Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of "gerairasa.com" Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Jangan Remehkan "Mahasiswa Abadi"

20 April 2017   18:23 Diperbarui: 20 April 2017   19:49 412 8 5
Jangan Remehkan "Mahasiswa Abadi"
ilustrasi: wovgo.com

Pembicaraan antara saya dan rekan kerja saya berubah menjadi “seru” ketika kami mulai curhat soal masa kuliah dulu. Kebetulan kami bertiga berasal dari almamater yang sama, sehingga cerita yang kami sampaikan terasa lebih “klop”. Apalagi, ketika kami mengobrol soal skripsi yang kami kerjakan dulu, ada banyak suka-duka yang bisa dibagi dalam obrolan ringan itu.

Topik seputar skripsi memang selalu menarik dibicarakan, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir. Saya teringat betapa beratnya perjuangan dalam mengerjakan “tugas pamungkas” yang satu ini. Misalnya, saya mesti mengaduk-aduk rak buku di perpustakaan jurusan dan kampus untuk menemukan bahan referensi yang dibutuhkan sewaktu akan menuliskan bab Landasan Teori.

Selain itu, saya juga harus bolak-balik menemui dosen pembimbing untuk konsultasi. Itu pun kalau dosennya ada di tempat. Sering kali dosen membatalkan janji yang sudah dibuat karena ada keperluan mendadak. Jika terjadi demikian, kita bisa apa? Barangkali hanya mengelus dada, seraya berkata dalam hati, “Sabar, mungkin ini ujian.”

Belum lagi, saya pun harus “menguras” banyak waktu dan tenaga untuk mengetik draf skripsi, yang ujung-ujungnya sering direvisi oleh dosen. Bagi saya, semua itu betul-betul sebuah perjuangan. Sudah capek fisik, capek pikiran pula.

Saking beratnya, sejumlah mahasiswa bahkan sampai “keok” dihajar skripsi. Mereka merasa tak sanggup mengerjakan skripsi dengan pelbagai alasan. Misalnya saja, mereka meninggalkan skripsi lantaran terlalu sibuk bekerja. Pekerjaan yang mereka lakoni “menyita” semua waktu dan tenaga mereka, sehingga mereka cenderung mengabaikan skripsi. Apalagi, kalau mereka sudah nyaman bekerja, rasanya berat sekali duduk manis di depan laptop dan mengerjakan skripsi.

Makanya, jadwal wisuda mereka pun “molor” lantaran tak kunjung menyelesaikan skripsi. Dari situlah kemudian mereka mendapat sebutan “mahasiswa abadi”. Sebuah sebutan yang bisa mengerdilkan hati siapapun yang menyandangnya.

Sebutan “mahasiswa abadi” memang lekat dengan stigma negatif. Makanya, mahasiswa yang mendapat sebutan itu umumnya merasa minder. Apalagi sewaktu kumpul bareng keluarga dan lagi bahas tentang pendidikan, perasaan jengah sering muncul dalam diri yang bersangkutan.

Belum lagi, sebutan itu menjadi bahan olok-olok di media sosial. Hati rasanya bercampur aduk, seperti permen, sewaktu orang tersebut menyaksikan semua guyonan yang “sadis” itu.

Namun demikian, tak selamanya mahasiswa yang memperoleh cap “mahasiswa abadi” menjadi bahan gunjingan di masyarakat. Sejumlah orang yang menerima cap itu justru menjadi “inspirator” dengan membagikan kisahnya yang membakar semangat kepada orang lain.

Sebut saja Hermawan Kartajaya. Hermawan adalah seorang pakar marketing asal Indonesia yang reputasinya diakui secara internasional. Bagi saya, Hermawan bisa suri teladan untuk para mahasiswa abadi lantaran ia terus belajar hingga akhirnya sukses diwisuda sebagai doktor honoris causa di kampus tempat ia menimba ilmu dulu.

Kita bisa menyaksikan upacara wisudanya pada tahun 2010 lalu di youtube, Di situ, Hermawan menceritakan pengalaman yang penuh “liku” sewaktu kuliah di ITS. Hermawan masuk its pada tahun 1965. Tidak seperti kondisi perkuliahan saat ini, pada masa itu, mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi betul-betul “ditempa” selama bertahun-tahun. Makanya, menurut ceritanya, mahasiswa yang ingin cepat lulus setidaknya harus menghabiskan waktu sembilan tahun belajar di kampus!

Kenyataan itu tak menyurutkan niatnya menyelesaikan pendidikan, biarpun harus menjalaninya sambil bekerja sebagai guru SMA. Sayangnya, sampai lima belas tahun, ia tak kunjung menyelesaikan studinya. Malah, pada tahun 1980-an, ia memutuskan “cabut” dari ITS dan kemudian kuliah di Jurusan Ekonomi, Universitas Surabaya. “Saya malu balik lagi ke ITS karena dosennya lebih muda daripada saya,” guyonnya yang disambut tawa hadirin.

Di kampus itulah Hermawan “jatuh cinta” pada dunia marketing, yang kemudian melambungkan namanya. Ia kemudian lulus dari Universitas Surabaya pada tahun 1985, sempat bekerja di beberapa perusahaaan, sebelum akhirnya mendirikan perusahaan Markplus.

Biarpun telah lama meninggalkan ITS, anehnya, Hermawan kemudian mendapat gelar doktor honoris causa dari kampus tersebut. “Saya masuk its tahun 1965, dan menjadi mahasiswa yang paling bodoh, karena baru bisa diwisuda hari ini,” katanya, sambil mengenang peristiwa yang terjadi lebih dari 25 tahun yang lalu itu.

Dari uraian di atas, kita tentunya boleh mempertanyakan kembali konsep “mahasiswa abadi”. Barangkali saja terdapat salah konsep di situ yang menyebabkan kekeliruan dalam menafsirkannya. Kalau “mahasiswa abadi” adalah sebutan untuk mahasiswa yang (maaf) bodoh secara akademik sehingga tak juga lulus, tengok kembali kisah Hermawan di atas. Jadi, jangan asal menyebut seseorang sebagai “mahasiswa abadi” karena bisa saja mereka adalah orang yang tekun dan terus belajar, biarpun baru diwisuda puluhan tahun kemudian seperti yang terjadi pada Hermawan.

Salam.

Adica Wirawan, founder Gerairasa.com