HIGHLIGHT

Seikat Cerita Untuk Mbak Anazkia

07 Juli 2012 22:15:05 Dibaca :
Seikat Cerita Untuk Mbak Anazkia

Hai Mbak Anazkia.. Saya mau berbagi cerita tentang acara semalam, penutupan acara pesan dalam botol di kota kecil Jember. Pakai gaya bahasa yang amburadul gak apa-apa ya? hehe.. Acaranya molor Mbak. Dari yang seharusnya dimulai pukul tujuh malam, telat hingga jam delapan malam baru dimulai. Tapi syukurlah hanya itu yang menjadi satu satunya kendala. Mengenai masalah lain-lain, Alhamdulillah. Bisa dikatakan, acara semalam lancar sesuai yang diharapkan. Yang main ada empat band plus satu penampilan solo dari Mas Genjur, seorang pegiat seni Jember. Tampil sebagai band pembuka adalah kawan-kawan Pispot. Mereka adalah para sahabat saya yang senang mengusung lagu-lagu punk (sejak jaman dulu) dan menjalani hidup selayaknya filosofi punk, dalam arti yang seluas luasnya. Setelah Pispot, ada Stregoica. Stregoica adalah group band cadas yang terdiri dari empat personel perempuan. Cantik, anggun, tapi garang di atas panggung. Nah, si bassist Stregoica ini yang saya ceritakan kemarin ke Mbak Anaz. Namanya Sella (atau Che). Hampir seminggu yang lalu Ayahnya meninggal dunia. Dia yang saya bilang melangsungkan akad nikah di depan jenasah Ayahanda tercinta. Suaminya adalah Mas Gober, drummer tamasya band saat ini. Tahu nggak Mbak, hari ini Sella ulang tahun lho. Nggak pingin ngucapin selamat hari lahir? hehe..

Pasangan Mas Gober dan Mbak Sella

Selamat Hari Lahir ya Nduk ...

Setelah Stregoica, ada dua band lagi. The Penkor's dan Holiday. The Penkor's membawakan lagu lagu The Beatles (saya bingung mau menuliskan aliran musiknya), sedangkan Holiday mengusung tema reggae. Mas Genjur tampil diantara The Penkor's dan Holiday. Dia menghibur semua yang hadir dengan raungan melodi gitar, rasanya seperti sedang mendengarkan gemericik air di kedalaman hutan yang hening. Yang jadi MC semalam adalah Mbak Qiqie dan Mas Adit. Keduanya dulu juga pernah menjadi pembawa acara di launching album ketiga tamasya. Nah, setelah penampilan dari Holiday dengan lagu lagu riangnya, barulah tamasya band tampil. Senang rasanya bisa bernyanyi bersama di atas panggung yang dibuat dengan hasil keringat kebersamaan. Tidak ada embel-embel iklan apapun selain sekumpulan botol yang disusun sedemikian rupa. Di tengahnya ada spanduk (sisa acara di Lumajang tanggal 4 Juli kemarin) bertuliskan pesan dalam botol. Ketika MC (Adit dan Qiqie) bertanya seputar acara pesan dalam botol, saat itulah saya mulai berkisah tentang Jember di akhir tahun 50-an hingga awal tahun 60-an. Senangnya bisa berbagi cerita. Lebih senang lagi ketika akhirnya saya bisa kembali bercerita seputar komunitas maya bernama Blogger Hibah Sejuta Buku (jadi teringat acara Tribute to Manusela). Ah, saya tidak bisa menghindari untuk tidak menyebutkan nama Mbak Anazkia. Acara semalam itu juga bisa dikatakan kopdar kecil kecilan lho Mbak. Ada Kang Sofyan, Kang Lozz Akbar dan si ceriwis Indana Kelor. Jangan bandingkan acara pesan dalam botol ini dengan acara ngunduh mantunya Anang dan Ashanty lho ya. Jauuuuuuh sekali. Panggung yang kita buat hanya seukuran meja makan orang kaya, haha.. Tapi semalam vokalisnya Pispot berkata. "Ini adalah panggung kecil dengan orang-orang (yang hadir) yang berhati luas.." Amiiiin.. Semoga.

Panggung Acara Pesan Dalam Botol

13416987391820939281

Gambar diambil sore hari, sesaat sebelum check sound dan saat sedang makan bersama

Hmmm.. mau cerita apa lagi ya.. Ohya, perihal panggung. Prosesnya berat. Kita harus menyusun 9 meja balok yang terbuat dari beton cor. BelumĀ  lagi dua bedhag yang diambil dari Fakultas Sastra (jaraknya jauh dari MAHADIPA). Satu meja beton harus diangkat setidaknya oleh enam hingga delapan orang. Wuiih, benar-benar menguras tenaga. Tapi sensasi senangnya itu lho yang bikin happy. Kita melakukannya bareng-bareng, tertawa dan capek bersama. Yang lebih banyak menyumbang tenaga untuk membangun panggung selain tuan rumah (Pencinta Alam MAHADIPA) adalah kawan-kawan dari Dewan Kesenian Kampus (adek-adeknya Mas Bebeh). Mereka hebat dalam hal pemasangan lighting panggung. Kalau urusan yang satu ini, angkat jempol dah buat Dewan Kesenian Kampus Fakultas Sastra UJ. Blendez (ketua umum demisioner MAHADIPA) adalah orang yang paling sibuk. Sebentar lagi, saatnya bagi Blendez untuk recovery hehe. Tentang lukisan Dua lukisan hasil sumbangan seorang kawan (yang udah pernah saya ceritakan), semalam jadi dilelang. Alhamdulillah laku Mbak. Kalau diukur dari nominalnya memang terbilang sangat tidak mahal. Satu terbeli dengan harga 55 ribu rupiah, satunya lagi 125 ribu rupiah. tapi kalau kita mengukurnya dari sisi niat dan ketulusan untuk berbagi, maka itu adalah dua lukisan termahal di dunia. Prit, Kelor, Joy, Tita, Arum dan beberapa perempuan yang lain, sibuk dengan dagangannya. Ya, mereka sedang berjualan camilan dan aneka jajanan ringan serba lima ratus rupiah. Hebat, dagangan yang sebanyak itu ludes juga. Tadinya mereka juga hendak berjualan kopi, tapi urung. Takut ribet. Akhirnya saya mengundang sahabat bernama Ribut. Dia bekerja sebagai kopling (kopi keliling) sedari jaman sepeda kayuh hingga sekarang sudah bisa beli motor sendiri. Syukurlah, sepertinya semalam dagangan si Ribut laris. Di sini lagi berkumandang adzan subuh. Sebentar ya Mbak, stop dulu nulisnya. Lima menit lagi tak terusin. Jangan kemana mana. Tetap di Pesan Dalam Botol :) Aduh Mbak, maaf. Nggak jadi nerusin ceritanya. Jeda barusan bikin saya bingung mau bercerita apa lagi. Lagian, tiba-tiba saya udah ngantuk berat. Maaf ya Mbak Anaz. Nanti deh kita sambung lagi di kolom komentar. Saya bobok dulu ya Mbak Anazkia.. Dadaaaah.. Twing :D

RZ Hakim Hakim

/acacicu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?