Pendakian Gunung Sindoro via Kledung

14 Desember 2012 23:23:42 Diperbarui: 24 Juni 2015 12:37:10 Dibaca : 3317 Komentar : 2 Nilai : 0 Durasi Baca :
Pendakian Gunung Sindoro via Kledung
Hola, beberapa bulan kemarin, sekitar bulan Agustus, saya bersama dua orang teman saya melakukan pendakian ke puncak gunung Sindoro, Wonosobo, Jawa Tengah, namun baru sekarang ini saya sempat mempublikasikannyamumpung lagi mood. Sindoro merupakan gunung yang masih perawan, karena dibagian badan gunungnya tidak terjamah oleh manusia, beda dengan sumbing yang pada bagian badan gunungnya sudah ditanami oleh penduduk. karena kealamiannya tersebut, Sindoro sering sekali mengalami kebakaran hutan.
Perjalanan diawali dengan menuju basecamp Kledung yang terletak di desa Kledung, Wonosobo. Kami bertiga berangkat dari Yogyakarta menggunakan sepeda motor. Jarak tempuh dengan laju yang santai sekitar dua jam dengan jalur Yogyakarta-Magelang-Wonosobo. Jika menggunakan bus, maka naiklah bus jurusan Wonosobo, dan turun di daerah Kledung, tepatnya disebelah restoran Dieng Pass. Basecamp gunung Sindoro masih sangat rendah karena sangat dekat dengan jalan besar. Basecamp ini juga menjadi markas dari tim SAR yang bernama GRASINDO. Disini sudah ada tempat istirahat, toilet, tempat ibadah, penjualan souvenir, dan makanan. Sebaiknya sebelum mendaki Sindoro, sediakan perbekalan air yang lebih, karena gunung Sindoro miskin akan mata air. Hampir tidak ada sumber air di atas gunung ini. Lebih baik bawa perbekalan makanan segar dari bawah seperti nasi bungkus yang memang sudah disediakan oleh basecamp untuk menghemat air.
Dari basecamp, kami masih harus menempuh ladang-ladang tembakau penduduk sekitar satu jam sebelum masuk hutan. Terdapat tukang ojek yang bisa mengantarkan kita dari basecamp sampai pintu masuk hutan (watu gede) dengan tarif Rp. 15.000, sebenarnya lumayan menghemat tenaga. Saya sarankan untuk naik ojek saja, karena jalur ladang ini lumayan mengesalkan walaupun jalannya datar namun cukup jauh.
Dari Watu Gede kami berjalan memasuki hutan-hutan yang lumayan gelap karena waktu itu kami memulai pendakian pada pukul setengah lima sore. Trek dari Watu Gede sampai ke pos 1 Sibajing tidaklah sulit. Jalannya landai, hanya saja sempit. Di pos 1 kami istirahat sejenak untuk melepaskan dahaga. Setelah segar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Langit sudah gelap, dan matahari sudah terbenam. Jalur yang kami ambil adalah yang sebelah kanan, karena jika lurus merupakan jalan buntu. Jalurnya sedikit menanjak, namun masih tergolong relatif mudah. Dari sini kami harus mendaki melewati dua buah bukit. pada bukit yang berikutnya kami melewati jembatan kayu yang terdiri dari tiga kayu yang dijejerkan. Jembatan ini bisa menjadi patokan kami. Suasananya semakin gelap karena jalurnya dikelilingi oleh pohon-pohon lamtoro dan pinus. sekitar jam 8 kami sampai di pos 2, kami beristirahat sejenak. Pos 2 ini berketinggian 2.120 mdpl, sedangkan pos 1 hanya 1900 mdpl.
Dari pos 2, kami berjalan kembali menuju pos 3 Seroto. Jalur yang kami lewati lumayan menanjak, perpaduan kerikil dan pasir membuat tanahnya berdebu, sehingga kami harus menggunakan slayer kami sebagai penutup hidung dari debu. Kami berhenti sejenak pada sebuah batu yang cukup besar. Katanya batu besar ini dulunya merupakan bekas candi, karena bentuknya juga lumayan simetris. Dari batu ini kami naik lagi, hutan mulai terbuka dan angin malam mulai menerpa kami. berhenti sejenak saja, dingin langsung menjalar ke sekujur tubuh. Semakin keatas semakin terbuka, nah saat berada di tempat datar yang cukup luas, disitulah pos 3 Seroto berada. Tempat tersebut dapat menampung belasan tenda. Disini kami bertemu dua orang dari semarang yang sudah mendaki lebih dulu. mereka sedang mendirikan tenda sederhana atau bivak. Kami disini beristirahat cukup lama, memasak dan ngopi-ngopi dulu bersama dua teman baru ini. Pemandangannya bagus. Karena cuaca saat itu cerah, maka Gunung Sumbing terlihat sangat mempesona walau dikegelapan malam. berjalan ke arah jurang, kita dapat melihat lamu-lampu kota wonosobo berkerlap-kerlip.
Chef kami tengah memasak :D
Kami kembali melanjutkan perjalanan lebih keatas lagi. Jalur dari pos 3 ke atas sudah mulai sulit didaki karena lumayan curam, berbatu, berkerikil, serta berdebu. Setelah memanjat sekitar satu jam, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat datar sebelah kiri kami. Sebenarnya lokasinya tidak terlalu jauh dari pos 3, hanya saja treknya lumayan terjal sehhingga membutuhkan waktu mendaki yang agak lama. Tenda didirkan, kayu bakar dikumpulkan, dan api unggun dinyalakan. Nikmatnya ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul sembari memandang gunung Sumbing.  Pukul dua belas malam kami terlelap. Subuh-subuh alarm berbunyi, kami bangun, kemas-kemas, dan ngopi dulu, tidak lupa foto-foto sunrise dulu.
Sunset in the middle of Sindoro
Jalan semakin terjal namun lumayan teduh karena dikelilingi oleh pohon lamtoro dan tanaman-tanaman perdu. namun hanya sebentar. Setelah itu hutan kembali terbuka, jalannya lebih curam dan sulit. Batu-batu besar mulai bermunculan disekeliling rumput-rumput hijau dan semak-semak belukar. Pohon-pohon lamtoro tampak berdiri jarang-jarang, sesekali hanya satu batang pohon saja. Pemandangan ini sungguh eksotis, bayangkan padang rumput, dengan batu-batu besar dan pohon kurus tinggi yang berdiri sendiri, sungguh beautiful! sayangnya jalannya menanjak. Puncak-puncak bayangan mulai terlihat, dimana saat kita melihat keatas, tampak ujung dari tanjakan yang setelah kita naiki ternyata masih ada tanjakan lainnya. Dari puncak bayangan satu ke yang lainnya jalurnya sungguh terjal. Lumayan menguras tenaga. Disinilah air sangat dibutuhkan.
Puncak Bayangan
Pada saat kami benar-benar ngos-ngosan, kami menjumpai tanah datar yang ternyata telah berdiri tenda darurat (sangat darurat) disitu. Kami beristirahat disitu sambil bertanya-tanya apakah ada orang di dalam tenda tersebut. Tenda tersebut (kalau saya bilang sih bukan tenda) hanya dibuat dengan memanfaatkan mantel kelelawar, kayu sebagai tiang, dan matras sebagai alasnya. Mungkin karena mendengar suara berisik diluar, penghuni tenda tersebut keluar dan akhirnya kami saling menyapa. Dia mendaki sendirian saja, dari Bekasi, perbekalannya sangat minim, tidak membawa jaket, dan hanya bercelana pendek, edaaaan!. Setelah bercerita, ternyata tadinya mas-mas ini yang berama Didi berencana trekking tanpa ngecamp untuk naik ke puncak, namun apa daya, jalurnya begitu terjal, sehingga mas-mas ini harus berhenti karena kelelahan yang luar biasa. Hari ini dia berencana untuk turun saja karena sudah tidak kuat, namun setelah kami bujuk akhirnya dia mau melanjutkan perjalanannya kembali.
Perjalanan kami lanjutkan setelah sebelumnya ketambahan satu personel. Ditengah jalan tiba-tiba mas Didi muntah-muntah, mungkin akibat semalam tidur didalam tenda darurat tanpa jaket dan bekal yang minim sehingga dia masuk angin. Kami istirahat sebentar sambil mengobati Didi. Setelah lumayan baikan, kami naik lagi. jalurnya sungguh sangat berat, terjal dan terbuka, sehingga panas matahari begitu mengganggu perjalan kami. bunga-bunga edelweis berada disekeliling kami, memandangi kami dengan rasa iba. Pemandangannya di padang edelweiss ini cukup indah. Jika menengok kebelakang kita dapat melihat gumpalan-gumpalan awan dan sosok raksasa gunung Sumbing.
Menuju Puncak
Setelah melewati hutan edelweis, kami masih harus naik lagi, terdapat pohon-pohon yang lumayan tinggi, sehingga dapat dijadikan tempat berteduh. karena saya capek, saya berhenti agak lama sambil menikmati pemandangan alam bersama Didi, sementara dua orang teman saya berangkat duluan. Saat kami berdua tengah beristirahat, dua orang dari semarang yang ngecamp di pos 3 datang dengan enteng dan ringannya, sambil menyapa, mereka mendahului kami. Cepat benar mereka, memang kalau tubuhnya kurus dan langsing , mendaki jadi lebih gampang ya? tidak seperti saya yang lumayan kepayahan karena timbunan lemak ditubuh lumayan banyak (tapi tidak gendut lho! :p ).
Diatas itulah puncak yang asli berada
Pendakian menuju puncak akhirnya berhasil setelah nafas ngos-ngosan setengah mati. Puncak tidak lebar, hanya memanjang mengeliling kawah yang lumayan dalam. Kita bisa turun kedalam kawah yang cukup lebar sambil menikmati aroma belerang yang keluar dari asap didalam kawah. kawah ini pada musim hujan akan terendam oleh air sehingga membentuk danau kawah yang dapat kita minum airnya, namun sayang kami mendaki pada musim kemarau, sehingga tidak berkesempatan melihat danau kawah tersebut.Terik matahari sangat menyengat, panasnya ngga nahan! Dipuncak kami masak-masak dulu , puas-puasin foto-foto, puas-puasin menikmati pemandangan yang luar biasa indah, dan puas-puasin perjuangan kami yang lumayan berat ini. Dari puncak, jika kita menghadap ke arah selatan maka akan tampak gunung Sumbing yang kelihatan megah, sedikit kearah timur maka akan tampak gunung merbabu dan merapi di kejauhan. Sungguh menakjubkan! Puncak gunung selalu menampilkan pemandangan dan kepuasan batin tersendiri bagi para pendakinya. Kami turun gunung sekitar pukul dua siang. Hati-hati saat turun karena jalannya merupakan campuran kerikil, debu, dan pasir sehingga jika kita lengah, bisa-bisa kita tergelincir. (idiotraveler, Abeng Sagara, 2012)
Kawah Sindoro
Fact :
Gunung Sindoro - 3.136 m.dpl, setidaknya ada tiga nama yang dikenal baik oleh masyarakat, Sindoro, Sundoro atau Sendoro. Adalah termasuk dalam jajaran gunung berapi yang mempunyai bentuk kerucut dengan tipe Strato. Dari kejauhan nampak seperti dua saudara kembar antara Sundoro dan Sumbing, berdiri kokoh di batas Kabupaten Temanggung sebelah barat dan sebelah timur kota Wonosobo. Diantara keduanya, dipisahkan oleh pelana Kledung (1.405 m.dpl) yang melintasi jalan raya, menghubungkan Wonosobo dengan kota Magelang.
Koordinat letak geografis gunung Sindoro ada pada 7° 18'LS dan 109° 59.5' BT dan memiliki areal Kawasan Hutan cukup luas yang di kelola oleh PERHUTANI Wonosobo (772 m.dpl) dan Temanggung. Jika berada di puncaknya, kita dapat melihat pemandangan disekitarnya, bagian lereng gunung ditanami hamparan kebun teh yang mengelilinginya, menjadikan lereng sindoro terlihat hijau sepanjang tahun dan biasa disebut green belt.Di bagian timur dari puncak datar seluas 400 x 300 m terdapat kawah kembar besar berukuran 210 x 150 m, sedangkan dataran Segero Wedi, Banjaran, di bagian barat dan utara, adalah sisa dari kawah utama dan sekunder. Kerucut dan kawah parasit ditemukan di lereng barat daya dan timur laut dan di kaki tenggara. Beberapa ratus bukit di kaki timur laut menurut Taverne dan van Bemmelen merupakan sisa erosi dari suatu longsoran tanah sebelum tanah sebelum sejarah atau dari lahar.
Berikut ini merupakan peta jalur pendakian gunung Sindoro :
Sumber foto : Dokumentasi pribadi
KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana