PILIHAN HEADLINE

Memfilmkan Musik, Memusikkan Film

09 Maret 2017 06:45:25 Diperbarui: 09 Maret 2017 12:17:38 Dibaca : 120 Komentar : 1 Nilai : 8 Durasi Baca :
Memfilmkan Musik, Memusikkan Film
Terekam (dok. Pijaru)

Aprilia Apsari duduk di sebuah sudut kafe siang hari itu. Ia baru saja selesai membetulkan make- up nya. Ia tampak anggun, sama seperti foto-fotonya yang sering muncul di majalah musik. Agak ragu saya menyapanya.

"Maaf saya terlambat."

"Oh nggak kok, tadi saya memang sengaja datang lebih cepat."

Sari bersama teman-teman kampusnya membentuk sebuah band yang bernama White Shoes And The Couples Company. Bagi anak muda dari generasi saya, White Shoes adalah epitome sebuah generasi muda yang membuat jalan mereka sendiri. White Shoes dan band-band segenerasinya menghasilkan sebuah gelombang di mana, mungkin untuk sesaat, musik Indonesia bisa menjadi raja di negeri sendiri.

Siang itu saya bertemu dengan Sari untuk sebuah proyek dokumenter musik yang berjudul 'Terekam'. Banyak yang ia ceritakan tentang perjalanan musiknya: bagaimana ini semua dimulai, mengapa ia menjalani jalur ini, tantangan yang ia hadapi, sampai iseng saya bertanya,

"Hal paling menarik apa yang terjadi selama bermain di atas panggung?"

Sejenak ia mengingat.

Sekitar tahun 2008, White Shoes mendapat undangan untuk bermain di South by Southwest Festival (SXSW) di Austin, Texas. Usai turun panggung, ketika sedang bercengkrama dengan penonton, muncul sebuah pertanyaan:

"Di Indonesia ada playstation?"

Aprilia Apsari (dok. Pijaru)
Aprilia Apsari (dok. Pijaru)

***

Pernah suatu kali saya melewati perlintasan kereta, tahun 2005 kalau tak salah. Anak-anak muda dengan kaos warna warni, celana ketat motif tartan, dan kacamata hitam bingkai putih merangsek sampai ke atas kereta. Kacau. Dari gaya berpakaian mereka, saya berani bertaruh, mereka adalah Modern Darling. Sebutan khas para penggemar The Upstairs, band New Wave Jakarta yang juga teman sekampus White Shoes.

Belantika musik Indonesia pada saat itu terjadi sebuah dinamika yang menarik. Musik tidak hanya didominasi oleh label-label besar yang mengikuti selera pasar. Ada sekumpulan anak-anak muda yang memutuskan untuk membangun jalannya sendiri, tumbuh berkembang di jalurnya, hingga akhirnya menemukan pendengarnya sendiri. Mereka bukan artis yang ingin mencari tenar, mereka hanya sekumpulan anak muda yang menyuarakan suara mereka melalui musik. Sebuah kisah layaknya kisah romantika masa muda yang dimiliki oleh tiap generasi.

Sepuluh tahun kemudian, semua itu menjadi mitos urban yang nyaris tidak pernah didengar oleh generasi berikutnya.

Hari itu hampir Maghrib. Saya berada di sebuah gudang di kawasan Pancoran yang disulap menjadi sebuah ekosistem kesenian. Keke Tumbuan mengisap rokoknya sembari menceritakan kenangannya tentang era itu. Sebagai salah satu tokoh, kalaupun itu patut disebut tokoh karena menurutnya pada masa itu semua orang hanya sedang bersenang-senang, Keke merasakan sendiri rasanya berada di tengah-tengah arus semangat zaman.

Salah satu pengamatan Keke yang menarik perhatian saya adalah tentang tendensi dunia seni di Indonesia, di mana antara bidang seni masih ada semacam jarak yang membuatnya berdiri sendiri-sendiri. Konon, ini konon lho ya, seniman-seniman yang berbeda bidang jarang nongkrong bareng. Anak musik ya mainnya sama anak musik, anak film ya mainnya sama anak film.

Padahal kalau kita ambil contoh skena seni New York, ada nama-nama seperti Jim Jarmusch atau Andy Warhol yang bergelut di beberapa cabang seni. Kolaborasi mengalir dan kadang di luar cara yang konvensional. Ada cerita-cerita di mana musisi bukan hanya membuat scoring untuk sebuah film tapi juga berakting di depan kamera, seperti yang lazim terjadi di film-film besutan Jim Jarmush di mana musisi beken seperti Tom Waits dan Iggy Pop mencoba peruntungan sebagai aktor. Kesenjangan itu pula yang membuat bentuk seni yang melintasi disiplin seni jarang terjadi. Seperti kalau kita mau ambil contoh genre dokumenter musik.

Film dokumenter musik memang mempunyai posisi yang agak janggal. Dokumenter mempunyai tugas mulia untuk menceritakan sebuah kebenaran, karenanya genre ini biasanya berisi materi yang berat-berat atau yang berbau humanis. Mengambil sudut pandang musik sering dianggap remeh, kurang serius, atau mungkin juga kurang seksi. Itupun kalau ada yang niat mau membuat. Setelah era reformasi, masih tidak banyak pembuat dokumenter yang mau atau tertarik untuk mengambil tema musik. Di catatan kecil penulis ada beberapa judul yang dirilis setelah tahun 2000: Untuk Kaum Muda (2003), Generasi Menolak Tua (2010), Marching Menuju Maut (2012), Bising (2014), White Shoes &The Couples Company di Cikini (2015).

Bisa kita bandingkan dengan Amerika yang hampir tiap tahunnya merilis dokumenter musik baik tentang musik arus utama ataupun arus pinggir. Jika kita tarik ulur 5 tahun ke belakang, sudah ada beberapa film dokumenter musik yang dihasilkan setiap tahunnya dan sering menjadi langganan festival film. Dokumenter tentang musisi yang dikira sudah lama mati 'Searching For Sugar Man', perjalanan karir para penyanyi latar '20 Feet From Stardom' atau tentang penyanyi kontroversial 'Amy', memenangi piala Oscar di tahun 2012, 2013 dan 2015.

Musik sebagai bagian dari kebudayaan dapat membentuk persepsi bangsa lain ketika melihat Indonesia, atau istilah kerennya brand management. Dari cerita Sari kita bisa mendengar bahwa seni dan kebudayaan Indonesia masih identik dengan kebudayaan tradisional. Betul, kita ingin gamelan atau tari Bali diperkenalkan kepada dunia. Tapi bagaimana dengan pencapaian peradaban yang kontemporer?

Tidak adanya informasi tentang perkembangan budaya suatu bangsa pada akhirnya akan mempengaruhi brand sebuah bangsa itu sendiri. Hal yang dianggap remeh seperti budaya pop sedikit banyak akan berpengaruh. Karena kebudayaan, apapun bentuknya, akan mencerminkan kemajuan peradaban suatu bangsa.

Bagaimana Indonesia mau dikenal kemajuan budaya kontemporernya, taruhlah pencapaian lirik dan musikalitas band Efek Rumah Kaca, bila di luar sana orang masih bertanya-tanya apakah di Indonesia sudah ada teknologi playstation?

Usaha-usaha untuk melestarikan khasanah musik Indonesia bisa dilakukan dengan banyak cara. Melalui medium film saja, musik bisa diceritakan dengan berbagai jenis narasi. Ada genre-genre seperti film musikal dan genre dengan narasi yang lebih eksperimental.

Film musikal terakhir yang masih segar di kepala penulis adalah Petualangan Sherina (2000) dan remake Kisah Tiga Dara (2016). Dan di ranah 'eksperimental' ada film seperti Kantata Takwa (2008). Kantata Takwa adalah percampuran menarik antara genre fiksi dan non-fiksi. Sebagian besar film berisi dokumentasi konser Kantata Takwa di Stadium Senayan yang diwarnai kericuhan. Selain itu ada adegan-adegan 'dream sequence' seperti adegan Iwan Fals, yang terlihat seperti Che Guavara, lari dari kejaran tentara.

Oleh pembuatnya, musik diinterpertasikan sebagai suara nurani sebuah generasi ketika kita bisa melihat bagaimana musik berpengaruh dalam kehidupan sosial. Musik bukan hanya sebagai bagian dari cerita, tapi sebagai simbol perlawan terhadap rezim Orde Baru. Sebuah eksperimentasi naratif dalam mengabadikan salah satu pencapaian penting seni musik Indonesia.

Muncul sebuah pertanyaan: apakah sebuah film tentang musik bisa hidup terlepas dari musiknya? Bila kita mengganti subyeknya, apakah kita masih tertarik untuk menontonnya? Apakah musik menjadi esensi utama atau sekadar tempelan belaka?

Sebuah film terlintas di kepala saya, 'Searching For Sugar Man'. Tidak ada yang tahu nama Sixto Rodriguez, mungkin sampai sekarang. 'Searching For Sugar Man' secara humanis mengajak kita mengenal Rodriguez, menyelami kehidupannya, dan bagaimana selama bertahun-tahun orang menyangka ia sudah meninggal.

Pertanyaannya adalah bagaimana menemukan frame cerita yang tepat? Film, apapun bentuk dan jenisnya, akan kembali ke satu hal mendasar: Cerita. Cerita. Cerita.

Cerita adalah raja. Apakah cerita itu penting untuk diceritakan? Bagaimana kisah itu diceritakan? Film dokumenter yang baik, bukan hanya musiknya yang enak didengar atau musisinya yang terkenal, tapi mempunyai cerita yang kuat untuk diceritakan. Ia dapat membangkitkan gairah pendengar musik, dan seperti kejaiban mampu membangkitkan kembali musisi yang sudah lama mati. Seni musik selalu terbuka untuk diinterpetasikan, dan medium film bisa bergerak lebih. Asal pembuatnya mau menggali sudut pandang yang lebih dalam.

***

Waktu sudah memasuki saatnya berbuka puasa. Jimi Multhazam meminta izin sebentar untuk sholat maghrib.

Jimi Multhazam (dok. Pijaru)
Jimi Multhazam (dok. Pijaru)

Jimi, yang dijuluki Jimi Danger, tampak tidak segarang waktu di atas panggung. Ia lebih tampak seperti seorang bapak yang lebih senang menghabiskan waktu bersama anaknya. Mungkin pada akhirnya waktu juga yang akan berkata.

Sepuluh tahun yang lalu, siapa yang tak kenal Jimi Upstairs? Ia salah satu tersangka utama pembakar panggung -panggung pensi di Jakarta dengan gaya busananya yang nyentrik dan goyangannya yang membuat anak muda menjadi gatal untuk bergoyang.

Iseng saya bertanya ke Jimi apa yang paling penting untuk diambil untuk cerita tentang perjalanan musik generasinya.

"Passion-nya friend. Elo harus bercerita soal passion-nya".

Setiap generasi mempunyai ceritanya masing-masing, yang mungkin hanya akan terjadi pada saat itu juga. Tidak mungkin diulang, tidak mungkin terjadi lagi. Anak muda mungkin tidak punya apa-apa, tapi anak muda punya semangat yang menggelora.

Sebuah bangsa yang terus bergerak maju, kebudayaannya akan terus maju pula. Di situ perekam jejak sejarah kebudayaan menjadi penting. Karena hidup itu pendek, seni itu panjang.

Simak film dokumenter yang memuat kisah musik-musik independen Indonesia di masa kejayaannya (di antaranya The Upstairs, White Shoes & The Couples Company, Goodnight Electric, dan The Adams) di sini.



KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana