Adia PP
Adia PP Penulis Konten

Konsultan kriminal. Penikmat teh dan susu. http://daiwisampad.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

pilihan

[Dongeng] Mardiyan Ingin Belajar Berenang

12 Juni 2017   04:07 Diperbarui: 12 Juni 2017   09:37 187 0 0
[Dongeng] Mardiyan Ingin Belajar Berenang
Sumber Gambar: pinterest

Cantika, monyet kecil yang jauh dari kata cantik, pulang dari sekolah dengan tersedu. Kakaknya, Mardiyan, keheranan melihat gelagat adiknya yang tidak biasa. Ia bertanya, apa gerangan yang membuat Cantika menangis.

Cantika menuturkan, nilai ulangan pelajaran berhitungnya buruk. Ia dimarahi dan disindir habis-habisan oleh gurunya, Bu Retno. Lina si gajah teman sekelasnya yang mendapat nilai bagus pada berhitung dipuji habis-habisan. Padahal, pada pelajaran bahasa dan seni, nilai Cantika lebih tinggi dibandingkan Lina dan teman-temannya yang lain. Tetapi tidak ada pujian yang hinggap padanya.

Itu sebab Cantika menangis. Ia merasa bodoh karena tidak mampu memberi nilai yang baik pada pelajaran berhitung. Mardiyan menjadi iba melihat adiknya sedemikian menyesal. Padahal, ia tahu betul, Cantika sudah belajar mati-matian demi mengejar hasil yang baik pada pelajaran berhitung.

Guna menghibur adik semata-wayangnya, Mardiyan menganjurkan dirinya untuk belajar lebih giat lagi. Hasil ulangan pelajaran berhitung selanjutnya, Cantika pasti mendapat nilai yang memuaskan.

Beberapa minggu kemudian, Cantika kembali menangis sepulang sekolah. Nilai berhitungnya lagi-lagi jeblok. Bahkan, kali ini, lebih parah dibandingkan nilai pada ulangan sebelumnya. Cantika nyaris mendapat nilai nol.

Lagi-lagi ia mengadu pada Mardiyan. Dirinya dicemooh habis-habisan oleh Bu Retno dan temannya. Ia dicap sebagai monyet yang bodoh. Bahkan, yang terparah, mereka mengatakan bahwa kebodohan Cantika diwarisi oleh kebodohan kaum monyet. Padahal, dalam nilai pelajaran lainnya, Cantika mendapat nilai yang tinggi. Hanya karena tidak pandai pada pelajaran berhitung, dirinya dianggap bodoh.

Mendengar cerita adiknya, darah Mardiyan mendidih. Kesal juga ia mendengar jika kaum monyet dianggap mewarisi gen kebodohan. Bolehlah monyet lain memang bodoh, tetap tidak dengan dirinya. Mardiyan tidak sudi dianggap menyumbangkan kebodohan hanya karena nilai berhitung Cantika yang buruk. Terlebih oleh Bu Retno, si musang betina itu. Ia harus membuat perhitungan, pikirnya.

Berselang beberapa saat setelah itu, hutan Gemah Ripah dihebohkan oleh tingkah Mardiyan. Monyet kecil itu memang kerap membuat heboh dan heran para penghuni hutan. Tapi kali ini, kehebohan yang diakibatkan Mardiyan terasa sangat besar. Dirinya nyaris mati tenggelam di danau tengah hutan.

Segera, para hewan yang berada di sekitar danau menolong Mardiyan yang tenggelam dan mulai mengap-mengap kehabisan napas. Setelah menyeret Mardiyan ke tepian danau, para hewan mengerumuninya, termasuk tetua kaum monyet, Pak Dulatip, dan Bu Retno si musang betina.

“Apa yang kamu pikirkan, Mar?! Kamu nyaris mati, tahu!” hardik Pak Dulatip begitu melihat Mardiyan siuman dari pingsannya.

“Aku ingin belajar berenang, Pak,” jawab Mardiyan pendek.

Hewan-hewan yang berkerumun kontan menahan tawa. Beberapa terlihat iba melihat kebodohannya yang seolah tidak berbatas.

Pak Dulatip menggelengkan kepala mendengar jawaban Mardiyan, “Mar, dengar, kita sebagai monyet tidak dikodratkan untuk bisa berenang. Itu kemampuan untuk ikan. Apa kamu tidak puas, memiliki kemampuan melompat yang tinggi dan bisa bergelantungan di pohon? Semua hewan memiliki kodrat dan kemampuannya masing-masing, Mar.”

“Seperti pada pendidikan, ya? Menyamaratakan kemampuan seseorang pada pendidikan, sama seperti menyuruh ikan untuk memanjat pohon, atau memaksa monyet untuk berenang? Padahal setiap individu memiliki kemampuan pada bidang masing-masing,” ujar Mardiyan.

Hewan-hewan yang berkerumun pada keheranan dengan perkataan Mardiyan. Mereka menilai Mardiyan belum sepenuhnya siuman dan meracau. Namun, tidak dengan Bu Retno yang diam-diam melipir meninggalkan kerumunan. Merasa tersindir oleh perkataan Mardiyan.

“Bukan begitu, Bu Retno? Lho, ibu mau ke mana? Bu?” panggil Mardiyan.     


Adia PP

Jakarta, 12 Juni 2017