DKI Jakarta Mencari Gubernur yang Matang

25 Mei 2012 07:01:07 Dibaca :
DKI Jakarta Mencari Gubernur yang Matang
Jakarta Mencari Gubernur yang Matang (Antaranews.com)

Follow Me : @assyarkhan

Saat kursi Gubernur diinginkan oleh Kaum Muda, seringkali ada anggapan bahwa kapabilitas dan kekuatan karakter maupun skill dalam menghadapi tekanan akan dipertanyakan oleh orang lain maupun anak buahnya sendiri. Ada pikiran skeptis dikalangan luas bahwa orang muda tidak mampu atau setidaknya belum layak untuk memimpin. Image yang melekat dan cenderung menjadi stereotype adalah bahwa pemimpin itu harus yang senior, pintar, dan berpengalaman.

Padahal, jika melihat realitas saat ini, banyak generasi muda yang sukses membangun bisnis, ada yang sudah jadi pengusaha di usia 18 tahun misalnya, Bisa bertrtahan dari terpaan masalah internal dan krisis global, hingga akhirnya membawa organisasi menuju puncak. Mereka juga seringkali memiliki stamina dan pemikiran-pemikiran yang fresh, out of the box yang sebenarnya mampu mendobrak stigma senior memimpin lebih baik.

Hal inilah yang perlu dibangun di Masyarakat Indonesia bahwa saatnya yang muda yang memimpin Sebelum Usia 60 Tahun. DKI Jakarta yang sebentar lagi akan melakukan PILKADA, Penulis merekomendasikan ada 3 kandidat Termuda dari 6 kandidat yang ada. Diantaranya Pasangan Hidayat-Didik, Jokowi-Ahok dan Pasangan Faisal-Biem. Semuanya masih berusia 52 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa ada kekhawatiran yang tidak perlu bahwa yang muda tidak berpengalaman dan tidak memiliki mental leadership dan kurang dewasa dalam bersikap. Sebab, kedewasaan atau kematangan seseorang bukanlah ditentukan oleh usia mereka, melainkan pada kematangan emosi dan karakter. Buktinya Hidayat sudah memiliki kemampuan memimpin MPR sebelumnya, Jokowi mampu memimpin Solo dan Faisal Basri telah memiliki kemampuan memimpin Lembaga-Lembaga berskala Nasional di Republik ini. Mereka layak dijadikan pilihan dalam Pilkada DKI Jakarta mendatang.

Untuk ketig kandidat diatas baru satu sisi yaitu MUDA. Banyak pemimpin yang handal dalam menjalankan organisasi, menguasai birokrasi, namun ternyata memiliki karakter kepemimpinan yang tidak berkembang, misalnya begitu banyak pemimpin yang ahli dalam dan berpengalaman namun ia tidak bisa mengendalikan emosi, tidak bisa membangun hubungan yang baik dengan berbagai Pihak dan tidak bisa berperan sebagai Bapak semua orang.

Semua sikap itu menunjukkan seorang pemimpin yang belum utuh. Sebab, idealnya seorang pemimpin bukan hanya matang jiwanya, tapi juga cara memimpinnya, tingkat intelektualitasnya, passion-nya terhadap apa yang dikerjakan, dan spiritualitasnya. MUDA saja belum cukup, masing-masing unsur PEMIMPIN yang MATANG khususnya untuk Gubernur DKI Jakarta Periode selanjutnya harus meliputi hal-hal berikut ini:

Gubernur yang Matang Secara Emosi.

Pemimpin yang EQ (Emotional Quotation)-nya tinggi memiliki kemampuan mengelola perasaannya dengan sangat baik. Sikapnya cenderung tenang, stabil, berjiwa besar, rendah hati, dan mampu membina hubungan baik dengan orang lain. Pemimpin yang kurang matang selalu mengedepankan emosinya manakala menghadapi masalah. Akibatnya ia akan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa berdasarkan penilaian subyektif dan akhirnya berbuah kesalahan. Bagaimana seorang menyikapi, merespon, dan bereaksi terhadap suatu keadaan dapat menunjukkan tingkat kedewasaan yang ia miliki sekaligus menentukan kadar interaksi sosialnya. Pemimpin yang mudah emosi, egois, asosial, dan selalu berpikir negatif akan membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman bagi jajaran dibawahnya, sehingga pada akhirnya dapat mengganggu kondusifitas dan stabilitas wilayah kerjanya. Termasuk di dalamnya tidak membuat pernyataan-pernyataan emosional controversial, pernyataan yang tidak mendamaikan tetapi pernyataan yang membuat rakyatnya beradu tanduk seperti domba. Pemimpin yang matang secara emosi mampu membuat semua orang sejuk di depannya, kebapakan dan mampu mengendalikan diri.

Gubernur yang Matang Dalam Bersikap.

Kedewasaan seorang pemimpin akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Pemimpin yang ikhlas dalam menjalankan tugasnya akan bekerja keras tanpa pamrih. Ia tidak akan menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi, selalu jujur, dan bertanggung jawab pada setiap hal yang menjadi kewajibannya. Dengan sikapnya yang selalu mengayomi dan peduli, ia dihormati dan dicintai oleh anak buahnya. Ketegasan dan konsistensinya dalam memimpin menjadi teladan bagi semua orang. Dia tidak akan korupsi, kolusi dan Nepotisme, Dia tidak menjadikan perbuatan baiknya sebagai sebuah Pencitraan dirinya, dia tulus tanpa beban, dia hanya ingin memimpin, dia hanya ingin membuat semua orang sejahtera, dia tidak selalu membawa wartawan untuk meliput semua aktivitasnya bahkan dia sengaja lari dari keramaian dan bakhan dia seperti UMAR Bin Khattab dimana menyusuri jalanan mencari masihkah ada rakyat kelaparan malam itu di masa kepemimpinannya. Kita Butuh Umar Bin Khattab, dan kita butuh Umar Bin Abdul Aziz modern, karena mereka sudah membuktikan hebatnya mereka memimpin.

Gubernur yang Matang Cecara Intelektual.

Tidak berarti bahwa ia harus genius dan ber-IQ tinggi. Maksudnya adalah kemampuan dan kemauan untuk terus belajar dan meng-upgrade diri. Kejeliannya dalam mengidentifikasi permasalahan, memilih alternatif, dan akhirnya memutuskan yang terbaik bagi organisasi. Ia harus menguasai bidangnya, baik yang dicapai melalui jalur akademis maupun berdasarkan pengalaman. Dia tidak menyelesaikan masalah dengan masalah baru karena sebelum membuat solusi dia mengumpulkan semua sisi dampak akibat dari keputusannya sehingga kemudian dia mengambil keputusan yang luar biasa.

Gubernur yang Bermental Kuat.

Pemimpin merupakan tumpuan bagi pengikutnya. Jika seorang pemimpin bersikap lemah, maka anak buahnya menjadi goyah. Pemimpin yang sukses itu orang-orang yang memiliki mental kuat, tahan banting, berdaya juang tinggi, berani ambil resiko dan keluar dari zona nyaman, serta pantang menyerah. Namun, dibalik sikapnya yang terlihat agresif dan penuh obsesi, ia adalah seorang yang tidak kaku, dan pintar bergaul dan dekat dengan siapapun tanpa pandang bulu.

Gunernur yang Memiliki Kematangan Spiritual.

Pemimpin yang matang secara spiritual dapat menjadi imam bagi para pengikutnya. Kepemimpinannya dianggap sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan sehingga ia tidak akan menggunakannya dengan semena-mena. Ketaatannya pada keyakinan yang dianut dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi anak buah. Kebaikan-kebaikan dan nilai moral yang dimiliki oleh pemimpin sebagai hasil dari kerelijiusannya akan membuat pengikutnya bertambah hormat dan percaya padanya. Agama menjadi gaya hidupnya, Ayat Suci didalam Agamanya menjadi pegangan utuh untuk menjadi modal memimpinnya, Dia Aktif Sholat lima waktu di Masjid bagi seorang Muslim termasuk Sholat Shubuh, Dia Aktif ke Gereja tiap minggu dan tiap jadwal ibadah lainnya jika dia Kristiani, dia tidak liberal. Dia tidak memisahkan urusan agama dengan apa yang diurusnya termasuk Negara. Dia tidak melecehkan agamanya dan agama siapapun, Dia tidak menafsirkan Kitab Suci seenak perutnya, Dia tetap berpegang teguh pada keyakinannya bahwa ALLAH selallu bersamanya dalam proses memimpin apa yang dia pimpin.

13380128172105586537
Foto Antara 5 Kandidat Dalam Debat Program Kesehatan (antaranews.com)

Siapa Dia? Andalah yang bisa menilainya, Jadikan Dia Pemimpin Anda, Untuk Jakarta yang Lebih Baik dan Untuk Indonesia yang lebih Baik.

Pesan ADI SUPRIADI ( Twitter : @assyarkhan)

Bandung 25 Juni 2012

Adi Supriadi

/adisupriadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Writer, Trainer & Public Speaker. Working as HR Manager Di Perusahaan Penanaman Modal Asing Jepang.
"Dunia ini adalah tempat bekerja bukan tempat menerima pahala dan Akhirat itu tempat menerima pahala bukan tempat bekerja, maka bekerjalah ditempat yang tidak ada pahala untuk tempat yang tidak ada pekerjaan "(Assyarkhan)

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?