Menganalisa Penelitian CSIS, Siapa di Balik Mafia Indonesia?

19 Juni 2012 17:17:14 Dibaca :
Menganalisa Penelitian CSIS, Siapa di Balik Mafia Indonesia?

Tertarik dengan pernyataan salah satu pengamat politik dan peneliti senior dari Central for Strategic and Internatioanl Studies (CSIS), J Kristiadi dalam sebuah panel diskusi di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Rabu (6/6/2012) lalu, menarik untuk kita kaji lebih dalam.

Dalam acara yang tersebut pengamat politik yang sering memberikan pernyataan kontroversial -tapi memang sangat mendalam- itu menyampaikan kembali pernyataan kontroversialnya tentang kondisi negara Indonesia yang kini menjurus menjadi negeri Mafia.

Tidak kali ini saja Kristiadi menyampaikan pernyataan menggelegarnya, dalam bidang apapun ia mampu melihat dari kacamata dan sudut pandang hasil kajiannya. Sebut saja ketika Kristiadi menyampaikan analisisnya tentang  pentingnya TNI berperan kembali dalam lembaga Legislatif (DPR) melalui organisasi politik karena anggota TNI juga merupakan warga negara Indonesia (WNI) dan memiliki hak yang sama dengan warga lainnya dalam bidang  politik.

Kali ini Kris tak segan-segan menyampaikan argumennya bahwa Negara Republik Indonesia telah menjelma menjadi sebuah negara Mafia.

Apakah benar yang disampaikan oleh pengamat dan peneliti kondang tersebut? Mari kita telusuri apa sebetulnya dibalik pernyataan Kris yang selama lebih dari tiga dasawarsa telah malang melintang dalam dunia politik. Apakah pernyataan tersebut sumit, tendensius ataukah memang pantas dan wajar dialamatkan untuk negeri tercinta ini?

Istilah "Mafia"  sebetulnya sudah ada pada abad pertengahan untuk memberi penghargaan pada organisasi di Sisilia,Italia. Organisasi itu berubah menjadi sebuah kelompok yang mengelola kejahatan terorganisir. Orang-orang yang melakukan kejahtan itu disebut dengan  "Mafioso" yang berarti "Yang Mulia."

Setelah itu,  istilah tersebut mulai dipergunakan untuk organisasi kejahatan  pada tahun 1931 oleh orang Amerika Serikat keturunan Italia, Salvatore Maranzano  yang berhasil meraih sukses dalam dunia penuh kekerasan di negeri Paman Sam. Setelah berhasil menaklukkan salah satu musuh besarnya, Salvatore menyebut dirinya sebagai "Bos dari segala Bos." Lamban laun akhirnya istilah itu melebar pada berbagai dimensi bisnis kejahatan terorganisir. Pelakunya disebut  "Mafioso."

Mengacu pada pengertian di atas, kini sangat banyak ditemukan kelompok kejahatan terorganisir, baik tingkat nasional maupun internasional. Untuk tingkat Internasional sebut saja beberapa kelompok kejahatan yang mudah dan sering kita dengarkan misalnya: Triad dari China; Albanian Mafia; Serbian Mafia; Japanese Yakuza; Columbian Drug Cartels; Cosa Nostra dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jadi mengapa Indonesia disebut sebagai negara Mafia? Padahal Kristiadi menyampaikan pandangannya setelah membaca sebuah buku karangan Benny K Harman, salah satu politikus  tak kalah kondang dari Partai Demokrat. Dari buku itu Kristiadi melihat dan menilai bahwa  ditemukan sejumlah pengakuan Benny tentang bagaimana cara orang DPR menciptakan peluang-peluang hingga menjadi uang.

Tak disangkal lagi, apapun ditempuh oleh anggota DPR secara terorganisir dengan berdalih ini dan itu, issue ini dan itu serta inspirasi-inspirasi kreatif penuh imajinasi tentang bagaimana menghasilkan uang dan uang bahkan dengan cara-cara yang vulgar sekalipun sehingga tak perlu lagi punya rasa malu apalagi rasa sungkan.

Tak ada yang dirahasiakan, tak perlu basa-basi, ada proyek berubah Rancanagan UU pasti ada ujung-ujungnya berakhir dengan kecipratan uang.

Siapakah Mafioso negeri kita?

Tapi apakah tolok ukurnya hanya sebatas anggota DPR yang semakin hari memang terlihat wujud semakin tidak menentu? Apakah hanya orang DPR yang menjadi simbol mafia yang disampaikan oleh Kristiadi? Sayangnya Kris tidak memberikan atau membeberkan beberapa paradigma atau parameter lainnya sehingga dapat menjeneralisasikan negara Inondesia sama dengan negeri Mafia.

Kristiadi mungkin lupa atau sengaja tidak mengaitkan pada parameter lainnya, tapi sebetulnya memang ada sejumlah fenomena bernuansa Mafia lainnya yang bergelayut di atas bumi negeri ini. Sebut saja para begundal yang terlibat dalamMafia Sepakbola, Mafia Ujian, Mafia Pajak, Mafia Hukum, Mafia Anggaran, Mafia Tiket Penerbangan dan sebagainya memang ditemukan istilah "Mafia" pada hampir setiap sendi kehidupan.

Lihatlah  fenomena mafia pada segmen lainnya. Kerjasama Kartel dalam berbagai bidang dan sendi ekonomi kita. Mereka juga telah menguasai perekonomian dan membuat kebijakan khusus dalam jaringan yang amat rapi dan bergerak secara legal.

Lihat juga jaringan lainnya mulai dari pengadaan onderdil kendaraan bermotor sampai pada urusan Handphone dan kebutuhan pokok pun telah ada jaringan kartel yang memayungi dan mengambil kontrol  kebijakan ekonomi negeri ini ketimbang pemerintah  yang berkompeten itu sendiri.

Jadi siapakah yang dimaksud oleh Kristiadi sebagai Mafioso? Apakah rakyat Indonesia seluruhnya ataukah segelintir orang yang terorganisir yang mengikis pemberdayaan masyarakat dan pemerintah yang sehat dan dinamis sehingga  menjadi seperti kerbau yang ditusuk hidungnya dan terpaksa harus mengikuti perintah dan bekerja untuk kepentingan "bos" nya.

Di sisi lain, sebagian bangsa Indonesia lainnya meskipun miskin dan melarat tetap bangga dan punya nurani yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun untuk mendiskreditkan bangsanya sendiri apalagi membayarnya dengan sejumlah harga sehingga tega mengorbankan jatidirinya sebagai bangsa Indonesia.

Sebagian orang lain boleh mengatakan ini dan itu serta pandangan bertendesni minor tentang betapa nistanya bangsa ini. Betapa hancurnya negeri ini akibat perbuatan para biadab. Belum lagi kerap kita temukan sejumlah tulisan berisi tentang sumpah serapah yang membuat telinga dan mata  seperti tertusuk sangat sakit.

Diakui pasti diantara saudara kita yang miskin dan melarat sekalipun masih  ada yang mampu bertahan dari sendi-sendi dan pecahan dinding dan fondasi yang mulai retak-retak. Karena mereka yakin bahwa untuk menjadi bangsa yang besar memang haruslah menjalani masa dan siklus penuh dengan duri termasuk penistaan, hinaan dan cacian oleh dan dari sesama bangsanya sendiri. Bahkan kadang harus merelakan harga dirinya terinjak dan tercabik oleh arogansi kekuatan lain yang menginginkan negeri ini tinggal sejarah dana nama saja, karena ia tak mampu berbuat apa-apa.

Mari kita berkaca dari pernyataan Kristiadi. Akankah negeri ini akan terbawa dan tenggelam menjadi negeri Mafioso ataukah itu sekadar pernyataan perumpamaan atas kegetirannya melihat sekelompok para politikus yang tersengat penyakit Skizofrenia, yaitu semacam penyakit jiwa yang menghinggapi siapapun yang sulit disembuhkan karena tenggelam dalam keasikannya sendiri yaitu senang dengan kesalahannya dan terlalu khawatir atau phobia dengan orang lain.

Gejala yang mudah terlihat dari penderita Skizofrenia antara lain adalah  menduga semua orang menjadi musuh, tak ada yang diyakininya selain berdebat dan berdebat hingga dengan cara mengelabui pun terasa asik dan  menyenangkan. Ironisnya perasaan tersebut diterima oleh nuraninya yang mengatakan perbuatannya itu sangat benar.

Jika benar apa yang disampaikan oleh Kristiandi, sebenarnya siapakah yang mebuat negeri ini menjadi negeri Mafia? Padahal sesungguhnya masih ada dan masih banyak yang tak mampu harga dirinya dibeli.

Sebut saja salah  satu contohnya adalah  warga kita yang berada nun jauh "di sana" di pedalaman Kalbar,  disebuah desa bernama Temajok yang berbatasan dengan desa  Malaysia (Teluk Malino). Mereka tak "silau" matanya dengan kilauan "rumput" tetangga meskipun setiap hari masih hidup terbatas dan sangat melarat, tapi rasa kebangsaannya dan kebanggaannya pada negaranya sendiri patut dicontoh dan ditiru.

Pantaskah kita  percaya pada mereka, ataukah lebih percaya dan menggantungkan segudang mimpi pada Mafioso yang dimaksudkan oleh Kristiadi..?

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Abanggeutanyo

/abanggeutanyo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?