Adia PP
Adia PP Penulis Konten

Konsultan kriminal. Penikmat teh dan susu. http://daiwisampad.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Merekam Film di Bioskop: Nd*so!

6 Juli 2017   21:57 Diperbarui: 7 Juli 2017   13:47 6 4 4
Merekam Film di Bioskop: Nd*so!
Sumber Gambar: cnnindonesia.com

Belakangan ini kata nd*so sedang naik daun. Padahal selama bertahun-tahun, Tukul Arwana mempopulerkan kata tersebut, sampai muak kita mendengarnya. Tapi lain cerita jika anak presiden yang melontarkan kata tersebut. Tanpa merendahkan Tukul Arwana sedikitpun, saya bisa katakan anak presiden memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Dalam teori lingkaran konsentris yang dicetuskan oleh David Protess pada dunia jurnalistik, Kaesang Pangarep berada pada lingkaran pertama.

Tapi saya tidak akan meyoroti kasus Kaesang pada tulisan ini. Tulisan tentang politik atau hukum terlalu berat bagi saya. Saya akan coba menyoroti "nd*so" yang diakui atau tidak, disukai atau tidak, seringakali kita temui. Setidaknya, saya sering menemui kelakuan "nd*so" atau kampungan di lingkungan sekitar.

Saking banyaknya, saya hanya ingin mengambil salah satu kasus saja. Kasus yang tidak begitu penting memang. Tapi lucu. Yaitu kebiasaan baru para penonton bioskop.

Bertahun-tahun lalu saya sempat berpikir, di masa depan---setidaknya 2015 ke atas---di saat teknologi sudah demikian maju, pastilah manusia sudah sangat pintar. Ketika itu, saya membayangkan tahun-tahun mendatang sudah ada mobil terbang berseliweran di atas kepala. Atau mesin teleportasi yang memungkinkan manusia bepergian tanpa menempuh waktu perjalanan. Atau yang paling sederhana, saya membayangkan pada tahun-tahun depan, setidaknya manusia sudah tidak kampungan ketika menonton film di bioskop.

Sekarang tahun 2017. Ternyata manusia masih belum cukup cerdas ketika menonton film di bioskop. Alih-alih mobil terbang atau mesin teleportasi, menonton film di bioskop saja masih nd*so.

Saya kesampingkan perilaku penonton berisik, penonton pacaran, atau penonton yang membawa anak untuk menyaksikan film yang tidak sesuai umurnya. Itu sudah keterlaluan nd*so, tidak perlu dibahas lagi.

Tapi, ada satu lagi fenomena yang luar biasa nd*so dari perilaku penonton bioskop belakangan ini. Yaitu merekam film menggunakan ponsel. Kurang tidak beradab apalagi, coba?

Memang, hari ini ponsel kalian sudah pada pintar. Rasanya jarang ada orang yang masih menggunakan ponsel tanpa kamera. Semua ada kamera. Tapi bukan berarti semua boleh kalian rekam. Terlebih menyebarkannya di media sosial.

Kasus yang pertama mencuat adalah ketika seorang perempuan---saya lupa siapa namanya dan di mana kejadiannya---yang menayangkan film Warkop DKI Reborn (2016) secara live di salah satu platform media sosial. Bukannya dianggap keren, dia justru harus berurusan dengan hukum karena tindakannya termasuk dalam pembajakan.

Bodoh? Jelas.

Tapi yang lebih bodoh, setelah adanya kasus itu, masih banyak orang yang merekam film di bioskop dan disebar ke sosial media. Kasus tersebut bukannya diambil sebagai pelajaran, justru dianggap sebagai angin lalu.

Saya bingung apa tujuan orang-orang merekam film di bioskop lalu menyebarkannya. Apakah ingin disebut keren? Hello! Semua orang bisa menonton bioskop. Tidak keren sama sekali.

Saya tidak akan bicara mengenai "hargai" para pembuat film, atau masalah hak cipta, terlebih berbicara soal pemasukan sebuah film. Hal tersebut adalah peraturan tidak tertulis. Bahkan, saya pun tidak memungkiri masih suka menonton film bajakan yang bertebaran di internet.

Yang saya tekankan hanyalah: mengapa ada orang yang merekam film di bioskop lalu disebarkan? Nd*so! Esensinya apa? Agar apa?

Kalau kampungan, nggak perlu dipamer-pamer lah.