Gayus Khawatir Koruptor "Pendatang Baru," Lapas Sudah Penuh Sesak

08 Februari 2012 17:10:07 Dibaca :
Gayus Khawatir Koruptor "Pendatang Baru," Lapas Sudah Penuh Sesak

Ini adalah kisah fiktif. Awal terbitnya inspirasi dalam tulisan ini  akibat  teringat pada Gayus yang telah mendekam di bui dan sedang menjalani masa hukumannya. Dari situlah lalu dikaitkan dengan kisah-kisah "seru" dan menegangkan tentang sepak terjang Gayus dalam korupsi dan mafia perpajakan  sampai dengan  bagaiamana cara ia berkolaborasi. Kisah tak kalah seru lainnya adalah tatkala ia melarikan diri dan kemudian tertangkap hingga akhirnya  ia menjalani proses hukum dan sekarang mendekam di hotel "prodeo"  selama Tujuh tahun penjara

Dahulu -ketika orang banyak bersumpah serapah terhadap Gayus -  ia adalah sosok yang tiada henti menghiasi blantika pemberitaan mafia korupsi dan pajak  di Indonesia. Seolah-olah dialah manusia yang paling bejat tiada berperi karena telah memasung kekuatan dan spremasi hukum ke dalam lingkaran setan yang sulit untuk dimasuki dari celah manapun.

Setalah Gayus mendekam di penjara, lambat tapi pasti persoalan Gayus pun mulai sirna pelan-pelan. Ibarat panas setahun  mulai terhapus oleh musim hujan yang akan segera tiba. Sosok dan pemberitaan Gayus pun mereda.

Gayus sendiri dari balik teralis besi mengikuti perkembangan mafia hukum dan korupsi di dalam negeri dengan baik. Bahkan ia menduga tempat tinggalnya saat ini Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas (LP)  Cipinang bakal kedatangan tamu lainnya. Para tamu itu tak lain adalah "penonton" yang selama proses peradilan terhadap Gayus berjalan adalah orang-orang  yang ikut menggeleng-gelengkan leher mereka tak percaya "reputasi" PNS terkaya di dunia ini beraksi dalam kasus melawan hukum.

Masih dalam terawangannya, Gayus menduga apa jadinya jika  beberapa tamu itu adalah Nazaruddin, Miranda dan Nunun  akan  mendekam di penjara dalam blok yang sama? Bahkan apa jadinya jika Anas terbukti bersalah, menjadi TSK dan  juga akan menjalani juga masa tahanannya di tempat yang sama suatu saat nanti (Jika Terbukti dan menjadi Tersangka).

Masalahnya -menurut Gayus- Lapas mana lagi yang pantas untuk ukuran koruptor kelas kakap  dan penyuap seperti mereka? Ke Lapas Salemba, akan sangat berdesakan di sana. Selain rawan akibat jumlah sipir hanya 23 orang (bertugas Shift) jumlah penhuninya juga sudah padat. Jumlah narapidana di Lapas Salemba mencapai 1023 napi, jauh dari kapasitas semestinya, yakni 825 napi. (sumber :Di sini)

Ke Lapas Nusakambangan, rasanya tak mungkin karena kesannya sangat angker dan tidak mengalahkan rekor Tomi Mandala Putra.

Ke Lapas Suka Miskin Bandung  juga sudah tidak mungkin, karena selain sudah overload (553 orang) dari seharusnya 530 penghuni (sumber : Di sini) Lapas Suka Miskin juga tidak terima tamu lagi dari DKI dan sekitarnya.

Lapas Karawang sudah tidak mungkin. Masalahnya, Lapas Karawang idealnya hanya untuk menampung 831 orang ternyata telah dihuni oleh 962 napi dari berbagai  bidang pelanggaran hukum (per Agustus 2011.Sumber : Di sini ).

Ke Lapas Pemuda, Tangerang sangat riskan, karena Lapas ini terkenal tingkat keributannya akibat jumlah sipir yang tidak memadai.  Menurut Hadi, penjagaan di Lapas Pemuda terkadang tidak optimal karena jumlah napi yang mencapai 1.985 orang, sementara petugas sipir hanya 103 orang. "Ini yang terkadang merepotkan kami. Karena setiap shift pertugas yang jaga berkisar 21 - 25 orang," ucapnya.  (sumber :Di sini).

Lapas Rajabasa Lampung dan seluruh rutan di Bandar Lampung juga sudah kelebihan penghuni alias overload, bayangkan saja kapasitasnya  seluruh Lapas dan Rutan se Bandar Lampung  hanya untuk  3137 orang, kini telah dijejali sejumlah 4373 orang narapidana dan tahanan atau kelebihan hingg 33%.  (sumber  : http://buanasumsel.com/lapas-dan-rutan-lampung-alami-over-kapasitas/). Konidis ini  -menurut kacamata Gayus- tentu tak akan manusiawi  untuk ditempati oleh napi sekelas Nazaruddin dan Anas (jika divonis dan dipenjarakan).

Lapas dan rutan di Jawa Timur, jangan tanya lagi. Jatim menduduki raking-1 overload se Indonesia. Kabarnya kini dari 36 Lapas dan Rutan se  Jawa Timur overload sampai 35% menjadi 14.600 tahanan dan Napi. (sumber :http://donzpaz.blogspot.com/2011/12/overload-penghuni-lapas-di-jatim.html).

Semua Lapas di tanah air -kabarnya- telah penuh oleh tahanan. Direktur Jenderal Pemasyarakatan (PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Untung Sugiyono, menyatakan bahwa jumlah penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia mencapai 135 ribu orang, sementara daya tampungnya hanya 99 ribu orang. (sumber : Di sini). Jika "kekhawatiran" Gayus ini terjadi akan kemanakah Nazaruddin dan para tersangka koruptor lainnya termasuk Anas jika benar-benar menjadi koruptor?

Mengingat ruang tahanan yang ada sudah "full booking" seluruh Rutan dan Lapas di tanah air, ada kemungkinan para TSK Koruptor dan penyuap yang telah menjalani proses sidang dan memperoleh keputusan masa hukumannya tidak akan jauh-jauh dari Jakarta. Selain itu, sudah tak mungkin lagi membuat Rutan istimewa untuk para Koruptor di tanah air sekarang ini bukan? Rasa-raanya ke tahanan bawah tanah pun sudah akan "tercium" cepat atau lambat, bukan?

Ini artinya ada kemungkinan bertemu dengan 'mereka' di Lapas yang sama, yaitu Lapas Cipinang akan sangat terbuka lebar. Lalu, apa jadinya jika Gayus bertemu dengan mereka-mereka new comer yang telah menghiasi blantika berita korupsi tanah air 2011 dan 2012? Apakah mereka  nanti sempat teguran seperti pertemuan tanpa sengaja Abraham Samad dan Anas di salah satu Perguruan Tinggi di Surabaya minggu lalu?

Pantas Gayus merasa kuatir, bukan karena privasi Gayus terganggu, akan tetapi rasanya tak enak betul ssatu blok atau satu sel berhadap-hadapan dengan para tetangga yang pernah bersuara lantang padanya beberapa waktu lalu... Mungkin saja  Gayus hanya bisa senyum mesem-mesem, ia pun bernyanyi lagu favoritenya dari Bimbo, dalam hatinya :  "Ke Singapore engkau turut, ke bui pun engkau ikut...."  he he..he..he..

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Abanggeutanyo

/abanggeutanyo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?