Berita Perzinahan, Haruskah Disebarluaskan Secara Vulgar di Media?

17 Februari 2012 11:42:05 Dibaca :

Berita hubungan tersebarnya video mesum di kalangan ABG kembali menyeruak. Kali ini sebuah kampung kecil di Kecamatan Parung Panjang Kabupaten Bogor heboh oleh tindakan mesum (zina) pelajar sebuah SMP. Menurut sumber RADAR BOGOR, video mesum yang diperankan anak baru gede (ABG) berseragam siswi SMP beredar luas di Kecamatan Parung-panjang. Video berdurasi 2 menit 58 detik itu direkam sekelompok pemuda Parungpanjang saat menangkap basah dua ABG sedang melakukan hubungan intim layaknya suami istri di Gunung Dago, Desa Dago, Kecamatan Parung¬panjang, awal Januari lalu.

Menurut berita lensaindonesia.com menyebutkan bahwa rekaman adegan mesum yang dilakukan di perbukitan Gunung Dago, Desa Dago, Kecamatan Parung Panjang ini terus beredar luas di telepon genggam warga Parunganjang dan Rumpin. Hal itu akhirnya membuat Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor turun tangan.

“Saya belum dapat laporan secara resmi dari pihak sekolah, sebab menurut informasi, pelaku video mesum ini berasal dari sekolah swasta sehingga kami sulit melacaknya,” kata Humas Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Roni Kusmaya,beberapa waktu lalu.

Dua media tersebut mewakili sumber berita tentang perzinahan khususnya yang dilakukan oleh remaja. Saya melihat berita yang disajikan terlalu vulgar. Gambar cuplikan adegan perzinahan ditayangkan meski dengan keadaan buram. Ada juga proses penangkapan anak ABG oleh pemuda setempat yang menurut saya digambarkan secara vulgar.

Pemberitaan tentang kasus perzinahan di media sudah sangat meresahkan. Satu sisi berita ini jadi peringatan keras bagi orang tua, pendidik dan masyarakat agar membentengi anak-anak remaja agar tidak terjerumus ke perbuatan zina. Namun, yang terjadi justru setiap ada berita ditemukannya video perzinahan anak remaja, tak lama setelahnya akan beredar cepat dan luas video tersebut. Berita di media seperti sebuah media marketing gratis bagi pelaku penyebar video perzinahan. Setelah para remaja menonton berita tersebut, mereka terdorong untuk meniru adegan tersebut.

Para guru sepertinya hampir lelah merazia HP, laptop atau flasdisk siswanya karena setiap ada berita beredarnya video terlarang, mereka khawatir ini sudah berdar di sekolahnya. Mereka tak ingin sekolahnya tercemar dan dicap melahirkan anak didik yang ‘porno’. Para orang tua gelisah dan takut anaknya sudah terpapar juga dengan tontonan mesum itu. Apakah ini gelombang deras dari dampak beredarnya video porno Ariel Peterpan dan Luna Maya?

Bila perzinahan sudah tersebar luas di masyarakat, bahayanya sangat jelas. Mulai dari keluarga pelaku sampai masyarakatnya akan tercemar nama baiknya. Bila menyangkut sekolah, maka nama sekolah itu akan merosot tajam di mata masyarakat. Selanjutnya bila berita tak senonoh itu sering terjadi maka orang akan memandang enteng perbuatan dosa besar ini. Bisa dibayangkan bila suatu bangsa sudah meremehkan perzinahan maka jangan heran kalau zina tersebar di mana-mana dengan luar biasa.

Sekarang bagaimana kalau berita perzinaan itu sudah disiarkan di media masa dan televisi, pasti orang akan semakin menganggap enteng perbuatan itu. Sungguh luar biasa lagi bila perbuatan yang sangat pribadi dan rahasia itu sendiri yang sudah dilakukan terang-terangan bahkan disebarkan gambar dan videonya dan bisa diakses oleh siapapun. Apa jadinya masyarakat kalau sudah begini keadaannya?

Saya merasa sangat miris bila mendengar tayangan entertainment di TV. Rating berita-berita ini sangat tinggi. Hampir tiap hari ada kasus perselingkuhan dan tindakan tidak bermoral para publik figur yang disuguhkan kepada masyarakat. Seolah-olah perbuatan ini tidak dianggap bejat lagi, sudah biasa saja dan tidak memalukan lagi. Ibarat pepatah: ”Hilang gatal karena digaruk, hilang geli karena digelitik”.

Saya semakin khawatir ketika memandang anak-anak saya yang masih kecil, betapa beratnya masa yang akan dia tempuh nanti. Saat ini saja sudah begitu kuatnya gelombang pornografi menghempas anak-anak, bagaimana dengan 20-40 tahun yang akan datang. Apa kira-kira yang akan terjadi. Tidakkah media massa punya misi agar generasi muda tidak makin hanyut dalam arus besar pornografi? Saya hanya bisa berdoa semoga saya dan anak-anak saya bisa melewati masa-masa berat ini dengan selamat.

Achmad Siddik

/achmadsiddikthoha

TERVERIFIKASI (BIRU)

Perawat Komunitas Pohon Inspirasi yang cinta pada Yang Mencipta Pohon. Ingin menghembus sejuknya inspirasi, merentang teduhnya persahabatan, menghunjam kokohnya akar kedamaian dan menghias lebatnya buah kebaikan di bumi. Juga menulis buku KETIKA POHON BERSUJUD. Follow @achmadsiddik
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?