Saatnya Liverpool Tuai Hasil Gegenpressing

02 Desember 2016 16:55:00 Diperbarui: 02 Desember 2016 17:20:35 Dibaca : Komentar : Nilai :

Superior. Satu kata inilah yang cocok untuk menggambarkan performa Liverpool di musim 2016-2017 ini. Bagaimana tidak, tim yang tahun lalu sempat terseok seok di papan tengah premier league Inggris ini bahkan sekarang mampu menduduki peringkat 2 klasemen, terpaut 1 angka dari Chelsea dan memiliki poin sama dengan Manchester City. Hal ini tentu tak lepas dari tangan dingin sang pelatih, Juergen Klopp. Lantas, bagaimana Klopp bisa membuat tim yang sempat terpuruk ini mampu bangkit dan bersaing dalam perebutan gelar juara?

Klopp sendiri didatangkan oleh Liverpool di pertengahan musim 2015-2016. Dia diplot menggantikan posisi Brendan Rodgers yang mengalami penurunan performa. Ditunjuk menangani klub sebesar Liverpool jelas tak mudah bagi Klopp. Namun ia tetap mampu menjalankan strateginya dengan baik.

Adalah ‘Gegenpressing’ strategi khas dari Klopp yang merubah drastis performa Liverpool. Strategi ini menitikberatkan pada pressing lawan, sehingga lawan tidak memiliki ruang yang cukup bebas untuk memberikan operan atau melancarkan dribelnya. Satu pemain lawan bisa dikawal secara ketat oleh dua pemain Liverpool.

Hal ini tentu cukup beresiko. Ketika ada dua orang melakukan pressing, akan ada ruang kosong di salah satu sisi lapangan. Jika pemain lawan berhasil lolos, maka yang melakukan pressing tadi harus segera kembali ke posisinya. Hal ini tentu membutuhkan stamina dan fisik yang sangat kuat. Sementara saat itu, pemain Liverpool yang terbiasa dengan strategi Brendan Rodgers dengan permainan taktisnya belum siap untuk melaksanakan gegenpressing.

Hal inilah yang menjadi problem Klopp di awal kepemimpinannya. Banyak pemain tumbang karena fisik mereka belum siap untuk gegenpressing. Beruntung bagi Klopp, ia masih mampu mengantarkan Liverpool lolos ke final Europa League dan Carling cup.

Klopp pun segera berbenah. Penguatan fisik dan stamina menjadi agenda utama Klopp di awal musim. Kedatangan pemain baru seperti Giorginio Wijnaldum dan Sadio Mane menjadi tambahan amunisi baru bagi Klopp.

Musim baru pun dimulai. Hasil dari penguatan fisik dan stamina di pramusim pun langsung terlihat. Pertandingan pertama mereka, skuad the reds berhasil mempermalukan Arsenal 3-4 di kandang sendiri. Tim-tim besar pun mulai dipermalukan, mulai dari Chelsea, Leicester City, hingga Tottetham di EFL Cup. penampilan beringas anak asuh klopp membuahkan 32 gol di Premier League, terbanyak saat ini.

Distribusi gol pun juga merata. Hampir semua lini turut aktif dalam menciptakan gol. Hanya sektor kiper yang belum mencetak gol (dan mungkin ini akan sulit). Dan tentu saja bintang utamanya adalah Coutinho, Firmino, dan Mane.

Trio dengan kecepatan tinggi dan dribel lincah ini menjadi momok bagi setiap pertahanan lawan. Total 16 gol dan 1o assist mereka torehkan. Hal ini tentu saja membuat pertahanan manapun menjadi ketakutan.

Possession ball pun selalu mampu Liverpool kuasai. Dari total seluruh laga BPL tahun ini, rata-rata liverpool mampu menguasai 59% penguasaan bola. Angka ini terbilang tinggi dibanding tim lainnya. Hal ini merupakan buah kesabaran dari penerapan gegenpressing.

Jika Liverpool mampu mempertahankan performa apik mereka ini, bukan tidak mungkin gelar juara Premier League yang sudah lama tak singgah di Anfield Stadium akan mereka rengkuh. Good job Klopp, good job Liverpool. You’ll never walk alone!!

Achmad Zulfikar

/achmz01

Seorang siswa kelas 12 SMA yang mencoba menyalurkan hobi menulisnya dan juga kecintaannya pada sepak bola. Oh ya, dia juga baru buat blog. Kalo pingin kunjungi cek di : https://fansbolasite.wordpress.com/
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article