Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Dari Likuidasi Jokowi hingga Infrastruktur Senam

6 Juni 2019   09:00 Diperbarui: 7 Juni 2019   04:21 2533
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Presiden RI, Joko Widodo, berlebaran bersama masyarakat | Foto: Akun Twitter Joko Widodo

Mahabenar netizen dengan segala komentarnya.

Kalimat di atas sengaja saya gunakan untuk membuka tulisan receh ini. Media sosial memang memberikan ruang amat lapang bagi netizen untuk berkomentar sesuka hati. Nyinyir boleh, nyenyeh pun boleh. Menggerundel bisa, menggerunyam pun bisa.

Kadang-kadang ada warganet yang seolah-olah pembuluh nyinyirnya akan meledak jika tidak cepat-cepat mencerocos. Ada pula netizen yang laksana diserang gatal tidak keruan kalau tidak buru-buru menggerutu. Akibatnya, kontrol diri dan kontrol jemari susut sampai tandas.

Warganet yang kehilangan kontrol jemari itu lantas bergumam semau-maunya. Ada yang tersulut pendapat elite, ada yang terbakar pernyataan tokoh, ada juga yang terpanggang guyonan pesohor. Singkat kata, rupa-rupa pemicunya.

Banyak celoteh warganet yang nyeleneh, tidak sedikit pula yang nyelekit. Banyak yang tampak pintar bukan main, tidak sedikit pula yang terlihat bodoh luar biasa. Pendek kata, macam-macam lagaknya.

Ramadan 1440 H, yang baru saja berlalu, sesekali riuh oleh gelak tawa. Suasana kocak tercipta gara-gara komentar netizen yang sok merasa paling benar. Tidak heran apabila ledekan "mahabenar netizen" gencar digunakan.

Likuidasi Jokowi
Pilpres 2019 sangat mujarab dalam memantik hasrat gegabah. Puncak dari rentetan dugaan kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif adalah munculnya keinginan untuk menggugurkan hak salah satu paslon pilpres.

Entah amat cerdas entah sangat pandir, seorang tokoh berseru lantang agar Paslon 01 dicabut haknya sebagai peserta pilpres. Tokoh tersebut menuntut supaya Bawaslu melikuidasi Jokowi. Videonya sempat viral.

Seseorang di dalam video tersebut menceletukkan kata diskualifikasi untuk membenarkan. Alih-alih mengaku keliru, si tokoh malah ngeyel. Sudah salah ngotot pula. Si tokoh berkata, "Likuidasi yang paling tinggi!"

Sebagai pencinta bahasa Indonesia, saya terkakah-kakah. Saya makin terkakak-kakak karena kekeliruan itu dipungkasi teriakan takbir. Ajaib, kan? Tokoh yang keliru kata malah disambut takbir. Pengagungan Tuhan lewat takbir digunakan secara serampangan dan sembarangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun