HIGHLIGHT

Rename 'Akun' KPK: Komisi Pengendalian Korupsi?

26 Mei 2012 04:15:32 Dibaca :

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita lemot-nya loading kinerja ‘Lembaga Dewa' Keadilan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam men-download kasus-kasus mega akbar sekaligus akar dari pohon korupsi di negeri ini disebabkan karena ‘salah nama’? Lalu dari lemot pertama berentet kepada lemot lanjutan dalam mendelete daftar para koruptor kelas kakap dari LCD monitor NKRI, ‘Sang Raja’ empunya akun tak mampu mem-protect akun pribadi sehingga terbuka lebar  terhadap serangan virus para hacker perusak program keadilan rakyat-bangsa-negara.


Sudah jadi ‘prasangka’ nasional, meski tak bisa dibuktikan secara formal, hacker-hacker politik dan kekuasaan masih leluasa browsing, menjelajah dalam jutaan celah, meretas, mencuri dan membajak  password pemilik akun asli, ‘Sang Raja’ lembaga dan seluruh jajarannya. Tak jelas siapa lagi yang bertanggung jawab, mungkin semuanya telah dilakukan dengan benar, sesuai prosedur dan legal-formal, tapi rasa-rasanya akun ‘Lembaga Dewa’ itu memang telah terblokir, lantas pemiliknya tak bisa membuka akunnya sendiri.



Bahasa teknologi media komunikasi mungkin terlalu membingungkan, sebab komunikasi di antara kita juga masih ‘tulalit’ karena lemahnya sinyal alam pikir dan dunia cita rasa manusia Indonesia, indikasi aktual raibnya ‘ruh’ wawasan nusantara. So, tak ada salahnya sejenak kita belajar dari bahasa petani, bagaimana hasil akhir dari panen tergantung dari kesuksesan PHPT,  Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman.

Korupsi adalah hama dan penyakit yang mengancam, mengintimidasi bahkan telah ganas menyerang tanaman keadilan-kemakmuran-kesejahteraan bangsa. Pemberantasan bukan ajian pamungkas jika tidak ada pencegahan. Keduanya berkedudukan sebagai unsur penyusun senyawa sempurna pengendalian.

Bolehlah dikatakan, pengendalian adalah pohon, pemberantasan adalah pokok, sedang pencegahan adalah akarnya. Selama akar korupsi belum ditemukan dan dibongkar, maka buah korupsi akan rimbun dan ranum bergelantungan dan bermunculan tanpa kenal musim. Menciptakan obat pengendalian dengan ramuan antibiotik pemberantasan dan antibodi pencegahan adalah ‘ke-ha-rus-an ’ mutlak.



Kembali bicara soal nama, kenapa kita tidak memakai nama Komisi Pengendalian Korupsi? Bukankah  pada tanaman, hama dan penyakit itu mustahil keduanya hilang, sebab itu bagian dari ‘skenario dinamis’ romantika alam, sebagaimana Tuhan men-setting setan untuk memenuhi kebutuhan dan hak neraka? Yang dibutuhkan petani untuk bisa sukses panen hanyalah memperlakukan hama dan penyakit agar terkendali, undercontrol, tidak liar dan nggragas alias buas mengganas.

Soal angka terkendalinya terserah, bisa juga mengikuti rumus bisnis ritel (kalau tidak salah tebak), patok 5% untuk aset yang bakal tercuri, terkutil, ‘lahan rejeki’ koruptor-koruptor kecil, sebab impossible menjaga aset agar utuh 100%, se-impossiblenya petani mematok target 100% panen dari setiap batang tanaman yang ditancapkan di awal musim. Peternak ikan mematok angka 80% SR (Survival Ratio), angka kehidupan standar kultur dikatakan tumbuh sehat alias usaha menguntungkan dan layak dilanjutkan. Target 0% korupsi di Indonesia mustahil tercapai, bahkan di seantero duniapun tak ada yang sanggup, kecuali setan telah di-remove dan di-uninstall dari program file kehidupan bumi.


Siapa tahu dengan mengubah nama ada harapan mengubah paradigma, mengubah peruntungan ‘Sang Raja’, mengubah wajah seram bangsa kita, atau sedikit lebih ngimpi lagi, mengubah peta percaturan perkorupsian dunia. Apa arti sebuah nama, kata Shakespeare, tapi ada yang berkata, bukankah kata Nabi nama adalah sebuah do’a? Dan do’a (bagi orang atau bangsa beragama) adalah awal dari penentu hasil akhir dari segalanya? Sebab dalam do’a ada niat,  kehendak dan itikad kuat untuk berikhtiar mencapai tujuan? Bukankah hasil seseorang tergantung dari apa yang ia niatkan?


Salahkah mengubah nama kepanjangan KPK menjadi Komisi Pengendalian Korupsi? Tutup ‘akun’ lama, pembaharuan ‘akun’ dengan ‘email’ baru dan kata sandi baru yang terkunci rapi dalam hati nurani-sanubari ‘Sang Raja’ KPK beserta ‘hulubalang dan balatentara’nya. Semoga hacker-hacker politik dan kekuasaan yang terpaksa harus ‘peras keringat’ untuk melancarkan serangan, tak lebih dari 5% saja yang ‘lolos’ menerabas proteksi akun uang negara. Masih lebih dari cukup untuk 95% para petani rakyat untuk panen raya memetik buah hak keadilan-kemakmuran-kesejahteraan. Anggap saja shadaqah negara buat para penjahat anak bangsa lewat game kecil-kecilan.




Dan terakhir (sekali-kali bernuansa mitos), jangan lupa pesan para leluhur, para resi dan begawan. Ruwatan massal, tradisi ritual pagelaran wayang kulit semalam suntuk untuk mengusir ‘roh-roh jahat’ sang sambikala, pencerahan dan pembaharuan spiritual seluruh komponen umat-bangsa. Dan agar nama baru ini memiliki tuah, bergigi, bertenaga, bernyali dan berlaku layaknya Dewa Keadilan sejati, wajib hukumnya memohon restu-pangestu dan do’a-munajat dari seluruh kaum miskin-lemah-dlu’afa se-Indonesia yang selama ini teraniaya. Bukankah kita (juga masih percaya bahwa) do’a orang teraniaya tak tertolak oleh Tuhannya...??? ***

Salam...
El Jeffry


Handoyo El Jeffry

/achazia.com

Bila ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Bila ingin membaca seseorang, kenalilah tulisannya. Bila ingin menulis seseorang, kenalilah bacaannya dan bacalah kenalannya. (http://nafaspembaharuan.blogspot.com/)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?