Kisah Otak, Jantung dan (maaf) Lubang Dubur, Manakah yang Lebih Penting?

06 Desember 2009 05:23:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 12:03:21 Dibaca : 1401 Komentar : 7 Nilai : 0 Durasi Baca :

Cerita punya cerita sedang berlansung pelatihan Resusitasi Pijat Jantung (RPJ) atau Cardiopulmonary Resucitation (CPR). Otak, jantung dan lubang dubur bertindak sebagai instruktur pelatihan. Sedangkan pesertanya sisa organ tubuh lainnya.

Sebagai instruktur mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan materi pelatihan di depan para peserta.

Otak: “saudara- saudara sekalian akulah satu-satunya organ yang paling berguna dalam tubuh manusia. Akulah yang mengendalikan semua pikiran dan gerakan tubuh manusia. Manusia – manusia yang berbuat tidak sesuai dengan norma dan budaya masyarakat akan dijuluki manusia tanpa aku. Padahal aku selalu ada di dalam kepala mereka.

Saudara-saudara, jika aku kekurangan oksigen selama 6 menit saja maka aku akan mati sekian persen. Jika batang otakku mati maka organ tubuh yang lain tidak bisa berfungsi. Itulah mengapa kalian dikirim di sini untuk belajar CPR supaya bisa menyelamatkan aku dari kekurangan oksigen”.

Jantung: “saudara-saudara, apa yang dikatakan otak adalah betul. Tetapi siapakah yang menyuplai oksigen ke dalam otak? siapakah yang memompa darah dan menyuplai makanan ke seluruh tubuh manusia?. Jika aku berhenti berdetak maka saat itulah kematian menjemput.

Saudara-saudara, kalian dikirim ke sini adalah untuk menyelamatkan aku. Mengembalikan aku kembali berdetak hingga aku bisa bertugas seperti sedia kala. Maka saat itu kehidupan bisa dipertahankan.

Oh.. ya, pernahkah anda mendengar otak kota? Yang sering anda dengar adalah jantung kota. Bahkan untuk menyebut kekasih manusia menggunakan kata si jantung hati. Sedangkan otak sering diidentikkan dengan tindakan kriminal seperti otak kasus pembunuhan, otak kasus mark up, otak perampokan, otak pencucian uang, otak korupsi, dsb.

Dari situ bisa anda simpulkan sendiri siapa yang lebih baik di antara kami”.

Giliran Lubang Dubur maju ke depan peserta untuk menyampaikan makalah. Otak, jantung dan semua peserta menertawakan organ yang satu ini. Suara gaduh dan cekikikan memenuhi seluruh ruangan. Ada yang sampai terpingkal-pingkal.

Lubang Dubur: “baiklah kalau kehadiran saya tidak dianggap penting saya akan meninggalkan forum yang terhormat ini”

Di hari- hari berikutnya lubang dubur tidak menampakkan diri. Di hari pertama seluruh peserta merasa tenang-tenang saja. Di hari kedua peserta organ perut mulai gelisah ia tampak kesakitan dan mules-mules. Ia menyalahkan mulut yang makan banyak dan terus menerus. Apalagi sajian makanan pada pelatihan sangat enak dan lezat. Di hari ketiga dan keempat terjadi kegelisahan di antara para peserta. Organ mata mulai berkunang-kunang, organ perut bertambah parah rasa mules dan mualnya. Berdiri susah dudukpun gelisah. Semua hanya mondar-mandir di depan kamar kecil. Mencoba masuk dan duduk di bilik perenungan tetapi tetap saja tidak mendengat suara plung.. plung….seperti biasanya.

Memasuki hari kelima organ otak mulai kliyeng – kliyeng. Demikian juga jantung mulai gelisah dan berdetak tidak karuan. Perut dan dada terasa sesak. Nafaspun tersengal-sengal. Semua organ lapor pada otak. Ia memanggil dokter tetapi semua diperiksa aman-aman saja. Ketika dokter menanyakan dimana lubang dubur sontak semua baru teringat.

Merasa sebagai pemimpin, otak menyelidiki apa gerangan yang sedang terjadi. Selidik punya selidik rupanya lubang dubur lagi ngambek, lagi demo dan unjuk gigi (eh….. punya gigi enggak sih). Ia enggan membuka kelebnya sebagi protes atas pernyataan otak dan jantung yang merasa super. Sok penting dan sok… sok…. yang lain.

Otak, jantung dan para peserta meminta maaf pada lubang dubur. Mereka mencabut pernyataan tempo hari di atas kertas bermaterai dan disaksikan pengacara masing-masing. Kemudian isi pernyataan permintaan maaf itu akan dimuat di media masa nasional satu halaman penuh selama tiga hari berturut-turut.

Setelah lubang dubur membuka kelebnya. Plung…. Plung…. Plung …. semua merasa plong. Otak dapat berpikir cerdas, jantung berdetak normal, mata tidak berkunang-kunang dan perut serasa nyaman. Pendek kata semua berjalan normal seperti sedia kala.

Atas rasa terima kasih mereka kepada lubang dubur maka diberilah kesempatan untuk berbicara di depan umum.

Lubang dubur: ”Saudara-saudara semua telah merasakan betapa pentingnya saya dalam menjaga kehidupan dan keseimbangan. Selama ini saya hanya dipandang sebelah mata. Belum tentu yang jelek menurut kalian tidak ada gunanya. Belum tentu yang baik menurut kalian akan selalu memberi manfaat. Maka jangan melihat sesuatu dari bentuknya yang penting fungsinya.

Ssttttt……………… ini rahasia, jelek-jelek begini banyak manusia yang menyukai saya lho. Kalau kalian tidak percaya tanyakan pada Mariska Lubis di kompasiana.

Otak: ?!$%%^-^???

Jantung:$%&^*&*()*(_???

Peserta: Oh….. oh….. kamu ketahuan ?&*(*^%%%?

Salam dari Doha

Abu Ga

/abuga

take it easy, make it simple and life is beautiful
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana