Jember Memang Butuh Pemuda Segila Dynand Faris

26 Juni 2012 17:30:45 Dibaca :

Sebentar lagi di kota kecil saya akan kembali digelar Jember Fashion Carnaval (atau biasa disebut JFC), sebuah perhelatan mandiri yang gaungnya meluas.

JFC adalah sebuah fashion carnaval spektakuler di ranah lokal, dengan konsep kostum trend fashion yang mampu diusung menuju kelas dunia. Yang menarik dari JFC, catwalk-nya pernah tercatat di MURI sebagai catwalk terpanjang, yaitu sepanjang 3,6 kilometer.

Event ini juga berhasil mencuri perhatian dunia karena dianggap berani tampil beda. Ya, para penggagas JFC sengaja tidak menggali potensi daerah dengan melulu berkaca pada peninggalan sejarah. Mereka dengan sangat berani dan independent melakukan terobosan dengan membuat kreasi baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya di kota kecil Jember. Jika pun pernah ada sejenis karnaval tahunan, itu adalah pesta rakyat di setiap bulan Agustus, dengan kemasan yang tak segemerlap JFC.

Efek Positif Jember Fashion Carnaval

Adanya JFC membuat nama kota kecil ini meluncur ke permukaan, seperti mencuatnya sebuah bola kecil di antara jutaan bola yang lain. Ini membuat dunia luar tercuri perhatiannya, untuk kemudian berlama lama memandang kota kecil Jember.

Dari yang tadinya hanya memandang, kemudian mereka mulai bertanya tanya. Jember itu kota yang seperti apa? Ada berapa tempat wisata di sana? Ke Jember yuk? Nah, kan. Jadi tidak perlu heran jika hari ini hotel-hotel di Jember sudah dipesan untuk tanggal 8 Juli 2012 (dimana JFC diselenggarakan). Saya sendiri juga tidak kaget manakala mendengar kabar beberapa hotel berkelas internasional akan berdiri di kota kecil ini.

Adalah Dynand Faris, yang berhasil membesut Jember menuju wilayah turisme yang berkelanjutan. Bukan hanya peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat, dia juga berhasil mengajak generasi muda untuk berkreatifitas. Dalam bahasa saya, bagaimana memandang sampah agar menjadi indah. Dan itu ada di Jember Fashion Carnafal.

Dimana mana, efek positif akan berbanding dengan efek negatif. Tapi itu semua tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.

Di media yang lain, saya sendiri juga pernah menuliskan sebentuk kekhawatiran seputar JFC. Saya tuliskan di sana, "Jika JFC hanya digunakan ajang pamer mode untuk memenangkan persaingan antar daerah, untuk mematikan budaya yang sudah ada, untuk ajang eksistensi para gadis tampan, dan untuk kekurang benaran yang lainnya, berarti harus ada yang dikaji ulang.."

Dan syukurlah, itu semua tidak terbukti. Saya bangga dengan gagasan mandiri dan proses kreatif mereka. Keluarga JFC berhasil menghadapi potensi efek negatif dengan senyum manis.

Jember Memang Butuh Pemuda Segila Dynand Faris

Jember memang bukan sebuah kota yang lahir dari reruntuhan kerajaan, tidak seperti kota-kota besar lainnya di negeri ini. Tapi dalam keremangan sejarah, terkisahkan bahwa di daerah Jember Selatan pernah ada sebuah kerajaan kecil bernama Sadeng. Di sini pernah ada sebuah pemberontakan yang kemudian dikenal dengan pemberontakan Sadeng. Pada akhirnya pemberontakan Sadeng bisa ditumpas habis oleh Gajah Mada di tahun 1331. Setelah Gajah Mada berhasil memadamkan api yang berkobar di wilayah Sadeng, tidak lama kemudian dia diangkat menjadi Patih oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi.

Tidak banyak warga Jember yang tahu tentang cerita di atas. Bahkan jika itu hanya dinamakan dongeng belaka, mungkin tidak ada warga Jember yang meninabobokan buah hatinya dengan dongeng akan kerajaan Sadeng. Kenapa? Karena Jember miskin data.

Sebaliknya, ketika ada sebuah situs yang ada angka tahunnya (Congapan - 1088), tidak ada tindak lanjut yang serius. Padahal (di sisi yang lain) penyelenggara daerah membuka peluang sebesar besarnya bagi warganya untuk menelusuri Harlah Jember (sampai saat ini Harlah Jember masih ada di 1 Januari 1929, dengan pijakan yang sama sekali tidak Indonesia sentris).

Dari sisi kebudayaan juga seperti itu. Orang-orang terlalu sibuk untuk mempertanyakan mana budaya yang asli Jember dan mana yang tidak. Seakan akan tidak puas berhenti pada kata "khas" saja. Ini menjadi sedikit menggelikan manakala tidak dibarengi dengan upaya pelestarian yang sudah ada.

Ketika sudah ada seni tradisional musik patrol, penyelenggara daerah (di jamannya) masih saja menciptakan sebuah tarian (Lahbako). Alhasil, musik patrol semakin jauh dari habitatnya. Dalam tari lahbako, musik patrol hanya berperan sebagai pengiring, tidak lagi sebagai pusat gerak. Satu lagi, akhirnya musik patrol hanya statis di atas panggung, dari yang seharusnya bergerak berkeliling.

Masih ada banyak yang bisa dicontohkan. Masih carut marut.

Nah, ditengah kegalauan budaya itulah, Dynand Faris hadir dengan segenggam ide gilanya. Banyak yang terkejut. Saya adalah salah satu dari yang sempat terkejut.

Yang terjadi kemudian, saya salut dengan gagasan yang mereka usung. Mewujudkan mimpi dengan segala kemandirian. Juga menyulap barang-barang yang tadinya bertitel bekas, menjadi sebuah maha karya yang alangkah manisnya. Meski pada akhirnya JFC dimasukkan menjadi bagian dari Bulan Berkunjung ke Jember, semoga semangat mandiri dan kreatifitas mereka tetap menyala.

Bagaimanapun, Jember butuh pemuda yang segila Dynand Faris. Butuh banyak orang lagi yang mau mengusung segenggam mimpi (segila apapun) untuk kemudian berusaha mewujudkannya. Setidaknya, ada yang bisa merobek misteri sejarah Jember.

Salam INDONESIA MERDEKA..!

RZ Hakim Hakim

/acacicu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?