Tugas Penyuntingan

19 Mei 2013 22:09:39 Dibaca :

Jam tangan menunjukkan angka 9.23. Matahari mulai bergerak meninggalkan timur. Cahayanya semakin mengkilau. Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sugi meraih ke dalam bus lewat pintu belakang. Dilihatnya keadaan di dalam bus itu. Deretan kursi tampak sangat sepi. Jam segini memang bukan jam padat dimana orang-orang pada berangkat beraktivitas. Sugi adalah seseorang yang bekerja tanpa pernah terikat waktu. Berangkat pada jam segini adalah pilihan terbaik baginya. Ia tak harus berdesak-desakan dan berdiri bergelantungan bersama penumpang lain. Dari tujuh baris susunan kursi berisi dua kursi di masing-masing sisi, hanya ada total enam kursi yang terisi dan semuanya di bagian depan. Tampaknya mereka semua berteman atau saling kenal, pikirnya. Sugi memutuskan duduk di kursi bagian tengah, di sebelah kiri badan bus, di barisan ke-empat dari depan atau ke-tiga dari belakang. Ia memilih kursi itu karena ia bisa membaca dengan tenang. Ia mulai mengeluarkan sebuah buku karya Pablo Neruda, seorang pengarang asal Amerika Latin. Ia begitu menikmati helai demi helai buku itu sebelum akhirnya bus itu berhenti untuk mengangkut seorang penumpang lagi yang celakanya memilih tempat duduk di sampingnya. Penumpang itu duduk sambil memperhatikan Sugi yang pura-pura serius membaca. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Sugi dan menyebutkan namanya. Sugi pun segera menyambut uluran tangan itu dan juga menyebutkan namanya. "Mengajar?" pria setengah baya bernama Anton itu bertanya. "Oh, tidak Pak. Saya akan mengerjakan tugas penyuntingan," jawab Sugi dengan nada suara tercekik karena sejak bangun tadi pagi belum ada berbicara sepatah kata pun. "Oh, editor? Penerbit apa?" sambung pria itu. Sugi menggeleng. "Bukan. Saya penulis. Dan saya akan menyunting sendiri karya saya. Di penerbit tempat saya mencetak buku saya tak ada penyuntingnya. Penyunting satu-satunya sedang cuti karena hamil." "Oh, saya baru tahu sekarang, Anda Sugiatmo penulis buku "Tidur Bersama Alam" itu kan? Wah. Ternyata Anda memang betul-betul hebat. Penulis sekaligus penyunting. Saya baru ini mendengar yang seperti ini. Apa bisa seperti itu?" pria itu terperanjat dan berujar semakin seru. "Ya. Begitulah memang keadaannya Pak. Tetapi kehebatan yang Bapak pikirkan itu tidak sama sekali seperti itu. Kalau boleh dibilang, ini lebih berupa tuntutan batin saya Pak." "Tuntutan batin bagaimana maksudnya?" "Iya. Tuntutan batin yang selama ini menggugat hati saya." Pria itu terkekeh-kekeh dan menepuk ujung paha Sugi. "Anda ini dasarnya penulis. Dan Anda telah berhasil dalam menulis. Bahkan Anda sanggup menyunting sendiri karya Anda. Kalau saya mau jujur, putri saya yang masih SMA sangat mengagumi karya-karya Anda. Sungguh luar biasa. Lalu apa lagi?" "Pekerjaan ini, baik menulis dan menyunting, tak sekadar urusan tulis-menulis Pak." "Lalu apa? Royaltinya masih kurang?" "Tentu bukan itu juga. Kalau cuma royalti saya rasa saya sudah mendapat lebih dari cukup. Apalagi saya masih lajang. Saya bisa, dengan uang royalti yang saya peroleh, membangun rumah dan bahkan menabung." "Ooooh...,pasti jodoh?" "Tidak juga. Saya sudah menemukan jodoh saya. Kami akan menikah setelah lebaran nanti." "Lalu, apa?" "Yang saya maksud dengan tugas 'penyuntingan' itu bukan cuma penyuntingan dalam arti yang harfiah. Saat ini, saya memang benar-benar sedang memperbaiki naskah karya tulis saya sendiri di ruang redaksi. Tapi itu sudah sering saya lakukan. Itu saya lakukan karena saya sejak dulu, di samping menulis, selalu mencintai tata bahasa. Dan pekerjaan menyunting bagi saya terlalu menyenangkan dan sayang untuk ditinggalkan. Akan tetapi, di luar itu semua, ada 'pekerjaan penyuntingan' yang sedang saya kerjakan terhadap diri saya sendiri. Bahwa saya bisa menulis dengan baik, saya menyadari itu. Begitu pula menyunting. Tetapi yang saya sangat inginkan dari ini semua adalah bahwa saya bisa menjadi seorang pribadi sebaik apa yang tulis. Saya tidak ingin menjadi seorang penulis yang cuma baik dalam tulisan, tetapi tidak dalam bertindak dan berbuat. Itulah tugas 'penyuntingan' yang saya maksudkan. Saya sadar, sampai saat ini, perbuatan saya masih belum sebaik tulisan saya. Oleh karenanya, saya sedang melakukan 'penyuntingan' terhadap perbuatan saya," jelas Sugi dengan bijak. "Ooooh. Sungguh saya tak menyangka itu. Saya sependapat dengan Anda. Sekarang ini, kita memang bukan krisis pengarang baik, bukan pula krisis orang-orang cerdik, tapi kita sedang krisis perbuatan baik. Saya bahkan kagum dengan Anda, seorang penulis ternama, yang telah mau naik angkutan umum seperti ini." ujar pria itu menanggapi. "Hehehehe," Sugi mulai tertawa. Pria itu pun tertawa. "Terima kasih Pak," sambung Sugi. "Di halte depan itu saya turun. Putri saya pasti sangat senang mendengar cerita bahwa saya bertemu Anda. Senang bertemu dengan Anda." "Sekali lagi, terima kasih Pak. Salam buat putri Bapak." "Dengan senang hati akan saya sampaikan," tukas pria itu penuh senyuman.

Abul Muammar

/aboelammar

Benar semua. Salah semua. Benar: misteri Ilahi yang harus terus menerus dipelajari.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?