HIGHLIGHT

Memperbincangkan Dunia Pencinta Alam

10 Juni 2012 12:07:13 Dibaca :

Sudah lama saya ingin membuat tulisan seputar dunia pencinta alam secara menyeluruh. Tapi keinginan tersebut seringkali tertunda. Sesekali saja saya menuliskannya di blog pribadi atau di catatan facebook. Itupun berupa catatan pendek dan sepenggal-sepenggal. Hmmm.. baiklah, sebelum saya ngelantur lebih jauh, akan saya coba menuliskannya. Dimulai dari sejarah pencinta alam.

Sejarah Pencinta Alam

Ada banyak catatan tentang sejarah pencinta alam di Indonesia. Hanya dengan bermodalkan membuka mesin pencari kemudian mengetikkan kata kunci 'sejarah pencinta alam' maka akan ada banyak tulisan yang bisa kita lahap. Tapi jika kita tarik kesimpulan, maka data tertua mengenai sejarah pencinta alam di Indonesia tercatat tahun 1912.

Dimulai dengan De Nederlandsh Indische Vereneging Tot Natuur Rescherming, sebuah komunitas yang bergerak di bidang upaya pelestarian alam. Kemudian pada tahun 1937, Pemerintah Hindia Belanda mulai terlibat secara konkret, dengan terbentuknya Bescherming Afdeling Van’t Land Plantetuin. Sejak saat itu kegiatan kepencintaalaman nusantara mulai berkembang.

Bicara tentang dunia pencinta alam, tidak bisa lepas dari kegiatan kepanduan atau yang sekarang lebih dikenal dengan Pramuka. Kepanduan berkibar antara tahun 1940 hingga 1960. Bisa dikatakan lebih berkibar dari yang saat ini (Maaf, mohon koreksinya jika apa yang saya tuliskan kurang benar).

Adapun jenis kegiatan yang sering dilakukan oleh kegiatan kepanduan adalah kegiatan olahraga, rekreasi, petualangan, membaca jejak, survival, morse, perapian, dan beberapa skill lainnya. Hal ini sangat mempengaruhi dunia pencinta alam sampai saat ini.

Istilah Pencinta Alam

Banyak sumber yang menyebutkan, bahwa istilah pencinta alam digagas oleh Soe Hok Gie di tahun 1964. Dengan kata lain, istilah pencinta alam lahir di dalam kampus. Sumber lain mengatakan, yang pertama kali mengusung istilah pencinta alam adalah sebuah perkumpulan yang menamakan dirinya sebagai Perkumpulan Pentjinta Alam atau disingkat PPA. Berdirinya PPA yaitu pada 18 Oktober 1953.

Bagi saya, keduanya saling mengisi dan saling menguatkan. Sampai pada akhirnya para pencinta alam berkumpul di sebuah acara Forum Gladian IV Ujung Pandang, pada 28 Januari 1974. Saat itu para perwakilan pencinta alam se Indonesia menggagas adanya Kode Etik Pencinta Alam Indonesia, atau biasa dikenal dengan nama KEPAI.

Kode Etik Pencinta Alam Indonesia

Bicara tentang KEPAI, saya teringat ucapan seorang aktifis lingkungan hidup Jember bernama Daenuri. Dia mengatakan begini pada saya. "Meskipun saya tidak ikut membuat, merumuskan dan mengesahkan KEPAI, tapi saya sangat setuju dengan isi di dalamnya. Seandainya setiap pencinta alam tahu, mengerti dan paham tentang apa itu KEPAI, tidak perlulah mereka merumuskan lagi aturan lain, entah itu ikrar atau hal hal semacamnya. Cukuplah KEPAI itu saja sebagai pegangan seorang pencinta alam.

Berikut adalah isi dari Kode Etik Pencinta Alam Indonesia :
Kode Etik Pencinta Alam Indonesia
• Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

• Pencinta Alam Indonesia sebagai masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab terhadap Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.

• Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa segenap Pencinta Alam adalah saudara, sebagai mahluk yang mencintai alam, sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan sebagai berikut :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Memelihara alam beserta isinya, serta mempergunakan sumber alam sesuai dengan batas kebutuhan

3. Mengabdi kepada bangsa dan Tanah Air

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya, serta menghargai manusia sesuai dengan martabatnya

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara Pencinta Alam sesuai dengan asas Pencinta Alam.

6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air

7. Selesai.

Disahkan Dalam Forum Gladian IV

Ujung Pandang tanggal 28 Januari 1974

Pukul 01.00 WITA



Fenomena Pencinta Alam Masa Kini

Seiring berjalannya waktu, orientasi organisasi pencinta alam baik yang ada di dalam kampus maupun yang di luar kampus, semakin berkembang dan meluas. Sayangnya, ada beberapa divisi yang teranak tirikan. Contoh paling nyata adalah divisi konservasi sumber daya alam.

Ketika kita bertanya pada masyarakat umum tentang apa itu pencinta alam? Bisa dipastikan, mereka akan menyebutkan ciri-ciri pencinta alam yang mengambarkan tentang sosok petualang / pendaki gunung. Ini tidak salah, tapi seharusnya pencinta alam bisa menunjukkan pada masyarakat umum bahwa dunianya tidak sesempit itu. PA bukan hanya mendaki gunung, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh seorang pencinta alam.

Seputar Kegiatan Organisasi Pencinta Alam

Kita mulai dari Organisasi Pencinta Alam yang ada di luar kampus / Institusi Pendidikan. Mereka cenderung lebih merdeka melakukan banyak kegiatan. Sayangnya, mereka harus menghidupi organisasi secara mandiri (biasanya survive dari iuran anggota atau mengandalkan seksi dana usaha) karena mereka bukan lembaga di bawah lembaga. Itu bedanya dengan Organisasi PA yang ada di dalam kampus.

Organisasi Pencinta Alam Kampus satu tingkat lebih aman dari Organisasi Pencinta Alam di luar kampus karena ada kucuran dana di setiap kegiatannya. Meskipun pada kenyataannya, kucuran dana tersebut seringkali tidak mencukupi dan mereka harus mengandalkan biaya secara swadaya.

Pencinta Alam kampus seringkali terbentur dengan perijinan (adaptasi dengan jadwal kuliah) dan juga harus memikirkan laporan pertanggung jawaban masa kepengurusan pada seluruh anggota dan pada lembaga di atasnya. Entah itu Fakultas atau Universitas. Satu lagi, mereka terjebak dengan program kerja yang sudah disepakati dalam Rapat Anggota Tahunan (yang membahas pergantian pengurus organisasi, AD/Art dan program kerja, biasanya seputar itu). Kasusnya beraneka ragam. Ada yang program kerjanya banyak tapi kehabisan waktu, ada juga yang sebaliknya.

Kemandegan inovasi, ini juga yang terlihat di dalam dunia pencinta alam (baik di dalam kampus maupun yang freelance). Yang mudah terlihat adalah kegiatan tahunan seperti DIES NATALIS OPA. Di sana acara yang berlangsung adalah tasyakuran dengan format ucapan dari para audiens (biasanya setiap perwakilan maju satu persatu mengucapkan selamat hari lahir pada organisasi yang bersangkutan) kemudian acara dilanjutkan dengan doa bersama dan makan-makan, disertai dengan hiburan berupa musik.Beberapa organisasi sudah mulai menggeliat dan berinovasi, tapi konsep lama masih tetap menjadi mayoritas.

Hubungan Tidak Mesra Antara OPA Kampus Dengan Senat / BEM

Memang, tidak semua Organisasi Pencinta Alam Kampus memiliki kondisi hubungan tidak mesra dengan BEM. Ada banyak OPA kampus yang hubungannya dengan BEM baik baik saja bahkan cenderung saling menguntungkan. Saya hanya ingin mengungkapkan tentang yang sebaliknya.

Mengapa bisa terjadi? Ada banyak sudut pandang yang bisa kita gunakan untuk menyimak polemik ini. Sudut pandang tersederhana adalah mengenai maksud dan tujuan masing-masing lembaga. BEM bermaksud baik, mengkoordinir UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan menjadikannya secara struktural ada di bawah BEM, termasuk di dalamnya adalah Organisasi Pencinta Alam. Dari pihak Organisasi Pencinta Alam, meminta BEM untuk memberikan otonomi alias berdiri sendiri. Hubungannya dengan BEM koordinatif / sejajar. Landasannya lebih pada kesejarahan. Saya yakin, polemik tersebut mudah diselesaikan dengan komunikasi.

Bagaimana Seharusnya Menjadi Pencinta Alam

Itu adalah sebentuk pertanyaan dengan jawaban yang luas. Tapi bila disederhanakan, maka jawabannya seperti ini. Menjadi bermanfaat, itu saja. Kita tahu, di dunia pencinta alam mengenal bermacam macam spesialisasi atau divisi. Bila dikerucutkan hanya akan menjadi tiga. Gunung Hutan, Jurnalistik Lingkungan dan Konservasi SDA. Apapun skill kita, entah itu mendaki, senang menulis, senang melakukan kegiatan pelestarian alam secara nyata, maka kita harus mengembalikan kata 'pencinta alam' pada habitatnya. Dengan kata lain, mengembalikan tiap-tiap pencinta alam pada kode etiknya. Setelah itu, mari kita hidup saling memberi manfaat.

Sebenarnya masih banyak poin yang ingin saya tuliskan. Tapi saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang dan jika saya lanjutkan, anda pasti lelah membacanya. Cukuplah sampai di sini dulu sudut pandang seputar dunia pencinta alam. Akan saya lanjutkan kembali di catatan berikutnya. Dan catatan kali ini saya tutup dengan menampilkan sudut pandang Bang Herman Lantang seputar dunia pencinta alam kampus / Mapala.
"Orientasi Mapala seharusnya adalah untuk menyelamatkan sebuah daerah, mengenal masyarakat terdekat daerah hingga pelosok, serta suaka alam"
Salam Lestari...!

RZ Hakim Hakim

/acacicu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?