Surat untuk Presiden-ku (presiden Republik Indonesia 2011)

29 Januari 2011 11:37:43 Dibaca :
Surat untuk Presiden-ku (presiden Republik Indonesia 2011)

Jakarta (Ibu Kota negara Indonesia dengan Bapak Negara yang saya prihatinkan), Januari (awal tahun pembangunan dan pemerintahan yang lebih baik lagi, saya harapkan) 2011 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Yang Terhormat, Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, (atau boleh saya sok dekat dengan "Dear, Pak Presiden...") Selamat makan enak, Selamat jalan-jalan, Selamat tidur nyaman, Selamat menerima uang, Selamat tinggal, maksud saya Selamat Pagi... (sudah bangun, Pak? Mau ke sawah atau ke LN?) dan... Salam (semoga) Sejahtera untuk kita semua, Mohon maaf sebelumnya apabila saya lancang membuat surat dunia maya atau surat elektrik ini yang mungkin dirasa kurang sopan dibandingkan dengan para pejabat pemerintah yang ber-jas dan ber-dasi (tapi ternyata tidak ber-ikan kami kesejahteraan yang baik dan benar sesuai sumpahnya), makan enak di luar sana (sementara kami, makan? makan juga tidak ternyata), yang sangat 'taat' dengan peraturan pemerintahan (ternyata peraturan itu ada untuk dilanggar adalah sedikit benar kenyataannya), UUD 1945, dan PANCASILA DASAR NEGARA. Saya tahu bagaimana sulitnya menghubungi Bapak, apalagi jika bisa berbicara 4 mata dengan Bapak. Sungguh mimpi rasanya. Bisa-bisa ribuan mata tertuju pada saya. Sementara saya juga tidak tahu nomor Bapak untuk melayani masyarakat, yang aktif yang mana.. Mohon maaf Bapak Presiden, Perkenalkan, saya hanyalah seorang mahasiswi (yang biasa dengan orang-orang yang luar biasa dalam kehidupannya) berusia 20 tahun (sangat jauh jaraknya dibandingkan usia kedewasaan Anda) dan masih terus berproses melanjutkan kehidupan saya di negeri ini, Indonesia Tanah Air-ku tapi tidak tumpah darah-ku. Saya tinggal di kawasan Menteng (sangat) dekat dengan kediaman WaPres, beberapa KEDUBES, kediaman, rumah dinas, dan kantor pemerintahan. Mendengar kata "MENTENG" orang-orang sudah tahu ini adalah kawasan elit, mahal, berkualitas,berbobot, patut dihargai (mungkin hingga menundukkan kepala saat melintas / memberi hormat dengan kaki di kepala). Apalagi dengan mendengar sebutan ,"Obama Anak Menteng". Ya. Tidak sembarang orang dapat tinggal di sini. Apalagi saya sekeluarga sudah tinggal di sini sejak dulu semenjak Alm. Eyang saya masih hidup. Alm. Eyang saya adalah salah satu pejuang-tentara dulu-nya. Yang mungkin sudah terlupakan. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas karunia, rahmat, dan nikmat yang Allah SWT berikan untuk saya sekeluarga sampai detik ini. (Bagaimana dengan Anda, Pak Presiden?) Punya rumah di Menteng menurut saya ada bahagianya ada juga beberapa duka yang perlu menjadi bahan renungan. Maklum, bukan karena saya kok, saya dapat tinggal di sini. Karena Alm. Eyang saya yang benar-benar cinta tanah air-nya bukan sekadar wacana. Tidak seperti makna "NASIONALISME" yang merajalela saat ini. Sungguh mistik rasanya. Karena bisa didengar, tapi tak bisa dilihat wujud nyata-nya. Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu. Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini. Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, seperti yang dinyatakan di bawah. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional sosialisme, pengasingan dan sebagainya. Nasionalisme yang dibumbui dengan pedoman, "Kenapa harus dipermudah, jika dapat dipersulit?". Begitu ungkap para koruptor. "KORUPSI???" tanya anak-anak kepada ayahnya yang berangkat ke kantor. Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut:

  • perbuatan melawan hukum;
  • penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
  • memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
  • merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di antaranya:

  • memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
  • penggelapan dalam jabatan;
  • pemerasan dalam jabatan;
  • ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
  • menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas|kejahatan. Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain. Keluarga saya tidak terlalu 'wah' dalam kehidupan sosial. Bahkan kalau bisa dibilang perlu perjuangan keras untuk menutupi living cost. Tidak murah hidup di sini. Kalau kita tidak berjuang keras dan tidak menghasilkan sesuatu yang berguna dan dapat dibanggakan orang banyak, ya kita tidak dapat dihargai. Mungkin begitu kalimat yang pantas diterapkan pada keluarga saya. Untuk hal-hal yang bahagia karena tinggal di sini, tentunya Bapak sudah paham. Nah, untuk hal-hal duka yang pantas untuk direnungkan, apa Bapak sudah paham? "Ternyata di kawasan elit ini masih banyak anak jalanan, pengemis, tunawisma, gembel (maaf) yang terlantar, Pak!... Bahkan sering lewat melintas di lampu merah dan semua polisi lalu lintas memberhentikan kendaraan-kendaraan, orang-orang,  saat Bapak melintas dengan 'wah'-nya. Tapi, sayangnya Bapak tidak sedikit-pun menoleh ke luar" ..... Dengan usia yang masih dirasa tidak cukup matang untuk menduduki kursi pemerintahan, tentunya saya hanya bisa menonton lakon/sinetron, "Indonesia 'Ternyata' Negeriku" atau "Indonesia dengan Berbagai Fenomenanya" atau barangkali "Curhatan Presiden-ku" (yang memiliki backsound dari lagu "Dengarkan  Curhatku.. Dengarkan Curhatku..."- V*err*) Baiklah kalau begitu, saya juga ingin curhat pada Bapak, Dengan adanya fasilitas internet, maka izinkanlah saya dalam kesempatan kali ini mewakili: 1. Teman-teman saya yang masih mengadu nasib di jalan (beberapa anak-anak jalanan dari KOMUNITAS TAMAN SENI INDONESIA yang terletak di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat ~ Wah, ternyata di kawasan elit sekalipun masih ada lho Pak anak-anak jalanannya, anak-anak Bapak juga, bukan?) , 2. Orang-orang 'tidak mampu' (jauh dari pengertian 'SEJAHTERA') di luar kehidupan Bapak.  Seperti anak jalanan yang terpaksa menghadapi kerasnya hidup di jalanan, GEPENG yang mengemis bukan karena inginnya dan tak tahu harus memohon-berlindung kemana dan pada siapa, tuna wisma yang makan ikan tuna hanya berapa bulan sekali, serta para kaum-kaumnya yang lain. Gepeng , anak jalanan, pemerintah, dan UUD 1945 Pasal 34 ayat 1 saling berhubungan, lihat UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang  berbunyi Fakir Miskin dan anak - anak yang terlantar dipelihara oleh negara. UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 tersebut mempunyai makna bahwa gepeng dan anak - anak jalanandipelihara atau diberdayakan oleh negara yang dilaksanakan oleh pemerintah. Fakir ialah orang yang tidak berdaya karena ridak mempunyai pekerjaan apalagi penghasilan, dan juga mereka tidak mempunyai sanak saudara di bumi ini. Miskin ialah orang yang sudah memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi pengeluaran kebutuhan mereka, tapi mereka masih mempunyai keluarga yang sekiranya masih mampu membantu mereka yang miskin. Jadi Fakir miskin dapat dikatakan orang yang harus kita bantu kehidupannya dan pemerintahlah yang seharusnya lebih peka akan keberadaan mereka. Hal ini seharusnya menjadi tamparan bagi pemerintah (tentunya yang tahu malu, bukan tahu uang melulu) yang mengampanyekan menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, dan tidak sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yaitu Fakir Miskin dan anak - anak terlantar dipelihara oleh negara. 3. Teman-teman kuliah saya, walau tidak hanya dari satu kampus (teman-teman seperjuangan yang masih bingung kenapa cucuran keringatnya ternyata belum cukup untuk membiayai kuliah-bayar SKS-BPP Pokok-Fotocopy materi-menyogok Dosen yang barangkali 'nakalan' dengan nilai mahasiswa/i-nya-makan di WarTeg-dan tentunya masih banyak lagi kebutuhan kami). Teman-teman yang susah payah berdemo menyuarakan aspirasi-nya sesuai hak-nya, tapi tak ada penyelesaian dan tindak pertanggung-jawaban dari Bapak maupun kalangan pemerintahan. 4. s/d tak terhingga saya sulit untuk menjabarkannya. ...... Bapak Presiden = Bapak kami semua = Bapaknya Negeri ini... Saya berharap Bapak dapat mengerti bukan hanya sekadar tahu, bukan hanya sekadar melihat hanya dengan mata, mendengar hanya dengan telinga, dan berbicara tidak mengenal perasaan. Lihatlah teman-teman saya di jalanan. Selama Bapak duduk di kursi KEPRESIDENAN, Apakah Bapak tahu bahwa mereka sudah makan atau belum? Apakah Bapak mengerti bagaimana caranya mereka mengais rezeki demi sesuap nasi dan air mineral yang bersih? Apakah Bapak pernah merasakan santapan malam ini: NASI AKING / NASI GARAM / NASI BEKAS MINGGU LALU? Apakah Bapak pernah mendengar suara, "Lapar.. Lapaar... Lapaaar...."? Apakah gaji mereka lebih cepat naik dibandingkan dengan gaji Anda? (eh, gaji? mereka tak punya gaji, Pak) Apakah jumlah makan Anda terlalu sedikit dibandingkan mereka? Apakah sulit sekali mensyukuri apa yang Bapak dapat sekarang ini? Saya harap Bapak adalah sosok pemimpin yang dapat mengayomi kami semua, termasuk kami para  mahasiswa/i sebagai anak didik bangsa yang syukur-syukur masih patut dibanggakan dengan "Generasi Penerus Bangsa" guna mencapai salah satu tujuan bangsa Indonesia yang sangat mulia yang tertuang dan pembukaan UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa”.  Itu pun kalau masih ada bangsa ini di beberapa tahun yang akan datang. Sebelum kiamat tiba tentunya. Saya harap Bapak dapat berhenti mengeluh, karena mengeluh bukan sebagai acuan penyelesaian masalah. Pantaskah Anda mengeluh di antara ribuan tangis rakyat Anda? Yang nasibnya di bawah Anda? Bapak, gaji Bapak masuk ke dalam 7 kategori gaji presiden tertinggi di dunia lho!!! DUNIA!!! Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Harap maklum kekurangan atau kesalahan dari rakyat yang awam seperti saya ini. Terima kasih atas perhatian Bapak yang mungkin telah membaca surat ini. Terima kasih atas ketidakperhatian Bapak yang mungkin telah membaca surat ini dan mengabaikannya. Terima kasih apabila ada tindak lanjut yang positif dan membangun setelah ini. Terima kasih telah mampu mencoba menjadi Bapak kami, Bapak Presiden Republik Indonesia. Wasalammualaikum Warrahmattullahi Wabarrakatu, Salam hormat dan hangat dari anak bangsa-mu, - Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum - Fakultas Ilmu Komunikasi Desain Komunikasi Visual http://aapp17.wordpress.com/2011/01/29/surat-untuk-presiden-ku/ http://regional.kompasiana.com/2011/01/29/surat-untuk-presiden-ku-presiden-republik-indonesia-2011/ http://anggitaaninditya.blogspot.com/2011/02/surat-untuk-presiden-ku-presiden.html =====================================================

like this.

  • Mohamad Riadi miris memang melihat negeri ini,tapi gw percaya selama msh ada anak muda kya lu (yg mau peduli sm orng lain). pasti nih bangsa msh pnya harepan. tetep semangat kawan #idealis. 'jangan tnya apa yg negeri ini berikan padamu,tapi apa yg sdh kamu beri pada negeri ini',.. salam perubahan NB: semoga surat lu nyampe presiden yk.amien Saturday at 6:59pm ·
  • Like
  • Unlike
  • Anggi Hayani HaraHap gitt,,sepertinya dirimu sdh bsa mnjd pngamat negeri ini.. :DDshrusnya bnyk anggita-anggita lain yg bsa menyuarakan suaranya dgn sopan santun pnuh harga diri tp "MENGENA" sperti kamu,, krna kbnyakan org yg bergelimang harta perlu "DITAMPAR" ...terlebih dahulu untuk melihat realitas dunia ini..bukan "DUNIA"nya sendiri yg bisa dijalankan seenak udelnya sendiri seolah yg lain ngontrak.. kita hidup di INDONESIA kita ini harus peduli dgn sesama bkn hidupdgn cara "ELO YA ELO..GUE YA GUE".. Bkn kah semboyan kita "Bhineka Tunggal Ika"? Spertiny tnpa disadari smua hilang dr hati kbanyakan org..yg maunya mementingkan & memenangkan ego mereka sndiri..See More Saturday at 7:23pm ·
  • Like

Ramadhan Pramono Well, from kanguroo island I was read your artical on kompasia. It was sooo good, amazing and fantastic. I proud of you!!! :) about an hour ago · LikeUnlike · Comment

Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum

/aapp

Seorang gadis yang bernama:
- "Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum" atau "AAPP"
- Menyukai hal-hal yang berkaitan dengan seni, budaya, IPTEK, sosial, komunikasi, anak-anak, dan semacamnya.
- Mahasiswi sekaligus Public Relation.
- Ada yang bisa menambahkan tentang saya lagi?
*****
http://aapp17.wordpress.com

Selengkapnya...