HEADLINE HIGHLIGHT

Sebuah Kejutan di Laos

02 Agustus 2012 17:17:13 Dibaca :
Sebuah Kejutan di Laos

Pada sebuah resepsi diplomatik di salah satu hotel di Sentosa Island, Singapura, saya bertemu dengan Duta Besar Laos untuk Singapura, YM. Tuanh Vorasanth. Saya lah yang lebih dahulu menyapa, karena saya sangatfamiliar dengan wajahnya. Saya ingat bahwa ketika penugasan di Laos dulu, 1995-1997, saya sering melihatnya di antara jajaran pejabat Pemerintah Laos. “Excuse me, Sir... May I introduce myself?” Itulah pertanyaan standard yang biasa kami ucapkan ketika memperkenalkan diri kepada orang yang baru kita kenal. Saya ulurkan tangan untuk bersalaman, yang disambutnya dengan senyuman sambil mengulurkan tangan juga. “Yes please. You are..?”, katanya. “My name’s Djatmiko, Minister Counsellor from the Indonesian Embassy”, jawab saya. Kalimat saya sebetulnya belum selesai dan akan saya lanjutkan dengan kalimat berikutnya, namun beliau langsung menjawab, “My name’s Tuanh Vorasanth, Ambassador of Lao” Dari sikap dan cara Pak Tuan ini menjawab perkenalan saya, bisa saya simpulkan bahwa dia memang tidak mengenal saya. Akhirnya saya jelaskan bahwa saya pernah bertugas di Laos tahun 1995-1997 dan sebenarnya sudah sering bertemu dan melihat wajah beliau pada berbagai kesempatan acara kenegaraan di Laos saat itu. Atas penjelasan tersebut, ia sangat kaget, bahkan meminta maaf karena merasa tidak memperdulikan saya, dan tiba-tiba suasana perkenalan menjadi “hangat” dan sukacita layaknya dua orang bersaudara yang sudah lama tidak berjumpa. Lalu dengan spontan, saya ucapkan, “Sa bai di” (artinya= apa khabar dalam bahasa Laos-Pen) yang dijawab dengan sa bai dijuga. Kemudian digenggamnya tangan saya erat-erat sambil bercerita panjang lebar mengenai masa lalu, masa-masa ketika saya masih disana. “Thank you…thank you so much, Mr. Djatmiko! You introduced yourself..”, katanya sambil tetap tersenyum gembira. Lalu kami berdua pun asyik tenggelam dalam kenangan peristiwa dan suasana di Laos saat itu. Pak Tuanh pun sempat menanyakan khabar mengenai beberapa teman saya sesama staf di KBRI saat itu. Lalu, ketika saya tanya mengenai bagaimana keadaan Laos saat ini, beliau dengan antusias menerangkan panjang lebar bahwa keadaan Laos saat ini sudah berubah dan jauh berbeda dengan pada masa saya dulu.“Now everything has changed, developed.. so many hotels.. entertainment.. many embassies.. schools… many things..everything…changed…”, demikian kurang lebih diucapkan oleh Pak Tuan dengan bahasa Inggeris yang khas, dialek Laos. Saya mengangguk-ngangguk mendengar penjelasannya karena saya pun menduga pasti telah terjadi banyak perubahan yang pesat di Laos karena dalam 15 tahun terakhir yang saya saksikan, konstelasi dan lingkungan regional mapun global pun telah mengalami perubahan yang signifikan. Sudah barang tentu, hal tersebut telah memberi dampak besar terhadap perkembangan masing-masing negara, termasuk Laos. Interkasi dan kerjasama dengan dunia luar semakin intensif, sehingga Laos sudah tidak lagi menjadi negara yang terisolir. Laos pun kemudian telah bergabung dengan ASEAN sehingga memberinya peluang lebih besar untuk bekerjasama dan berkembang menyesuaikan diri dengan negara-negara tetangganya. “Please come, come again to Laos, Mr. Djatmiko.. Laos has changed a lot..!” Ajaknya antusias. “I’d love to, Excellency..  I miss Laos very much.. It was my first posting, very special and memorable place in my heart..  I look forward to visiting Laos!”, kataku menegaskan. Pertemuan tersebut menjadi titik awal kembalinya ingatan saya ke masa silam di Laos. Di sini, di Singapura, kenangan saya selama penugasan di Laos 15 tahun lalu, secara perlahan muncul kembali. Ya, muncul kembali dan susah dihilangkan. Betapa tidak? Laos adalah negara dimana saya pertama kalinya ditugaskan oleh Kementerian Luar Negeri di Perwakilan R.I. Lalu, perlahan-lahan memori saya pun terbang jauh ke masa, sejak hari pertama kedatangan saya bersama keluarga di Wattay Airport, Vientiane (ibukota Laos) untuk memulai kehidupan baru, hingga hari terakhir saat keberangkatan dari Wattay Airport menuju penugasan berikutnya. Kami sekeluarga tinggal di Laos selama dua tahun tiga bulan, hingga kemudian dimutasikan ke KBRI Tokyo (Jepang). Meskipun relatif singkat, namun terasa penuh kenangan. Beragam peristiwa dan pengalaman pun saya alami. Namun, sejauh yang saya ingat dan rasakan, keberadaan saya sekeluarga di Laos saat itu tak ubahnya terasa seperti tengah berada di lingkungan sebuah pedesaan di Jawa, karena suasana kehidupan masyarakat dan lingkungan sehari-harinya mirip dengan suasana pedesaan. Bayangkan! Setiap hari kami berpapasan dan bergaul dengan orang-orang, yang meskipun baru kenal, tetapi dengan wajah dan penampilan fisik yang tidak jauh berbeda dibanding orang Indonesia. Kaum wanitanya berpakaian kain (sin), semacam “jarik” (bahasa Jawa-pen) dengan tutur kata yang lemah lembut. Kaum laki-laki nya sopan dan ramah, meskipun bahasa yang digunakannya berlainan. Ringkasnya, saya hidup di tengah masyarakat dengan nilai tata krama dan norma kesopanan maupun etika yang kurang lebihnya tidak berbeda dengan yang ada di desa saya (Kebumen). Seperti halnya orang di desa, penampilan sehari-hari mereka sangat sederhana, lugu dan ramah. Perawakan mereka rata-rata kurus dan terkesan bukan orang yang garang ataupun energik, namun lebih mengesankan sebagai orang yang pasrah dan tidak punya ambisi. Kehidupan dijalani apa adanya, sangat santai dan cenderung lamban di segala hal. Usia harapan hidupnya (live expectancy) saat itu rata-rata 47 tahun,  kalau tidak salah, dengan makanan pokoknya ketan yang dibungkus bambu, nasi, daun-daunan. Mereka juga biasa memakan semut merah, yang biasa kita jumpai di pohon dan gigitannya membikin badan sakit dan gatal. Satu kebiasaan orang Laos yang mengejutkan dan penuh kepasrahan adalah kebiasaannya melaksanakan tidur siang. Hal ini berlaku di semua kalangan. Pernah suatu hari, saya mengantar isteri ke pasar beli sayuran pada saat jam makan siang. Sesampainya di warung tersebut, penjualnya sedang tidur sambil duduk bersandar di depan sayuran dagangannya. Pemandangan itu  berlaku untuk warung-warung yang lain di sebelahnya.  Demikian pula, suatu siang saya pergi ke kantor pos untuk mengirim surat ke Indonesia. Sesampainya disana, apa yang saya jumpai adalah sebuah ruangan yang agak gelap karena listriknya dimatikan, sementara para pegawainya tidur di atas meja-meja kerja yang sudah ditata sedemikian rupa. Masya Allaah Lagi-lagi, saya teringat firman Allah Swt, bahwa “Aku ciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal-mengenal..” Betapa bersyukurnya saya dan keluarga telah diberi kesempatan lagi oleh-Nya untuk membuktikan kembali firman-Nya sehingga mengenal jenis bangsa yang lain, suku yang lain dengan bahasa yang lain pula. Alhamdulillaah, ya Allah… Dari sekian pengalaman dan kesan yang saya miliki, antara lain adalah menyangkut keberadaan sebuah masjid satu-satunya, tempat kami melaksanakan shalat Jum’at di Laos. Di masjid itulah, kami umat Islam yang jumlahnya terbatas bisa kumpul bersilaturahmi, utamanya setiap hari Jum’at. Di masjid itulah, kami bisa mendengarkan suara adzan yang kami rindukan sebagai tanda waktu shalat. Dalam keseharian, adzan tidak pernah terdengar berkumandang karena tidak ada masjid di sekitar tempat tinggal saya ataupun di tempat lainnya. Meski suasana lingkungan setempat mirip dengan suasana di desa saya, tetapi tidak pernah terasakan suasana islami, karena penduduk Laos bukan penduduk muslim. Karenanya, hari Jum’at betul betul menjadi hari istimewa dan saya rindukan, untuk sekedar me-refresh bathin seminggu sekali. Seperti halnya siang itu, hari Jum’at di bulan Januari 1997, seperti biasa saya menuju masjid yang jaraknya sekitar 5 km dari kantor saya di Phone Kheng Road, Vientiane, Laos. Seperti biasa pula, mobil saya (Hyundai Accent, warna hijau) harus melalui jalan-jalan tanah berdebu melewati beberapa perkampungan dan gang-gang sempit di pinggiran kota Vientiane. Apa boleh buat, karena itulah satu-satunya masjid yang ada di Vientiane dan sudah turun temurun menjadi tempat kami, orang-orang Kedutaan Besar RI (KBRI) Vientiane, melaksanakan ibadah Jumat. Setiap Jum’at siang, bisa dipastikan saya dan teman-teman KBRI pasti melaksanakan ibadah Jum’at disitu, kecuali berhalangan. Masjid tersebut menurut cerita banyak orang, awalnya dibangun oleh KBRI. Sebagai negara berpenduduk 4,5 juta jiwa (sensus 1995) yang mayoritasnya beragama Buddha, komunitas orang Islam memang jarang, bahkan bisa dikatakan tidak ada di Laos. Yang saya tahu persis saat itu, komunitas muslimnya hanyalah para jamaah masjid saja yang hanya terdiri dari sekitar 30 orang (termasuk ibu dan anak) dan merupakan kumpulan dari 4-5 keluarga. Mereka tinggal di sekitar Masjid dan konon asal-usulnya bukan orang Laos asli tetapi pelarian dari Kamboja selatan. Ketua komunitasnya bernama Pak Yahya. Dengan kondisi seperti itu, hanya di masjid itulah saya bisa menjumpai aktivitas keagamaan seperti pengajian, ceramah dan lainnya karena diadakan oleh mereka sendiri. Selebihnya, di tempat lain, tidak akan dijumpai hal-hal berbau Islam, karena orang Laos hampir semuanya beragama Buddha yang cukup taat. Rumah kediaman penduduk umumnya sederhana, tetapi tempat-tempat ibadahnya yang disebut “wat” (semacam candi) sangat bagus dan kadang terkesan mewah. Karenanya, umat islam seakan terisolir, karena memang minoritas dan sangat tidak diperhitungkan keberadaannya. Orang-orang Laos mengenal Islam/muslim sebagai “makhluk asing” yang tidak dikenal sama sekali. Masjid tersebut tidaklah besar, luasnya sekitar 150 m2 dan bentuknya sederhana, seperti layaknya mesjid di kampungku. Sumber biaya untuk pemeliharaan masjid berasal dari kalangan jamaah sendiri dan dari staf KBRI yang tidak seberapa. Sungguh memperihatinkan, tetapi itu adalah keadaan maksimal yang bisa dimiliki. “Yang penting, kami bisa beribadah, sholat dan mengaji disini, Pak Djatmiko..” begitu penjelasan Pak Yahya suatu ketika kami berbincang-bincang mengenai keadaan masjid. Biasanya, yang menjadi khotib Jum’at adalah seorang dari kalangan mereka yang dipanggil Ustadz. Orangnya masih muda (usia sekitar 30-an tahun), perawakan sedang, kulit bersih cenderung putih dengan muka yang bersinar. Sang Ustadz ini khabarnya baru setahun tinggal di masjid itu. Khabarnya pula ia sebenarnya seorang polisi Kamboja yang kemudian melarikan diri (desersi) ke Laos karena tidak tahan adanya keributan di tempat tinggalnya. Khutbah yang disampaikannya setiap Jum’at menggunakan bahasa Laos (pasa Lao) karena bisa dimengerti oleh para jamaah, selain orang-orang KBRI. Dia pun selalu ramah dan merasa dekat dengan kami, meskipun terdapat kendala bahasa dalam berkomunikasi. Setelah mobil saya parkir, saya pun masuk ke masjid yang ternyata sudah banyak Jamaah Jum’at yang hadir. Setelah menunaikan shalat sunat dua rakaat (tahyatul masjid), lalu saya pun duduk bersama yang lain sambil menunggu dimulainya khotbah. Namun setelah jamaah menunggu cukup lama, sang khotib ternyata tak kunjung tiba. Jamaah pun mulai resah dan bingung saling pandang satu dengan yang lain. Ketika saya palingkan muka ke Pak Yahya, dengan isyarat penuh tanya, beliau menggelengkan kepala lalu berdiri mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya…. Sejak itulah sebuah “kejutan” pun akhirnya terjadi dan bermula. Didapatkan kenyataan bahwa sang khotib yang ditunggu-tunggu memang tidak akan pernah datang, karena menurut salah seorang jamaah, ia kemarin pamit untuk kembali ke Kamboja. Si jamaah mohon maaf karena lupa untuk segera menyampaikan kepergian Khotib kepada Pak Yahya. Sementara waktu pun terus berjalan, khutbah Jum’at tentunya harus segera dimulai. Sebagai solusinya, saya sarankan kepada Pak Yahya sebagai tokoh para jamaah agar beliau yang menjadi khotib. Menurut penilaian saya, Insya Allah ia mampu, melihat penampilannya yang “tawadhu” selama ini. Tapi… di luar dugaan, Pak Yahya menolak mentah-mentah dan meyakinkan saya dan jamaah bahwa dirinya tidak mampu. Sebaliknya, ia bahkan meminta balik agar saya lah yang menjadi khotib… Semua pandangan mata jamaah tertuju ke arah saya, dengan tatapan mata yang senada dan seolah seperti dikomando, mengharapkan kesediaan saya untuk menjadi khotib saat itu juga. Masya Allah! Pikiran saya kacau dan bingung. Apakah ini anugerah atau musibah.? Saya sempat terdiam seperti salah tingkah dan mempertanyakan diri sendiri, “Mengapa harus saya?” Apakah karena saya orang KBRI? Di tengah kebingungan dan kebimbangan, saya terus berdialog dengan diri sendiri. Saya tiba-tiba teringat bahwa ini termasuk kategori keadaan darurat, dan saya mendapat amanah. Karena ini amanah, maka saya tidak boleh menolak. Allah pasti punya rencana terhadap semua ini. Tetapi, bagaimana bisa saya jadi khotib sementara pengetahuan agama saya pun terbatas. Saya tidak punya background ilmu agama selain hanya merupakan kumpulan pengetahuan yang sumbernya “memungut” dari jalanan? Ya Allaah… tolonglah hamba-Mu ini.. Akhirnya, setelah diperkuat dengan desakan terus menerus dari jamaah dan teman-teman kerja, dengan mengucapkan “bismillaaahirrohmaanirrahiim..” saya pun berdiri menuju mimbar. Tanpa bekal dan tanpa rencana. Bahkan, setelah saya berdiri mengucap salam, lalu duduk sambil mendengarkan adzan, saya pun masih belum tahu apa yang akan saya sampaikan sebagai khotib. Saya terus berdo’a agar diberi kemudahan oleh Allah Swt. Namun, tetap saja, pikiran saya masih “blank”, belum dapat satu topik pun yang bisa saya sampaikan. Alhamdulillaah, sambil berfikir keras dan memohon pertolongan Allah, tiba-tiba  mata saya melihat sebuah buku khutbah Jum’at berbahasa Indonesia (sudah kumal dan edisi lama) di laci mimbar. Segera saya ambil dan baca sekilas (sambil mendengarkan adzan), lalu saya putuskan untuk menggunakan buku tersebut.  Secara cepat, otak saya bergerak lagi dan berpikir lagi, lalu timbul pertanyaan, “Bagaimana saya menyampaikan khotbah ini, apakah dengan bahasa Indonesia? Sebab, sudah pasti mayoritas jamaah tidak akan mengerti isi khutbah karena tidak satu pun yang bisa berbahasa Indonesia selain Pak Yahya dan beberapa teman dari KBRI. Bila itu terjadi, maka khutbah tidak akan komunikatif. Pake bahasa Inggeris?  Wah… akan tambah tidak mengerti lagi. Mayoritas jamaah hanya bisa berbahasa Laos, sementara saya tidak menguasainya. Saat itulah saya kemudian teringat pesan guru ngaji saya waktu kecil, bahwa dalam melaksanakan ibadah wajib apapun, harus selalu dijaga dan diperhatikan rukunnya. Rukunnya.! Rukunnya..ya rukunnya.. Baik, yang saya tahu, rukun khutbah antara lain adalah didahului dengan pernyataan sykur kepada Allah swt., mengajak jamaah untuk selalu menjaga ketakwaan, menyampaikan shalawat kepada Rasulullaah Saw.. Kalau masalah bahasa, kan sifatnya fleksibel, begitu pikir saya. Akhirnya, bismillaah, saya ikuti dan saya baca apa yang tertera dalam “Buku Khutbah Jum’at” tersebut, tetapi hanya ayat-ayat Al_Quran dan Hadits saja, sedangkan penjelasan dan keterangan yang tertulis dalam bahasa Indonesia tidak saya baca. Dan alhamdulillaah, khutbah pun selesai, meski dengan bacaan yang terbata-bata.. Tetapi, “kejutan” yang menimpa saya ternyata berlanjut ketika saatnya shalat berjamaah, terulang kembali suasana seperti tadi. Tidak seorang pun bersedia menjadi imam dan semua mata tertuju kepada saya. Ya Allah, Engkau pasti punya rencana.. Bismillaah, saya pun menjadi imam meskipun dengan bacaan yang menurut saya, belumlah memadai dan fasih. Hingga akhirnya shalat pun selesai dan semua jamaah, tanpa kecuali menyalami saya sambil mengucapkan terima kasih. Sejak itu, hubungan pribadi saya dengan para jamaah menjadi semakin akrab seperti layaknya antar saudara. Saya pun kemudian semakin sering berkomunikasi dengan  mereka. Tidak hanya hari Jum’at, tapi di hari lain pun kadang saya datangi mereka di masjid sekedar untuk ngobrol, bersilaturahmi dan melihat kegiatan masjid. Akhirnya, saya pun semakin memahami keadaan mereka dan sering memikirkan mereka. Semakin mengenal mereka, semakin kagum saya dibuatnya. Dengan keterbatasan yang dimiliki, para jamaah tetap bisa mempertahankan akidah dan keimanannya meskipun terisolir dan hidup seadanya. Mereka tetap “survived” dan menjalani kehidupan tanpa keluhan. Subhanallaah! Betapa banyak hikmah saya dapatkan dari keberadaan mereka saat itu. Dalam pandangan saya, mereka seperti tidak antusias memikirkan duniawi, kesederhanaan hidup mereka jalani dan ibadah pun mereka patuhi. Sedangkan saya sendiri? Airmata saya kadang menetes bila merenungkan dan membayangkan mereka. Apalagi melihat kenyataan bahwa sebenarnya mereka pun termasuk kaum kebanyakan, yang mempraktekan ajaran Islam sesuai kemampuan dan kebiasaan saja. Namun mereka tetap istiqomah, berada di lingkungan “asing” dengan tetap mengeggam keimanan dan ketakwaan. Mereka tetap menyesuaikan diri, berbaur dengan penduduk asli tanpa harus mengorbankan aqidah. Seperti halnya penduduk setempat, mata pencaharian mereka pun ada yang berjualan, sebagai buruh, bercocok tanam dan ada juga yang memiliki toko kelontong (jual beli). Dan, bagi kami sekeluarga, hal ini sangat membantu karena mempermudah dalam mendapatkan bahan makanan halal yang tidak ditemui di tempat lain. Mereka tidak/belum memiliki seorang ustadz atau ahli agama yang dapat lebih membimbingnya dalam keseharian. Sebelumnya, setiap sore ada pengajian, belajar membaca Quran dan keagamaan untuk anak-anak, maupun remaja. Namun sejak ustadznya kini tidak ada, belum didapatkan penggantinya sehingga pengajian pun tidak berjalan semestinya, dan hanya disampaikan oleh Pak Yahya bila sedang luang dari kesibukan pekerjaannya sebagai pedagang. Selebihnya, mereka hanya berkumpul saja di masjid, saling mengajari satu sama lain sebisanya dan berbincang-bincang. Keadaan itu mereka terima dan jalani dengan keikhlasan dan seakan tanpa keluhan. Ya, tanpa keluhan.. Tidak ada yang membuat mereka khawatir, tidak ada yang membuat mereka resah karena toh kehidupan sebenarnya memang sudah ada yang mengatur, yaitu Sang Maha Pengatur, Allah Swt. Atas semua itu, saya teringat ayat Al-Quran yang artinya: “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surge) danlimpahan karunia_nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya” (An-Nisa:175) Sejak saya “ditodong” untuk menjadi khotib siang itu, dengan seijin Allah swt, akhirnya jadilah saya menjalankan tugas khotib rutin setiap Jum’at di masjid tersebut sambil menunggu seornag ustadz yang sesungguhnya tiba, meskipun belum tahu kapan hal itu terjadi. Pak Yahya sendiri sudah berupaya untuk mendatangkan seorang ustadz seperti sebelumnya, yang bersedia menetap permanen di masjid. Namun kami semua tahu dan menyadari, bahwa kami harus bersabar karena tidaklah mudah mendapatkan seorang Ustadz seperti diinginkan, yang bersedia tinggal menetap atau dalam waktu yang lama di Laos yang nota bene masih terbelakang. Meskipun demikian, kami tetap percaya bila Allah berkehendak, tidak ada yang mustahil terjadi. “Ya Allaah.. tolonglah hamba-hamba-Mu ini dan berilah jalan keluar terbaik bagi keadaan ini..” Apa daya, manusia berkehendak dan berharap namun Allah jua lah yang menentukan. Hingga menjelang saya meninggalkan Laos, setelah menjalankankan fungsi “khotib” selama hampir enam bulan, Allah tetap belum mengijinkan saudara-saudara saya, para jamaah, mendapatkan ustadz maupun khotib baru. Rasanya berat sekali kaki harus melangkah, meninggalkan mereka di Laos. Hingga dua hari menjelang keberangkatan kami sekeluarga menuju penempatan di negara berikutnya, kami kunjungi mereka untuk pamitan. Sesampainya kami di masjid, ternyata semua jamaah sudah berkumpul dengan wajah yang tegang terbalut kepasrahan. Kami saling berpelukan, bahkan bertangisan seperti layaknya diantara sesama saudara. Suasana begitu dicekam oleh kesedihan dan penuh keharuan. Saat itu sungguh kami rasakan bahwa yang berbicara adalah “dari hati ke hati”, karena kami tidak saling bercakap-cakap dengan kalimat dan tutur kata, tetapi dengan hati. Semua perkataan saya, yang awalnya sempat diterjemahkan oleh Pak Yahya ke dalam bahasa Laos agar bisa dimengerti jamaah, lambat laun akhirnya lancar mengalir tanpa henti dan tidak perlu diterjemahkan lagi. Setiap kalimat yang saya ucapkan seakan langsung menghunjam ke hati setiap jamaah, dan demikian pula sebaliknya. Kami berbicara dengan bahasa universal, yaitu melalui tatapan mata, bisikan hati, naluri dan nurani. “Assalamu”alaykum.. Saudara-saudara kami seiman… karena tugas, saya dan keluarga harus meninggalkan Vientiane… Saya, dan juga keluarga, mohon pamit ya..  Mohon maaf bila ada kesalahan dan terima kasih atas kebersamaan…… “ Begitulah kalimat-kalimat pembuka standard yang saya sampaikan. Kalimat tersebut belum sempat dilanjutkan dan tidak bisa lagi dilanjutkan. Saya tidak lagi mampu melanjutkan dengan kata-kata setelah itu karena beberapa jamaah dan isteri saya tidak sanggup lagi menahan linangan air mata untuk berpisah. Suasana semakin mencekam ketika saya lihat ada salah seorang ibu yang merangkul isteri saya dengan sangat ketat diiringi suara tangisan agak keras seperti meraung-raung. Masya Allaah.. Dalam ketidakberdayaan, dalam keterbatasan, dalam kesederhanaan yang ada, kami harus berpisah..penuh kesedihan. Betapa kami ternyata saling membutuhkan… Saya berikan sejumlah uang kepada Pak Yahya sekedar untuk ikut membantu pemeliharaan masjid, lalu meninggalkan mereka dengan kesedihan dan kepasrahan. Saya lambaikan tangan, isteri saya pun melambaikan tangan…bahkan anak kami yang masih berumur 3 tahun juga ikut melambaikan tangan, sambil berjalan menuju ke parkiran. Saat itu, baik saya maupun isteri sangat merasakan, sungguh-sungguh merasakan, betapa kami dalam keadaan tidak berdaya. Kami tidak punya kuasa untuk ikut meringankan keadaan. Bagaimana selanjutnya keadaan mereka? Siapa yang akan mejadi khotib shalat Jum’at? Siapa yang akan memberikan pengajian kepada anak-anak di masjid? Akan adakah ustadz pengganti yang bersedia bersama mereka, mendampingi mereka selanjutnya? Saya pun lalu istighfar. Nurani saya tiba-tiba ikut berbicara, “Mengapa harus khawatir? Allah lah yang akan menjaga dan menolong mereka”. -------

Achmad Djatmiko

/adjatmiko

Seorang PNS, bekerja di Kemlu. Saat ini Minister Counsellor di KJRI Kuching, Sarawak, Malaysia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?