Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Profesi guru

(C)Kompasiana.com/1b3las-mk. Carilah Tuhan dengan sepenuh hati maka IA memberikan upah kepadamu. Situs Webku ialah www.http://blasmkm.com/ dan Email saya ialah mengkakablasius@yahoo.com.

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Bangunan Benteng Kolonial; Makin Dibiarkan Asli, Makin Mengundang Wisatawan

19 Mei 2017   22:37 Diperbarui: 20 Mei 2017   17:24 124 2 1
Bangunan Benteng Kolonial; Makin Dibiarkan Asli, Makin Mengundang Wisatawan
Makam-makam tua dari para tentara Belanda terlihat dalam reruntuhan kompleks Fort Concordia di Jln. Pahlawan, Kel. Nunhila, Kec. Alak-Kupang (Foto:Pos Kupang/Muhlis Al Alawi)

Bangunan-bangunan tua bekas kolonial di Indonesia, seperti benteng-benteng kolonial mengalami persoalan yang rumit terkait apakah bangunan-bangunan itu perlu direnovasi atau dipugar atau dilestarikan? Keberadaan bangunan-bangunan tua kolonial merupakan peringatan atas kejadian sejarah masa lampau terkait kehadiran kaum kolonial di Indonesia. Dalam pelajaran sejarah telah disinggung tentang kehadiran bangsa kolonial yang diperkuat dengan jejak-jejak berupa bangunan-bangunan tua seperti benteng dan bangunan. 

Bangunan-bangunan tua kolonial seperti gedung dan rumah bekas peninggalan kediaman penguasa Belanda di Batavia dipugar salah satunya menjadi kediaman resmi atau istana presiden RI seperti yang sekarang ini ditempati. Sedangkan banyak benteng-benteng dibiarkan tetap berdiri dengan reruntuhannya saja. Jadi motivasi pemerintah merenovasi bangunan kolonial hanya dilakukan berdasarkan kegunaan. Untuk bangunan benteng dianggap tidak berguna lagi dan dibiarkan berdiri dalam reruntuhan. Seperti terlihat dalam gedung benteng Fort Concordia di Kupang di mana hampir tidak ada lagi bangunan benteng yang tegak kokoh hanya tersisa beberapa bangunan sement tua dibiarkan dengan reruntuhannya sedangkan pada bagian lain berdiri asrama satuan TNI dari Batalion TNI-AD 743 Kupang. Tentunya rekonstruksi bangunan benteng tua Fort Concordia Kupang perlu melibatkan gambar sketsa yang ditemukan dalam berbagai arsip tentang bangunan benteng itu di Belanda. Hal yang sama perlu dilakukan juga terhadap benteng kolonial di Lohayong-pulau Solor-NTT. 

Penjara lama VOC terlihat di Kel. Air Mata Kupang (Foto:nasti lamag-di Kompasiana.com/nastilamag)
Penjara lama VOC terlihat di Kel. Air Mata Kupang (Foto:nasti lamag-di Kompasiana.com/nastilamag)

Kita belajar dari cara pemerintah Italia memperlakukan bangunan-bangunan tua peninggalan bangsa Romawi. Banyak bangunan diperbaiki untuk ditempati namun banyak juga dibiarkan berdiri dengan bekas reruntuhannya saja, misalnya gedung-gedung tua Romawi seperti: The Roman Forum dari Kaisar Agustus dibiarkan tetap berdiri dengan reruntuhannya, Kuil Venus-Italia, Colloseum-Italia, Piramida Cestius-Italia dan Tempat Permandian Umum Romawi-Italia. Bangunan-bangunan peninggalan bangsa Romawi itu tetap berdiri dengan reruntuhannya yang asli, namun karena itu semakin banyak diminati oleh wisatawan baik domestik maupun mancananegara. Jadi justeru karena tidak direnovasi maka bangunan-bangunan amat tua itu justeru makin banyak pengunjungnya. Bisa jadi kalau bangunan-bangunan tua itu direnovasi, maka makin kehilangan aslinya malahan orang makin menjauhi dan tidak berkunjung lagi.

Reruntuhan bangunan The Roman Forum peninggalan Kaisar Agustus meninggalkan jejak-jejak kebesaran Romawi(Foto:archivetheromaforum)
Reruntuhan bangunan The Roman Forum peninggalan Kaisar Agustus meninggalkan jejak-jejak kebesaran Romawi(Foto:archivetheromaforum)

Sesuatu hal yang terpenting ialah kita memberikan tempat bagi bangunan-bangunan tua itu tetap berdiri dalam keadaan aslinya, seperti yang dibuat oleh pemerintah Italia terhadap banyak bangunan peninggalan bangsa Romawi dahulu. Sekali lagi soal renovasi bangunan kolonial tergantung dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Menurut saya biarlah bangunan-bangunan tua seperti benteng Van den Bosch itu dibiarkan seperti yang sekarang agar dengan demikian semakin banyak menarik para wisatawan untuk berkunjung. Hal yang sama berlaku juga bagi bangunan-bangunan benteng kolonial di seluruh penjuru Nusantara. Sebaiknya dibiarkan tetap asli agar makin banyak orang berkunjung untuk ingin tahu dan melakukan penelitian sejarah tentang keberadaan bangunan-bangunan kolonial itu.