Memimpikan Jakarta Seperti Frankfurt

09 Maret 2012 17:20:04 Dibaca :
Memimpikan Jakarta Seperti Frankfurt

Musim semi 2004, akhirnya menjejakkan kaki di Frankfurt, sudah lama memang masa itu lewat, hampir satu dasawarsa. Namun kesannya tak pernah hilang. Ingatan akan kota itu masih tak terlupa. Saya yakin, rentang waktu hampir sepuluh tahun itu tak akan mengubah kota Frankfurt berubah drastis. Frankfurt 10 tahun yang lalu tentu tak jauh berbeda dengan Frankfurt masa kini. Kalau tak percaya tanya saja si Trinity, si "The Naked Traveller". Kalau saya sekarang berada di Frankfurt, saya akan tetap menemukan rumah Goethe (Goethe Haus), gedung opera, hingga Romerplatz yang terkenal itu. Itulah ciri-ciri negara maju dengan kota-kotanya yang sudah tertata rapi sejak lama. Bandingkan dengan negeri ini, Indonesia. Sebagai negara berkembang, pertumbuhan antara satu kota dengan kota yang lainnya tentu lebih terlihat. Rentang waktu 10 tahun saja bisa buat kita pangling ketika kita kembali lagi ke kota yang bersangkutan sepuluh tahun kemudian. Kota Medan misalnya, saya sudah enam tahun tak pulang ke kota kelahiran saya itu. Rentang waktu yang belum genap satu windu itu membuat saya ternganga dengan perkembangan ibukota Sumatera Utara tersebut. Pertumbuhan mal atau pusat perbelanjaan baru cukup signifikan. Di Indonesia, tanpa mal atau pusat perbelanjaan suatu kota tak dianggap maju dibanding kota-kota lain yang pertumbuhan malnya bagai jamur. Kota Frankfurt sejauh yang saya ingat sungguh menyenangkan. Menelusuri kota terbesar kelima di Jerman itu tak membuat jenuh. Berjalan kaki menjelajahi tiap sudut kota tak membuat kaki lelah. Semua jalan yang dilewati selalu memanjakan setiap pejalan kaki dan pesepeda. Trotoar jalan sungguh nyaman dilalui. Tak ada pedagang kaki lima yang menyerobot badan trotoar, tak ada sepeda motor yang seenaknya naik di atas trotoar, bahkan mobil pun tak ada yang nekad parkir di atas trotoar. Semuanya serba teratur dan disiplin. Sampah pun tak terlihat di sepanjang jalan. Andai ada kota di Indonesia yang senyaman dan seasri kota Frankfurt tentu hadiah adipura akan selalu dimenangkan setiap tahunnya.  Saya suka heran juga, ada kota yang mendapat penghargaan Adipura namun di beberapa sudut kotanya masih ditemukan sampah yang dibuang sembarangan. Sungguh aneh, kenapa kota demikian bisa menang. Dari Romerplatz saya bisa berjalan kaki hingga sungai Main, yang membelah kota Frankfurt. Saya bisa melihat sungai besar tersebut tanpa sampah secuil pun. Airnya pun bening dan dingin membuat saya ingin nyebur ke dalamnya. Tak jauh dari tempat saya berdiri menatap sungai Main, ada sebuah kapal yang sedang bersandar, sepertinya untuk turis maupun warga setempat yang ingin keliling Kota Frankfurt melalui sungai Main tersebut. Saya jadi ingat dengan aliran Sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta di daerah Harmoni. Konon katanya, aliran sungai itu di zaman penjajahan Belanda dijadikan sebagai salah satu jalur transportasi. Tapi sekarang, sungai itu tak lebih dari comberan penghias Jakarta. Berbeda dengan Frankfurt, keteraturan dan penataan kota yang baik dan benar-benar dirancang membuat Kota Frankfurt  menjadi tempat yang nyaman dikunjungi. Naif ya kalau saya bandingkan antara Jakarta dan Frankfurt, tapi kalau Jakarta dibangun dengan konsep yang benar seperti zaman Belanda dulu pasti tak semrawut seperti sekarang. Kalau tak percaya, lihatlah daerah-daerah peninggalan Belanda di Jakarta seperti Kota Tua, bangunan dan jalanan bersinergi hingga asyik buat dikunjungi. Andai Jakarta tetap ditata seperti masa kolonial dulu, tentu Jakarta tak semarawut seperti sekarang, sayang memang. Sumber gambar: https://www.zagbot.com

Abdi Husairi Nasution

/abdinst

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Sisiku yang lain bisa diobok-obok di www.yandakasyfi.blogspot.com dan http://yandanesia.blogspot.com/
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?