Adia PP
Adia PP Penulis Konten

Konsultan kriminal. Penikmat teh dan susu. http://daiwisampad.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

[Dongeng] Mardiyan dan Raja Hutan

7 Juni 2017   00:22 Diperbarui: 7 Juni 2017   00:52 228 0 0
[Dongeng] Mardiyan dan Raja Hutan
Sumber Gambar: pletz.com

Hutan Gemah Ripah dalam beberapa bulan ke depan akan memilih raja hutan yang baru. Pengangkatan raja yang diadakan setiap lima tahun sekali ini, dilakukan dengan cara pemilihan secara langsung oleh seluruh penghuni hutan. Apapun spesiesnya, apapun golongannya, asalkan sudah berusia cukup dewasa, bisa memilih.

Raja sebelumnya adalah Pak Tarmidin, seekor beruang madu yang besar dan gagah. Ia sudah menjabat raja selama lima tahun. Tahun ini, ia mencalonkan diri kembali. Lawannya adalah Pak Dulatip, perwakilan dari kaum monyet. Sebagaimana monyet pada umunya, Pak Dulatip bertubuh kecil, kurus, dan jauh dari kesan gagah.

Segera, dirinya menjadi bahan tertawaan seluruh penghuni hutan. Seekor monyet yang mungil, melawan beruang bertubuh besar dan disegani. Raja hutan adalah pelindung hutan. Dirinya harus kuat menghadapi serangan dari musuh, terutama manusia yang kerap iseng ingin merusak hutan Gemah Ripah.

Tidak ada kaum monyet yang menjadi raja sebelumnya. Sebelumnya, mahkota raja pernah bertengger di kepala Pak Maulana si macan kumbang, pernah juga disematkan di kepala Pak Safrudin si ular sanca. Dan kini, mengingat lawannya adalah seekor monyet, agaknya Pak Tarmidin akan menjadi raja untuk periode yang kedua kalinya.   

Hampir seluruh hewan sudah dipastikan akan memilih raja yang kuat, yaitu Pak Tarmidin. Dukungan untuk Pak Tarmidin pun terlihat sangat nyata. Pemenangnya sudah ditentukan sejak jauh sebelum pemilihan berlangsung.

Meski begitu, di lain sisi, di atas dahan dan rimbunnya dedaunan, kaum monyet justru terlihat santai. Mereka sama sekali tidak gentar menghadapi dukungan Pak Tarmidin yang begitu besar. Kaum monyet percaya, Pak Dulatip akan keluar sebagai pemenang di pemilihan raja tahun ini.

Tidak terkecuali Mardiyan. Monyet kecil itu sama yakinnya dengan kaumnya, bahwa Pak Dulatip akan menjadi raja hutan untuk lima tahun ke depan. Meski begitu, Mardiyan memutuskan untuk Golput, alias tidak memilih siapapun. Alasannya sederhana, ia pernah mendengar para tukang ojek membicarakan Golput. Dan di telinga Mardiyan, hal tersebut terdengar keren.

Hari pemilihan tiba. Suara-suara yang masuk, dihitung. Keyakinan Mardiyan dan kaum monyet terjawab. Pak Dulatip keluar sebagai pemenang. Kekecewaan tampak dari seluruh raut penghuni hutan Gemah Ripah, kecuali para monyet. Mereka bersuka-cita, tetuanya, Pak Dulatip, akhirnya menjadi raja hutan. Akhirnya ada monyet yang mampu menjadi pemimpin hutan. Urusan mampu atau tidak, itu belakangan. Yang penting, memimpin saja dulu.

Rahasia kemenangan Pak Dulatip terletak pada banyaknya jumlah monyet di hutan Gemah Ripah. Populasi monyet di hutan ini melebihi setengah populasi hewan lainnya. Praktis, semua suara dari para monyet mengalir bagi Pak Dulatip. Dan kini, para monyet tersebut riuh, bersuka-cita menyambut kemenangan Pak Dulatip.

Hanya ada satu monyet yang tidak menunjukkan raut gembira, yaitu Mardiyan. Saat berlangsung pemilihan, dirinya tidak nampak di lokasi pemungutan suara. Ia justru sedang asyik bersantai di tepi danau di tengah hutan.

Ilyas, seekor ikan mas, muncul dari permukaan danau. Ia memandang Mardian yang tengah terduduk di tepi danau dengan heran, kemudian bertanya, “Mardiyan, mengapa engkau tidak senang seperti para monyet lainnya? Bukankah yang menjadi raja adalah dari kaummu?”

Mardiyan menjawab malas, “Buat apa senang, kalau menang karena banyak yang memilih. Bukan karena mampu.”


Adia PP

Jakarta, 06 Juni 2017