Aku Bangga dengan Bapakku

24 September 2013 06:40:30 Dibaca :

Aku Bangga dengan Bapakku

Aku bangga pada almarhum Bapakku. Meskipun beliau lahir di desa, tidak pernah sekolah, dan harus kerja keras untuk menghidupi keluarga kami, beliau selalu mendorongku untuk sekolah setinggi-tingginya. Dan, Alhamdulillah, saya bisa memenuhi harapannya. Meskipun beliau tidak sempat menyaksikannya sendiri.
Bapakku dilahirkan di desa kecil di selatan kota Solo, desa Nguter namanya. Kira-kira 11 km sebelum Wonogiri. Bapakku adalah anak 'ragil' dari 16 orang saudara. Bapak lahir sebelum penjajah Jepang datang ke Indonesia. Ketika lahir bapak diberi nama 'Wagimin', pangilannya 'Min'. Kelak ketika dewasa namanya diganti menjadi 'Minto Pawiro'. Tetap 'Min' atau 'Minto' panggilannya.
Bapak kecil hidup susah di desa. Simbah hanya petani biasa. Ketika itu sudah ada sekolah, tapi Bapak tidak boleh sekolah oleh simbah. Kata simbah; kalau bapak sekolah tidak ada yang mengurus sapi-sapinya Simbah. Masa kecil bapak dihabiskan di sawah dengan sapi-sapinya.
Jadi anak petani di desa hidupnya susah. Kalau mau pergi ke mana-mana dengan jalan kaki. Bapak pernah cerita, ketika masih kecil diajak Simbah Wedok pergi ke Kartosuro. Kota yang jaraknya kira-kira 20km itu ditempuh dengan berjalan kaki pulang-pergi. Kalau capek berjalan, mereka istirahat di bawah pohon sambil minum atau makan bekal yang mereka bawa dari rumah.
Saya tidak sempat mengenal Simbah Kakung dan Simbah Wedok. Mbah Kakung meninggal sebelum saya lahir dan Mbah Wedok meninggal waktu saya umur satu tahunan. Semoga mereka diampuni semua dosa-dosanya dan diberi rahmat di alam kubur.
Ketika beranjak besar, kira-kira seumuran anak SD, Bapak mulai banyak keinginan. Namun, keinginan itu banyak yang tidak terwujud. Suatu ketika di hari lebaran Bapak minta dibelikan baju baru ke Mbah Wedok. Tapi Mbah Wedok tidak membelikannya. Bapak dijanjikan mau dibelikan baju nanti waktu 'bodo besar' (hari raya qurban). Bapak kecewa dan sakit hati. Lalu, bapak pergi dari rumah dan ikut kakaknya yang paling besar, Pak De Kromo, di Palur Solo.
Pak De Kromo orang kaya di desanya. Kerjaannya 'blantik' sapi. Sapinya Pak De Kromo banyak dan sawahnya luas. Sayangnya Pak De Kromo tidak dikaruniai anak. Bapak 'ngendong' di rumahnya Pak De. Kerjaan bapak  masih sama: 'angon sapi'.
Kerja 'angon sapi' tidak banyak memberi perubahan pada kehidupan Bapak. Bapak ingin bekerja di tempat lain, tapi Bapak tidak punya keahlian apa-apa. Bapak tidak sekolah, tidak punya ijazah, dan tidak bisa baca-tulis. Kalau pun mendapat pekerjaan, dapatnya pekerjaan yang 'kasar' juga. Bapak mencoba mencari kerjaan lain yang bisa memberikan uang lebih.
Akhirnya Bapak ikut tetangganya yang berjualan mi dan nasi goreng keliling. Setiap malam bapak ikut berjalan kaki keliling kampung-kampung untuk berjualan mi. Waktu itu angkringan mi-nya masih dipikul ke mana-mana. Bapak jadi pelayan yang pekerjaannya mencuci piring dan membuatkan minum.
Bapak memperhatikan cara tetangganya memasak mi dan nasi goreng. Di sela-sela waktu berjualan tetangganya sedikit-sedikit mengajari tip-tip memasak mi dan nasi goreng. Kurang lebih dua bulan bapak ikut tetangganya berjualan mi.
Kemudian bapak pindah rumah ke kakak perempuannya, Mbok De Karto, di Kerten Solo. Di sini Bapak memberanikan diri untuk berjualan mi keliling sendiri. Dengan uang celengan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Bapak membuat angkringan sendiri, beli perlengkapan sendiri, dan belanja sendiri. Bapak mulai berjualan keliling kampung Kerten, Purwosari, dan Manahan.
Kehidupan Bapak masih belum banyak berubah. Kehidupan keras sepanjang malam dijalaninya dari kampung ke kampung. Kemudian Bapak mencoba keberuntungan di kota lain. Bapak pindah berjualan mi ke kota Sragen. Di kota ini Bapak berjualan tidak lama, hanya beberapa bulan saja.
Bapak merantau lagi ke tempat yang lebih jauh dengan membawa angkringannya dan tas koper kecil tempat pakaian. Bapak pergi mengadu nasip ke Muntilan, Magelang. Tidak ada sanak saudara di kota kecil ini. Ketika malam tiba, Bapak keliling berjualan mi di sepanjang pertokoan Muntilan.
Banyak orang-orang Cina pemilik toko yang menjadi pelanggannya. Ada seorang pelanggan yang memberikan 'resep rahasia' untuk membuat masakan mi dan nasi goreng menjadi lebih enak. Awalnya Bapak tidak terlalu tertarik mencobanya. Namun, karena penasaran bapak mencoba 'bumbu resep' itu. Ternyata tambahan bumbu itu membuat masakan Mi-nya menjadi lebih enak.
Muntilan hanyalah kota kecil. Meskipun masakannya lebih enak, tetapi penjualannya tidak banyak meningkat. Akhirnya, dengan sisa uang yang ada bapak pergi ke kota Magelang yang lebih ramai.
Masih segar dalam ingatan saya, ketika bapak menceritakan kisahnya sampai di kota Magelang. Bapak turun dari angkot di jalan tentara pelajar sekarang. Tepatnya di dekat Bank BRI. Dulu jalan ini adalah jalan utama Jogja-Semarang. Sisa uang di sakunya tinggal 50 perak. Tidak cukup untuk modal berjualan.
Kemudian Bapak pergi ke pasar dan mencari bahan-bahan dagangan dengan cara hutang. Bayarnya besok hari setelah mendapat uang. Ada beberapa pedagang pasar yang mau memberinya hutang bahan. Dengan modal belanjaan hutang itulah Bapak berjualan mi pertama kali di kota Magelang. Tas koper kecilnya diselipkan di bawah angkringan, dan kadang-kadang dijadikan alas duduk. Malam itu Bapak tidur di emperan toko, karena belum punya tempat tinggal.
Beberapa hari kemudian Bapak punya sedikit uang tambahan. Kemudian Bapak mencari tempat untuk di sewa. Bapak mendapat tempat kecil, 'slompetan' bekas kandang ayam di rumahnya Mbah Ali Jambon. Di ruang sempit ini pertama kali Bapak tinggal.
Setiap malam Bapak memikul angkringan berjualan mi dan nasi goreng dari kampung ke kampung. Berjalan menyusuri pertokoan pecinan Magelang. Seiring berjalannya waktu pelanggannya semakin banyak. Bapak membuat tempat berjualan yang lebih baik: gerobak. Kalau sebelumnya dipikul sekarang didorong.
Pada saat inilah Bapak bertemu Emak dengan bantuan Mbah Sastro. Akhirnya Bapak dan Emak menikah. Bapak tetap berjualan mi keliling. Lama kelamaan Bapak mulai menetap jualannya seiring dengan bertambahnya pelanggan. Bapak mendapat tempat berjualan yang tetap di depan hotel Pringgading.
Kalau pagi tempat itu digunakan untuk berjualan soto ayam Pak Sarju. Kalau malam Bapak yang berjualan di tempat itu. Bapak masih memakai gerobak dorong dan tidak ada naungannya. Kalau malam sudah agak larut, ada juga penjual sate madura keliling yang berhenti di situ. Saya masih ingat sekali kalau pergi ke warung kadang-kadang dibelikan sate oleh Bapak.
Pelanggan Bapak semakin banyak. Bapak kemudian berfikir untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga bisa membuat warung tenda untuk tempat berjualan. Akhirnya bapak mendapat tempat di halaman rumah Pak Soekidjo yang letaknya cuma berseberangan jalan dengan tempat sebelumnya.
Di tempat ini Bapak membuat tenda dan meja untuk berjualan. Pada saat itu, kami tinggal di rumah kecil di kampung Jambon Wot. Saya masih kelas satu dan adik saya belum sekolah. Kadang-kadang kalau malam kami ikut berjualan di warung, bermain-main di pinggir jalan dan sekali-kali membantu mencuci piring dan gelas kotor.
Saya sekolah di sekolah SD Inpres Cacaban 2, sekolah kecil di balik gunung sukorini. (Karena tidak ada muridnya, SD Cacaban 2 sekarang sudah ditutup). Saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Tidak ada yang mengajariku belajar, karena Bapak dan Emak sibuk berjualan dan mereka tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca-tulis bagaimana bisa mengajari anaknya sekolah?
Walikota Magelang saat itu, Bapak Bagus Panuntun, berencana untuk menertibkan pedagang kaki lima. Pak Walikota membuatkan kompek warung di bekas pembuangan sampah di lereng Jambon. Ada 30 warung yang dibangun dan Bapak mengambil dua warung untuk berjualan Mi. Kampung itu bernama Jambon Tempel Sari.
Warung semakin berkembang dan kehidupan keluarga kami lebih banyak di warung daripada di rumah. Tidak beberapa lama kemudian kami pindah ke warung yang cuma berukuran 8x6 m itu. Tempat tidur kami adalah kolong meja tempat bapak berjualan. Mungkin ada pelanggan yang tidak sadar, ketika mereka makan, di bawahnya ada anak-anak yang sedang tidur.
Warung semakin ramai dan pelangan semakin banyak. Warung bapak diberi nama 'Warung Bakmi Pak Mien'. Bapak mulai mengunpulkan uang sedikit demi sedikit. Bapak juga membeli beberapa becak untuk disewakan. Lereng belakang warung dijadikan 'kandang becak'. Ada tujuh becak yang dimiliki Bapak.
Ketika uang yang terkumpul banyak, Bapak mulai membangun rumah di belakang warung. Ketika itu saya masih kelas 3 atau 4 SD. Saya masih ingat nama tukangnya; Pak Manduro. Beberapa sanak saudara juga ikut membantu; Lik Pangat, Pak De Sapari, Pak De Mudakri dan Mbah Amad Dakwan, simbahku sendiri. Kalau pulang sekolah saya membantu mengangkat batu bata sambil memperhatikan mereka bekerja. Bapak juga ikut membantu membangun rumah ketika pekerjaan warung selesai.
Bapak orang yang sangat rajin bekerja. Kalau orang bilang 'ora duwe wudel'.  Kalau pagi kerja membangun rumah, malam berjualan. Meskipun tidak mahir, bapak bisa 'nukang kayu' dan 'nukang batu'. Rumah kami itu dibangun sedikit demi sedikit. Kalau ada uang dibelikan material, kalau uang habis berhenti. Alhamdulillah, akhirnya rumah kecil itu jadi juga. Saya tidak lagi tidur di kolong meja, tapi sudah punya kamar sendiri.
Pada saat saya masih SD, Bapak yang hanya penjual Mi itu sudah bisa membangun rumah sendiri. Bapak lebih hebat dari saya. Di saat anak-anak saya hampir lulus SD, rumah saya kreditnya belum lunas, kecil lagi.
Sisa tanah di sebelah barat kemudian di bangun juga oleh Bapak. Kali ini yang mengerjakan lebih banyak Bapak sendiri dan selesainya lebih lama. Sungguh saya sangat hormat dengan kegigihan dan ketekunan Bapak bekerja dan membangun rumah tempat kami berteduh.
Ketika saya lulus SD, Bapak membelikan 40 ekor bebek untuk saya dan membuatkan kandang di belakang rumah. Setiap hari sebelum berangkat sekolah saya 'angon bebek' dulu. Telur-telurnya lumayan untuk tambah uang jajan. Bapak juga membuatkan saya gerobak kaki lima di pinggir jalan Diponegoro. Setiap sore hingga malam saya berjualan rokok, permen, dan minuman di warung gerobak itu.
Alhamdulillah, dengan dorongan Bapakku, akhirnya aku bisa kuliah di Unsoed Purwokerto. Bapak membiayai kuliahku dari hasil berjualan Mi.
Tidak lama setelah saya lulus ujian pendadaran, Bapak jatuh sakit tepat setelah sholat 'iedhul fitri. Beliau terkena serangan 'stroke' dan harus rawat inap PKU Muhammadiyah Solo. Saya selalu menunggui Bapak selama di rumah sakit. Hanya sekali saja saya meninggalkannya, karena saya harus ke kampus untuk mendaftar wisuda. Alhamdulillah, akhirnya Bapak sembuh.
Setelah sembuh, Bapak membangun bagian atas warung menjadi mushola. Pembangunan itu Bapak kerjakan sendirian. Semua bahannya dari kayu dan papan. Subhanallah. Bapak semakin sehat dan semakin rajin beribadah.
Ketika kampung kami membangun masjid, Bapak sangat giat membantu pembangunan masjid itu. Bapak ikut menyumbang tenaga dan material untuk pembangunan majid. Setelah masjid itu berdiri, Bapak hampir selalu sholat wajib di masjid. Subhanallah. Allahuakbar.
Dengan dorongan dan doa Bapak, saya bisa melanjutkan kuliah saya di Institut Pertanian, Bogor, dilanjutkan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan saya bisa melakukan penelitian di Chalmers University of Technology, Gothenburg.
Suatu malam, sekitar pukul satu dini hari, HP saya berdering. Saya sudah tidur dan malas mengangkat HP itu. Ketika pagi habis sholat subuh saya lihat HP saya dan ternyata adik saya yang menelpon. Tidak biasanya adik saya menelpon dini hari. Beda waktu kami 6 jam. Dia biasanya menelpon siang, saya menerimanya malam hari.
Tidak beberapa lama telepon berbunyi lagi. Adik saya menelpon. Dari kejauhan dengan suara berat adik saya mengabarkan kalau Bapak sudah tidak ada dan sekarang menunggu dikebumikan. Innalillahi wa innalillahi roji'un. Serasa disamber geledek pada saat itu. Antara tidak percaya dan serasa di mimpi, kalau Bapak yang sangat saya cintai dan sangat saya hormati telah tiada.
Saya menangis seperti anak kecil di pangkuan istri saya. Hati saya hancur berkeping-keping. Bapak tiada ketika saya berada jauh darinya. Saya tidak bisa menemani Bapak ketika menghadapi sakaratul maut. Padahal dulu ketika Bapak sakit keras, saya selalu berada di sisinya. Saya juga tidak bisa pulang untuk menghadiri pemakamannya.
Menurut cerita adik dan keluarga, Bapak meninggal mendadak. Sehari sebelumnya Bapak masih kerjabakti membuat tower tandon air dan membangun atapnya. Sore hari, ketika hujan turun, tetangga-tetangga yang lain berteduh dari hujan, Bapak masih bekerja dan menyelesaikan pembuatan atap tandon air sumur umum yang letaknya di samping rumah itu. Selepas magrib Bapak pergi ke rumah Simbah menghadiri acara 'tahlilan' tiga hari meninggalnya Simbah Wedok. Pukul sebelas malam Bapak pulang ke rumah dan masih sempat membuat mie instant. Pukul dua belas malam, Bapak masih bercanda ngobrol dengan teman-teman adikku dan tetangga rumah.
Biasanya sebelum adzan subuh Bapak sudah pergi ke masjid. Hari itu Bapak belum bangun sampai lewat adzan subuh. Oleh Emak dibiarkan saja, karena dikira Bapak masih kecapaian setelah bekerja keras kemarin hari. Namun, ketika jam sudah hampir menunjuk angka 6, Emak membangunkan Bapak. Bapak diam saja, dan Emak menjadi panik. Emak lari memanggil adik saya. Adik saya segera datang dan membangunkan Bapak. Bapak diam tetap diam saja. Kemudian adik saya menelpon tetangga yang jadi perawat untuk memeriksa Bapak. Pagi itu Bapak dikabarkan sudah meninggal dunia. Adik saya langsung menelpon saya, tapi karena saya masih tidur dan dini hari saya tidak menjawab panggilan telepon itu.
Pagi itu suasana rumah jadi ramai. Tetangga-tetangga seakan tidak percaya dengan meninggalnya Bapak. Kabar menyebar cepat. Orang-orang ramai datang ke rumah. Bapak Walikota Magelang, anggota DPRD, sanak-saudara, dan pelanggan-pelanggan Bapak datang ikut mengantarkan jenasah Bapak dikuburkan di pemakaman Giridarmoloyo.
Selamat jalan Bapak. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima semua amal-amalmu, dan menjagamu seperti engkau menimangku ketika aku masih kecil. Amin.
Kini, seperti yang selalu Bapak harapkan, akhirnya anakmu bisa menyelesaikan kuliah. Mendapatkan gelar pendidikan tertinggi. Gelar ini aku persembahkan untukmu.
Bapak, aku akan selalu mengingat kisah hidupmu yang selalu engkau ceritakan padaku. Kisah itu selalu membakar semangatku. Kan kuceritakan kisahmu pada anak-anakku, cucu-cucumu. Agar mereka selalu mengenangmu dan mendoakan engkau.
Bapak, aku selalu bangga padamu.

[Magelang, 21 September 2013]

Isroi Isroi

/abimosaurus

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Berbagi Tak Pernah Rugi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?