Mohon tunggu...
Em Amir Nihat
Em Amir Nihat Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis Kecil-kecilan

Kunjungi saya di www.nihatera.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kurban: Simbolis Belaka atau Menginti?

2 September 2017   08:11 Diperbarui: 2 September 2017   09:56 1056
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Hari Raya Idul Adha atau yang sering disebut Hari Raya Kurban merupakan salah satu hari besar Islam yang disana mengandung makna untuk berkurban secara penyerahan diri total yakni sampai nyawa sebagai taruhan.Jika itu perintah dari Tuhan,maka konsekuensinya adalah mengerjakan dengan penuh pengorbanan.Makna kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri kepada Tuhan.

Jika dihubungkan dengan prosesi cinta maka Tuhan adalah tujuan satu-satunya cinta itu sehingga dalam kehidupan yang kita lakukan apapun kegiatannya harus bermakna kurban atau harus mengandung makna mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam hadits juga disebutkan bahwa yang sampai kepada Tuhan itu bukan hewan kurbannya melainkan ketakwaan dan ketaatan dalam mengerjakan kurban tersebut.

Disini nyata benar bahwa inti lebih penting daripada perbuatan itu.Niat yang tulus dan ikhlas semata-mata mencari Keridhoan Allah adalah hal nomer wahid yang seharusnya menjadi acuan paling dasar dan menginti.

Dan hal tersebut dibuktikan langsung oleh Nabi Ibrahim As kepada anaknya yakni Nabi Ismail As.Kisah kepatuhan dan kemantapan hati dari Nabi Ismail As sangat-sangat luar biasa.Ketika ditanyakan perihal mimpi untuk berkurban menyembelih dirinya,beliau ( Nabi Ismail AS) dengan sangat tenang menjawab bahwa lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah,insyaAllah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.

Disini terlihat sekali keterikatan antara pengorbanan dan kesabaran,dua-duanya memang diperlukan untuk sebuah wujud kebaktian.Pengorbanan untuk menjalankan perintah Tuhan tanpa ngeyel atau menunda-nunda dan bersabar atas konsekuensi apapun.Penulis belum tahu benar apakah Nabi Ismail belum tahu bahwa nanti dirinya akan digantikan domba sebagai pengganti kurban atau mungkin sudah tahu.Ini masih samar-samar tetapi jika ditelisik memang itu wujud keberanian total akan cinta kepada Tuhan.

Jikadiucapkan lewat kata-kata akan menjadi ucapan : Aku serahkan hidupku untukmu ya Allah.Dan inilah yang memang seharusnya dilakukan manusia dalam kehidupannya.Penyerahan diri total artinya dalam keadaan apapun juga,niatnya harus karena mencari keridhoan Tuhan. Jika sudah mengerti bahwa inti dari kurban sebenarnya adalah pembelajaran untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan maka bagaimana mungkin kita berbangga diri hanya berkurban sapi atau kambing.Bukankah hidup ini juga harus bermakna berkurban ?

Jika diruntut maka ini sinkron dengan ibadah zakat atau haji dimana yang mampu yang punya label untuk melakukannya.Lalubagaimana dengan yang miskin ? Penulis berpendapat bahwa ibadah kurban memang tujuan akhirnya adalah ketaatan dan ketakwaan tetapi efek duniawinya adalah supaya orang-orang miskin yang jarang atau tidak pernah makan daging menjadi makan daging.

Seharusnya hari raya kurban menjadi hari rayanya orang miskin.Tetapi realita di masyarakat ? Sangat miris dan tidak terpuji jika akhirnya daging kurban hanya dibagikan untuk orang-orang mampu saja.Bahkan ada masyarakat yang malah membedakan bagian antara si kaya dan si miskin,si priyayi dengan si rakyat jelata,si pamong dan si kuli bangunan

.Ada perbedaan pembagian daging kurban, yang seharusnya kita malu sebagai yang mengaku muslim.Orang yang terpandang diberi daging kurban yang baik artinya dipilih daging yang baik malahan kadang ada yang ditambaih,sedangkan yang miskin cukup diberi daging seadanya saja.Terus jika seperti ini,apakah sudah benar makna kurban ini bagi kita.Utamanya bagi siapa saja yang mau melakukan kurban.

Sudahkah ada pendataan pembagian untuk orang miskin,minimalnya harusnya orang-orang miskin yang diberi lebih.Bukan malah yang terpandang yang diberi lebih. Jika pembagian daging kurban dilakukan dengan jujur,saya meyakini bahwa seharusnya hari idul adha menjadi hari yang paling dirindukan para orang-orang miskin.

Minimalnya bisa mentutaskan ketimpangan sosial yang hari ini makin semakin mengerikan.Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.Inilah racun dari kapitalisme dunia.Duniahanya dikuasai oleh orang-orang kaya yang memanfaatkan orang-orang miskin untuk meng-kaya-kan mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun