"Lho?"

Tomi bercerita semua tanpa kecuali. Tentang Ratri yang sudah berdiri menanti di depan mulut gang menuju rumahnya dengan gaun putih yang cantik, tentang restoran yang sepi dengan dua pelayan yang tak pernah tersenyum, tentang menu-menu yang sungguh asing baginya, tentang ratri yang membuatnya lupa diri, dan kenyataan bahwa ia mendapati dirinya tidur telungkup di atas gundukan makam di minggu pagi.

Winda menatapnya dengan mulut terbuka dan ekspresi keheranan dan mungkin juga tak percaya seperti Ratri.

"Kau tahu, aku mendapati ada banyak wadah dari daun pisang, isinya cacing, daun-daun, dan bangkai katak kering," Tomi mengakhiri ceritanya.

"Terus?"

"Aku kaget dan bingung. Bagaimana mungkin. Tapi aku memang benar-benar ada di kuburan dan motorku terparkir di luar kuburan!"

"Jadi, kau pergi dengan siapa?"

Tomi menggeleng lemas. "Yang jelas Ratri menungguku sampai malam dan aku tak datang. Sekarang dia tetap marah padaku."

"Kamu sudah ceritakan semua padanya?"

"Dia mungkin harus mendengarnya lebih dulu dari orang lain," ujar Tomi. "Mestinya aku menjemput dia, bukan setan yang mirip dia!"

Winda menurunkan kedua bahunya.

"Ini bukan salahmu, Ratri akan mengerti hal ini."

------

Ratri memandangnya sendu. Ada senyum di bibirnya. Tomi merasa senang, mungkin Winda telah membantu meyakinkan pada Ratri apa yang dialaminya di malam minggu, pada kencan pertama mereka.

"Aku minta maaf, ya?"

"Pastikan kamu menjemput Ratri yang berada di rumahnya, bukan Ratri yang berdiri di depan mulut gang di bawah pohon asam!" ujar Ratri sembari tersenyum lagi.

"Aku tak akan salah menjemput lagi."

Di antara perasaannya yang lega, tiba-tiba terselip sesuatu yang membuatnya merinding. Senyum Ratri siang ini sama seperti senyum Ratri yang berkencan dengannya malam minggu kemarin...

Magelang, Mei 2013

Adri Wahyono

/adriwahyono

TERVERIFIKASI (HIJAU)

I am .... I am
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?