HIGHLIGHT

Sebuah Cerita dari Hatiku

02 Mei 2013 20:04:53 Dibaca :

Pelukan terakhir ummi

Embun yang mengalir dari dedaunan yang hijau mengawali hari ku pagi ini. Aku pun bangkit dari tempat tidurku yang empuk dan berjalan menuju kearah cermin. Ku melihat diriku ku sendiri di cermin, aku perhatikan diriku semakin hari semakin kurus.

Tak berapa lama kemudian ummi memanggil ku dan aku tersentak sejenak.

“ syifa, “ panggil ummi

Ya itu nama ku syifa. Aku seorang gadis manis berumur 14 tahun yang mempunyai penyakit leukemia atau disebut kanker darah sejak 6 bulan terakhir ini aku terjangkit penyakit itu. Dan dokter menfonis bahwa aku tidak lama lagi untuk bisa hidup.

Iya ummi,” sahut ku

Ayo sayang makan dulu setelah itu minum obat sayang,”

Iya ummi sebentar,”

Aku pun keluar dari kamar menuju ruang makan dan kulihat ummi dan ayah sudah terlebih dahulu duduk di kursi makan itu. Aku duduk di samping ummi. Dan seperti biasa aku selalu memperhatikan wajah ummi yang selalu sedih ketika melihat diriku, aku tau mungkin ummi sedih melihatku karena aku semakin lama semakin tidak sehat dan mungkin sedih karena ucapan dokter yang memeriksa ku waktu itu.

“biar ummi ambilkan ya nak,” kata ummi dengan wajah yang sendu

Iya ummi terima kasih ummi,” kata ku

Iya sayang, ya sudah ayo di makan,” kata umi lembut

Iya umi,” aku tersenyum

Aku pun mulai memasukkan nasi sesuap demi sesuap ke dalam mulutku. Tapi tiba tiba tanpa ku sadari hidung ku…….

“ummi lihat hidung syifa berdarah lagi,” kata ayah cemas “ ya ampun syifa tunggu sebentar ya nak biar ummi bersihkan hidung syifa,” kata ummi sambil meneteskan air mata

Inilah yang selalu aku rasakan, aku tidak mampu menahan apa yang keluar berwarna merah dari hidung ku, aku tidak tau harus melakukan apa. Aku hanya bertahan dengan apa yang bisa aku pertahankan yaitu berdoa kepada yang kuasa.

“sudah ummi sudah tidak apa apa, ummi jangan menangis lagi ya syifa gak apa apa ummi,” sahut ku

Aku selalu membuat ummi dan ayah menjadi tidak cemas dengan keadaan ku ini agar mereka tenang dan tidak terlalu khawatir dengan keadaan ku. Aku merasa kasihan terhadap orang tua ku, dengan keadaan ku seperti ini ummi dan ayah selalu berkorban untuk membuat ku sembuh, pagi, siang, malam ummi dan ayah selalu merawat ku.

Aku terdiam ketika ummi membersihkan hidungku yang berdarah. Ku perhatikan wajah ummi sesekali meneteskan air yang jatuh dari mata indahnya. Aku tak mau berdiam terus ku husap air matanya dan kupeluk dia agar dirinya tenang.

“sudah ummi jangan menagis lagi, syifa gak sangup ummi, melihat ummi sedih terus,” kata ku sambil memeluk ummi

Iya sayang ya sudah lanjut makan nya biar minum obat,” sahut ummi sendu

Aku, ummi dan ayah melanjutkan sarapan pagi dengan lahapnya kami memakan masakan ummi yang begitu enak. Selesai makan ummi pun mengambilkan obatku dan ummi menuntunku untuk minum obat. Jujur saja aku paling takut sama obat, karena rasanya pahit di lidah.

Ku lihat kearah jam dan bertanya kepada ayah

“ ayah tidah berangkat ke kantor sudah jam 07.00 yah,” kata ku “ iya ini ayah mau berangat. Ya sudah ummi, syifa ayah berangkat ya, ayah sudah kesiangan,”

“ iya ayah hati hati ayah,” kata ku sambil menyalam tangan ayah

Ku antarkan ayah sampai ke depan pintu dan membantu ayah membawakan sebagian peralatannya. Tapi aku sedikit sedih, biasanya ayah selalu mengantarku ke sekolah tapi aku belum bisa bersekolah . Karena ummi khawatir aku belum sanggup dan kondisiku yang semakin hari semakin memburuk . ya bagaimana lagi aku tak mau buat ummi sedih, aku harus turuti apa kata kata ummi.

“ ya sudah ayah pergi ya sayang jaga ummi d rumah,” kata ayah

“iya ayah, hati – hati ayah di jalan”,kata ku

“iya sayang”, kata ayah

Ayah pun masuk ke mobil dan langsung berangkat ke kantor. “hati hati ayah,” kata ku menjerit sambil melambaikan tangan

Setelah itu aku masuk kerumah karena ummi sudah memanggil ku. Ku lihat ummi sendiri membereskan meja makan dan ku langsung bergeges menyusul membantu ummi. Sambil aku membantu ummi, ku sempat kan untuk bercerita cerita dengan ummi. “ummi syifa ingin seperti ayah menjadi arsitek yang sukses,” kata ku “ kamu ingin menjadi arsitek sayang ummi mendukung mu,” sahut ummi tersenyum

“benarkah ummi mendukungku ,” kata ku “ iya syifa tapi kamu harus janji kepada ummi harus cepat sembuh,” kata ummi sambil mencium keningku “ iya ummi syifa janji demi ayah dan ummi,” kata ku sambill memeluk ummi

Pukul 12.00 hari semakin siang ku duduk di teras rumah memandangi taman depan rumah. namun aku sedikit bosan dan ku masuk ke rumah. tapi aku merasakan keganjalan di tubuh ku, aku semakin sulit menggerakkan kaki ku untuk berjalan. Ku paksa perlahan-lahan walau aku sedang sakit aku tidak ingin memanjakan penyakit ini. Aku ingin sembuh tak ingin melihat ummi dan ayah putus asa suatu saat nanti.

“ aku harus bisa, aku kuat, aku tidak lemah,” kata ku

Tapi…

Aku pun terjatuh, ku menangis, ,menyesal, aku gak mau menyusahkan ayah dan ummi. Kenapa harus penyakit ini yang datang, kenapa ya allah aku gak sanggup karena aku, orang lain menjadi susah.

Diriku terdiam sejenak merenung, melamun dan tanpa ku sadar teman teman ku kiran, imel, nabila, andi dan edo datang dan sudah berdiri di depan rumah ku.

“assalamualaikum, syi……..

Salah seorang teman ku terkejut melihat diriku tergeletak duduk di lantai.

Ya ampun syifa kamu kenapa berdiam di situ, kamu gak apa apa kan, “sahut kiran

“tidak apa apa kok aku,” kata ku

“ teman teman ayo dong bantu jangan diam aja kasihan syifa,” kata nabila dengan marah

Teman teman ku membantu membimbing ku untuk berjalan ke arah ruang tamu. Lagi lagi aku menyusahkan orang lain. Bodohnya aku kenapa aku harus terjatuh tadi, seharusnya aku bisa bertahan. Ehmmm aku menyesal, menyesal.

“duduk syifa ,” kata imel

“ ibu mu mana fa,” sahut andi “ ibu di belakang lagi menyiapkan makan siang, sebentar ya biar ku panggilkan ibu,” kataku “ sudah sudah tidak usah syifa biar aku yang membantumu untuk memanggilkan ibu mu,”sambung nabila.

“sudah tidak apa apa aku kuat kok,” paksa ku

“ tapi syifa,” bantah nabila

“ benar lho gak apa apa, aku kuat aku bisa,” bantah ku lagi

Aku bangkit dari kursi. Ku paksakan kaki ku untuk bergerak. Perlahan lahan aku coba. Walau sakit yang penting aku tidak menyusahkan orang lain lagi. Bismillah, aku langkah kan pelan pelan. Lega aku rasakan, aku masih mampu berdiri.

“ syifa pelan pelan biar aku bantu ya,” sahut edo

“gak gak aku bisa. Aku gak mau ngerepoti kalian,” kata ku

“ beneran ni,”sambung edo

“ bener lho teman teman,” sahut ku senyum

Bismillah bantu aku ya allah, aku jalan perlahan lahan. Namun belum lagi aku memanggil ummi ku aku pun…………..

“syifa syifa ya ampun nak bangun nak, kamu harus kuat nak, syifa tahan sayang kamu jangan lemah” suara ibu ku cemas

“ syifa ya allah kenapa kamu tadi harus membantah,” kata salah satu teman ku

“sayang bangun nak bangun, anak ummi kuat anak ummi gak lemah,” kata ibu sambil menangis

“ummi,” panggil ku

Aku tak tau lagi aku gak bisa membuka mata ku, yang ku dengar hanya lah suara ummi dan teman teman ku . ya allah bila ini saatnya aku ikhlas, karena bila aku bertahan aku akan menyusahkan banyak orang lain terutama ummi dan ayah.

Beberapa saat kemudian…

Aku tersadar kubuka perlahan lahan mata ku, yang kulihat hanyalah benda benda yang membuat menyiksa tubuh ku aku tahu pasti aku di rumah sakit tempat yang paling tidak aku sukai. Pasti tadi aku pingsan. Dan aku juga melihat ada teman teman juga ayah dan, ya ampun ummi mana aku tidak melihat ummi.

“ a.. a.. ayah,” panggil pelan

“syifa nak kamu sadar sayang, ayah senang,”kata ayah gembira

“syifa syifa kamu sudah sadar,” sambung teman teman ku

“ayah, ummi mana,” sambung ku

“ummi kamu d kamar sebelah sedang di rawat sayang,” kata ayah

“kenapa yah, syifa mau lihat ummi sekarang ayah,”kata ku menangis

“ ummi tadi pingsan nak jantung nya ummi kumat, ummi tidak sanggup melihat shifa,” kata ayah sendu

“ayah, shifa mau melihat ummi. Ayah ayuk lah ayah,”

“ iya sayang ayah bantu kamu ya, ya sudah ayah panggil suster dulu,” kata ayah

Ayah memanggil suster untuk membantu melepaskan alat alat di tubuh ku ayah dan teman teman ku juga membantu menuntunku untuk duduk d kursi roda. Dengan tenang aku duduk di kursi itu dan di dorong oleh ayah menuju ke kamar di mana ummi ku di rawat. Ketika sampai di depan kamar ummi ayah pelan pelan membuka kamar tempat di rawat nya ummi. Aku terkejut melihat ummi tergeletak sendiri yang hanya di temani alat alat rumah sakit. Lagi lagi ini karena aku , ehemmm aku meneteskan air mata hanya gara gara aku ummi sakit, kasihan ummi maafkan syifa ummi, shifa selalu membuat ummi susah, membuat jantung ummi kambuh lagi, semua karena shifa.

Ayah mendorongku ke tempat tidur ummi, aku langsung memeluk ummi erat hingga air mata ku menetes ke wajah ummi.

“ ummi ini syifa ummi, bangun ummi maafkan syifa,” kata ku sambil menangis

“ sa.. sa.. sayang,” sambung ummi

“ ummi ummi sudah bangun, ayah ummi sudah bangun, ummi maafkan syifa ummi,” kata ku sambil memeluk ummi

“iya sayang,” kata ayah

“sini sayang dekat sama ummi kamu gak salah kok sayang,” sahut ummi

“iya ummi, ayah syifa minta tolong ,” kata ku

“ iya sayang apa itu biar ayah bantu,” sambung ayah

“ ayah tolong syifa ya, syifa mau baring di sebelah umi, ayah mau kan bantu syifa,” sahut ku

“ iya sayang ayah mau, ya sudah ayo ayah pegangin syifa,” sambung ayah

Ayah menggendongku untuk membantu membaringkan ku di sebelah ummi yang paling aku sayang. Setelah ayah membaringkan ku, aku langsung memeluk tubuh ummi dengan erat. Aku merasakan kehangatan dari ummi, ummi juga membalas memeluk tubuh ku, seketika aku menangis merasa ada perasaan yang tidak enak di hati ku. Ku peluk erat ummi lagi.

“syifa sayang tidak sama ummi.” Kata ummi sedih kepada ku

“ sayang sayang sekali, kenapa ummi mengatakan seperti itu,” aku menjawab terkejut

Perasaan ku semakin tidak enak ketika ummi bertanya seperti itu. Dan ku tenang kembali ketika ummi memelukku. Aku terdiam dan melihat jam sudah jam 00.00 dini hari, aku tersentak dan aku sadar bahwa hari ini tepat tangal 13 mei ummiku berulang tahun yang ke 40.

“ummi,” panggil ku

“ iya sayang kamu kenapa,” jawab ummi tersenyum

“syifa mau nyanyi buat ummi,” kata ku “iya sayang nyanyi apa nak,” jawab ummi “ dengarin nya ummi,” balas ku

“Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

selamat ulang tahun umi, semoga cepat sembuh ya ummi, panjang umur, syifa sayang ummi,” kata ku sambil mencium pipi ummi

“sepertinya tidak sayang, umur ummi tidak akan lama lagi, kamu yang akan panjang umur sayang dan akan sembuh dari sakit mu sayang percaya dengan ummi nak,” kata ummi sedih

“ummi kenapa ngomong seperti itu, syifa gak mau kehilangan ummi,”jawab ku menangis

“gak apa apa sayang kan ada ayah, syifa kuat sayang syifa gak lemah, “ jawab ummi menangis

“ummi,” panggil ku

“ummi berpesan jangan menjadi anak yang lemah syifa kuat, jaga ayah syifa, dan juga jangan pernah meninggalkan sholat 5 waktu ya syifa,” jawab ummi tegas

Perasaan aneh itu datang lagi. Ya allah perasaan apa ini. Aku takut ketika ummi mengatakan itu,

“sini sayang ummi peluk, ummi sayang syifa, ummi sayang ayah,” jawab ummi meneteskan air mata

Aku menangis ketika ummi memelukku aku merasa ini pelukan terindah dari ummi. Pelukan ini berbeda dari biasanya pelukan ummi ini lebih hangat, lembut, dan sangat sangat berbeda. Aku terus menangis di pelukan ummi.

“ummi,” panggil ku

“ummi,” panggil ku yang kedua kali

Aku curiga ummi tidak menyahut panggilan ku, ku lepaskan pelukan ummi pelan pelan. aku bangkit dari tempat tidur. Ku lihat ummi tak sadar kan diri, aku panggil berkali kali kali namun ummi tidak juga menyahut, ku panggil ayah yang tertidur di sofa,

“ayah, ayah ummi yah,” panggil ku berbisik

“ehhem kenapa nak dengan ummi,” jawab ayah lesuh

“ayah ummi tidak bargerak yah cepat panggil dokter yah cepat yah,” jawabku sedih

“ apa, iya iya sebentar nak ayah akan panggil kan dokter,” kata ayah ku panik

Menunggu ayah memanggil kan dokter, aku juga terus memanggil ummi, “ ummi.. ummi,” panggil ku menangis

“ sayang,” jawab ummi

“jangan menangis nak ummi baik baik saja, ummi mau ketemu dengan ayah nak,” jawab ummi lagi

Tak lama setelah itu ayah datang membawa dokter. Ayah mendekat ke tempat tidur ummi

“ayah,” panggil ummi

“ayah, jaga anak kita syifa ya ayah,” Kata ummi

“ayah akan menjaga syifa, kenapa ummi ngomong seperti itu,” jawab ayah

“tidak apa-apa ayah, syifa kemari ummi peluk,”sambung ummi

“syifa cepat sembuh ya ummi yakin penyakit syifa akan hilang sayang,” sambung ummi lagi

“iya ummi, syifa janji ummi tapi ummi jangan ngomong yang tidak-tidak lagi ya ummi,” sambung ku

“ummi kenapa ummi, ummi ayah sayang sama ummi, ummi selamat ulang tahun ya, maaf ayah terlambat ummi,” sambung ayah mengecup kening ummi

Sambil tersenyum ummi mengangguk kepada ayah.

“ayah, syifa……………………..,” kata ummi

“ ummi ummi ummi bangun ummi, bangun ummi ummi bangun ummi,” jawabku menangis “ ummi bangun sayang, dokter kenapa diam saja tolong dokter tolong,” jawab ayah menangis dan marah

Kami menunggu di luar sampai dokter selesai memeriksa ummi. Aku menangis tak tega melihat ummi seperti itu. Ayah mencoba menenangkan ku yang tak berhenti menangis dari tadi. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangannya.

“pak,” panggil dokter tegas

“kami minta maaf pak, semua yang hidup pasti akan kembali kepada Allah,” kata dokter

“maksud bapak apa, saya tidak mengerti pak, tolong yang jelas pak,” bantah ayah

“maafkan kami pak, kami sudah berusaha pak, “ sambung dokter

“akhk u.. umi kenapa ya allah kenapa, ummi jangan tinggalkan ayah,” kata ayah menangis

Aku mendekati ayah aku melihat ayahmenangis. Secara spontan aku juga kaget dan perasaan aneh datang lagi.

“ayah kenapa,” tanya ku

“syifa ayah tak sanggup nak,” jawab ayah

“kenapa yah syifa tidak mengerti yah, jelasin sama syifa yah,” tanyaku “ummi nak ummi,” sambung ayah lagi “kenapa yah dengan ummi ayah jangn buat syifa takut yah,” tanyaku lagi “ ummi ummi sudah di panggil sama allah nak,” jawab ayah menangis aku merasa tak percaya, aku langsung berlari ke kamar ummi ku lihat ummi sudah terbaring kaku di tempat tidur dan di tutupi selimut hingga sekujur tubuhnya. Aku terdiam terpaku yang hanya bisa mamandangi jasad ummi. Aku berjalan pelan pelan kearah ummi. Kemudian aku berlari dan menjerit memanggil nama ummi ummi ummi ummi. Tak lama itu ayah pun masuk untuk melihat ummi yang sudah terbujur kaku. ini kah perasaan itu ya allah aku kehilangan ummi selamanya dan pelukan itu sudah menjadi tanda bahwa itu pelukan terakhir ummi untuk ku. Aku terus memeluk erat ummi dan ayah hanya bisa menangis sambil mengelus punggung ku agar aku tenang akan kejadian ini. kemudian tiba tiba datang seorang dokter yang selalu menangani sakit ku. Dia membawakan berita gembira kepada kami kalau kanker ku yang tadinya stadium 4 sudah turun menjadi stadium 1 dan kemungkinan aku akan sembuh kata nya. aku bahagia namun aku sedih,aku tidak sanggup tersenyum, seandainya ummi masih ada pasti ummi akan menjadi ibu yang paling bahagia di dunia yang melihat buah hatinya sembuh dari sakit mematikan.

Tapi itu tidak mungkin ummi sudah pergi meninggalkan aku dan ayah tepat di hari ulang tahunnya yang ke 40. “Selamat jalan ummi aku dan ayah sayang ummi. Syifa janji gak akan kecewakan ummi syifa juga akan jaga ayah ummi,” kata ku.

Besok nya kami kembali ke rumah untuk mengurus jasad ummi agar di kebumikan. Semua kawan ku datang begitu juga kawan kantor ayah dan ummi, guru-guru ku dan dokter yang yang selalu mengurusi sakit ku juga datang. Aku tidak sanggup melihat ummi tebaring di tempat ummi di baringkan, spontan aku langsung pergi ke kamar ummi.

“ummi syifa ingin ummi baring di tempat tidur ummi dan syifa sedang memeluk ummi,” kata ku

Aku tidak sanggup untuk mendapat kan ini, masih terasa pelukan ummi yang berbekas di tubuh ku, hati ku bagaikan es yang membeku, tubuh ku dingin memikirkan ummi.

“nak sedang apa di sini sayang,” kata ayah

“AYAH.......,” kata ku

Aku langsung memeluk ayah erat-erat, aku menangis di pelukannya, ayah pun langsung menggendong ku. Air mata ku menetes di bajunya, di bahunya.

“ayah, ummi ayah, ummi ayah, ummi ayah,” kata ku

Ayah hanya terdiam dan mencium kepala ku, mengelus punggung ku

“ayah syifa ingin ummi hidup ayah, syifa kangen dengan ummi, syifa mau ummi tau kalau syifa sudah akan sembuh ayah, pasti ummi akan bahagia ayah, ummi pasti akan tersenyum yah,” kata ku kepada ayah

“sayang, ummi......, sudah sayang ummi juga kangen sama syifa, ummi pasti sudah tau sayang bahwa syifa akan sembuh, ummi pasti akan tersenyum, seperti syifa melihat ummi tersenyum, seperti itu lah ummi akan tersenyum bahagia melihat syifa,” jawab ayah kepada ku

Aku hanya mengangguk kepada ayah, aku masih tetap di pelukan ayah. Ayah pun membawa ku ke depan tempat jasad ummi di baringkan.

“sayang turun yuk sayang,” kata ayah

“iya ayah,” kata ku

air mata ku masih tetap mengalir, terseduh-seduh sesekali melihat ummi.

“sabar ya syifa, syifa harus kuat,” kata salah satu teman ku

“iya,” kata ku

Keluarga ku semua datang dari ayah dan ummi, mereka sedih melihat ummi ku pergi tapi mereka juga senang aku sudah akan sembuh, namun di hatiku aku merasa masih tetap saja sedih, “buat apa sembuh kalau ummi ku pergi meninggalkan ku, itu sama saja aku kehilangan bahagian tubuh ku, aku ingin ummi ku, ya Allah engkau maha pengasih lagi maha menyayang dengar kan lah pinta ku ini ya Allah,” kata ku di dalam hati.

“syifa mau cium kening ummi,” kata ayah

“mau ayah,” kata ku

“iya sayang, tapi jangan pakai nangis ya sayang, syifa harus senyum,” kata ayah

“iya ayah,” kata ku

Ku cium kening ummi untuk terakhir kalinya, wajah ummi bersih sekali, bibir ummi tersenyum, sungguh cantik sekali ummi ku ini. Setelah aku cium kening ummi, ayah pun mencium ummi kening ummi dan pipi ummi.

Jasad ummi pun di urus. Setelah jasad ummi di kebumikan, kami semua kembali ke rumah, di saat pulang aku digendong ayah.

Semua telah berakhir seminggu telah lewat, di rumah hanya aku dan ayah. Kami yang mengurus rumah bersama-sama, penyakit ku semakin hari semakin membaik. Ayah yang mengurus keperluan ku semua, ayah merangkap menjadi ayah dan ummi, memasak, menyuci, semua pekerjaan ummi dulu ayah yang kerjakan. Aku hanya membantu ayah, aku selalu bertanya kepada ayah, “ada yang bisa di bantu ayah”, itu yang selalu aku katakan.

Kini aku sudah bisa masuk sekolah dengan baik, setiap hari ayah mengantar ku seperti biasa, namun kata “hati-hati ya ayah bawa mobil ayah, syifa hati-hati ya sayang, baik-baik di sekolah, rajin belajar ya anak ummi”, dari ummi kini tidak ada terdengar hanya dengungan di telinga yang terbesit. Kecupan ayah dan ummi kini hanya ayah saja namun ayah selalu cium dua kali kata ayah itu dari ummi dan ayah.

Kami berdua selalu melihat ke teras rumah sebelum melanjutkan perjalanan, kami membayangkan ummi melambaikan tangan kepada kami, sambil mengucapkan “hati-hati”,.

Ayah sekarang tidak sibuk lagi untuk keluar rumah, apalagi ayah arsitek yang sukses yang selalu di perlukan pemikirannya. Bila ayah mau ke kantor ayah selalu membawaku, bila aku pulang sekolah ayah sudah membawakan makan siang ku di dalam mobil. Ayah sudah sama seperti ummi kalau keluar rumah tidak beli makanan tapi di bawa dari rumah.

Pekerjaan ayah tidak terganggu dengan keadaan ini karena ayah minta izin untuk bekerja di rumah saja, ayah ingin selalu siap siaga di rumah bila aku memerlukan sesuatu. Aku salut dengan ayah, ayah adalah ayah yang baik sekali syifa sayang, cinta ayah. Ummi syifa cinta, sayang ummi. Syifa akan membanggakan ayah dan ummi. MMMMUUUUUAAAAAACCCCHHHH UNTUK AYAH DAN UMMI.

wahyu alatas sitompul

/2816

saya suka dengan mengarang cerita yang nyata maupun yang fiksi belaka
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?