PILIHAN

Pelajaran Itu Bernama Ahok

22 April 2017 09:02:21 Diperbarui: 22 April 2017 23:02:16 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Pilkada DKI Jakarta telah selesai dilaksanakan. Banyak masyarakat yang melakukan sujud syukur, bukan hanya masyarakat Jakarta saja tetapi juga mereka yang di daerah. Masyarakat begitu antusias mengikuti perkembangan penghitungan cepat/ quick count yang ditayangkan berbagai TV nasional. Jantung mereka berpacu lebih cepat, saat melihat perubahan angka-angka dan persentase di layar kaca.

Jakarta telah dianggap miniatur Indonesia, apapun yang terjadi di Jakarta seolah akan berimbas pada daerah/ provinsi yang lain. Jakarta juga barometer Indonesia. Suhunya akan mempengaruhi suhu nasional.

Tokoh paling fenomenal dalam dekade ini di DKI adalah Ahok. Yang sebelumnya ada Joko Widodo. Kedua tokoh ini ketika berpasangan sangat ideal dan saling melengkapi. Joko Widodo yang merakyat sering melakuakn blusukan untuk dapat menyentuh masyarakat bawah. Sementara Ahok yang tegas, kebagian tugas mendisiplinkan sistem pemerintahan dan pelayanan. Banyak yang kagum dengan ketegasan dan keberaniannya. Sehingga meski memiliki job masing-masing tapi mereka sangat kompak.

Berangkat dari menjadi Bupati Bangka Belitung, Ahok naik menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, terakhir dia menjadi orang nomor satu di DKI itu. Banyak gebrakan yang dilakukan, sehingga terjadi perubahan yang cukup signifikan di provinsi tersebut. Meskipun karenanya, banyak pihak yang tersakiti dan terusik.

Setelah terpisah dan berjalan sendiri, Ahok menjadi berjalan timpang apalagi saat menghadapi masyarakat bawah atau berseberangan dengannya. Dia sering arogan, bicara keras, kasar dan terkesan kalau berbicara tidak dipikirkan dahulu. Bahkan sampai terjerat kasus penistaan agama

Ahok yang sebelumnya menjadi sosok yang diperhitungkan dan disegani berubah menjadi sosok yang dibenci. Relawan Sahabat Ahok yang mendukungnya dengan antusias mulai berpaling bahkan meninggalkannya. Perkataan Ahok bahkan telah memancing kemarahan secara nasional. Elekbilitasnya menurun drastis. Walaupun demikian ketika pilkada putaran pertama, Ahok masih memperoleh 42,99%. Mungkin seandainya tidak ada kasus penistaan agama, pasangan Ahok-Jarot bisa menang mutlak, atau mencapai 50,1%.

Belajar dari Ahok, ternyata banyak hal yang dapat kita petik. Pertama, sebagai pemimpin harus fleksibel. Dengan kaum bawah harus menyayangi, santun , dan mengayomi. Sehingga rakyat merasa dihargai. Dengan semua lapisan maupun etnis harus bersahabat. Sehingga pemerintahan dapat berjalan harmonis, tidak ada silang sengketa. Namun bila hal itu diabaikan akibatnya akan dituainya sendiri. 

Sudah menjadi keniscayaan bahwa mereka yang bisa melakukan semua pada koridor sesuai keinginan bersama pun masih ada saja yang hendak menjatuhkannya, apalagi ini yang jelas bertentangan dengan suara rakyat. Kita lihat contohnya proyek reklamasi pantai utara dan penertiban Kalijodo, mungkin secara ekonomi itu sangat menguntungkan bagi kelompok tertentu, tapi kita tidak bisa menutup mata berapa banyak masyarakat yang mesti terkena imbasnya, bahkan para pakar lingkungan hidup pun gencar mengecamnya. Walaupun tidak kita pungkiri, semua tindakan Ahok adalah demi pembangunan jangka panjang kelompok tertentu. Hanya formulasinya yang kurang tepat untuk daerah yang terlalu majemuk.

Kedua, sebagai pemimpin harus menjaga lisan dan sikap. Seharusnya dalam situasi dan suasana apapun, lisan dan sikap tetap mencerminkan kepemimpinannya. Seperti pepatah ” Ajining diri gumantung saka ubahing lati” dan pepatah “mulutmu adalah harimaumu”. Siapa pun yang tak dapat menjaga lidah dengan baik akan menghancurkan dan membahayakan diri-sendiri. Memang biasanya seorang yang cerdas dan tegas lebih temperamen. Namun sebagai pemimpin yang harus mampu menciptakan suasana nyaman, tentunya harus lebih menjaga hati orang yang ada di sekelilingnya.

Ketiga, sebagai pemimpin harus rendah diri. Ojo dumehkata orang Jawa. Ingatlah bahwa jabatan dan kedudukan yang digenggam seorang pemimpin adalah hasil dari suara rakyat, tidak diperoleh dari hadiah atau hasil kerja keras. Oleh karena itu, kita harus bisa mengambil hatinya, bukan hanya saat kampanye tapi juga saat tengah memimpin. Tunjukkan pada rakyat, bahwa mereka tidak salah pilih. Sehingga bila suatu saat kita membutuhkan dukungan lagi, tak lagi perlu mengobral janji. Kita akan lebih mudah menjadi juara bertahan.

Keempat, seorang pemimpin harus teguh pendirian dan berdaulat. Jangan mudah dipengaruhi atau dikendalikan. Semakin tinggi kedudukan maka semakin kuat angin yang menerpanya. Angin itu sendiri ada yang membantu untuk menjatuhkan buah yang ingin kita petik. Namun ada juga angin yang mengancam kita saat mulai naik. Ingatlah bahwa orang yang ada di sekitar kita itu beragam tipe dan kepentingannya. Janganlah hanya karena ingin mencapai tujuan dengan mudah, justru kita menggunakan cara yang salah. Alih-alih sampai tetapi malah jatuh.

Semoga beberapa hal tersebut dapat kita pelajari dari Ahok, dan kita dapat menata hati, sikap dan tutur kita dari hal yang akan menjatuhkan kita karena kelalaian yang kita lakukan... Semoga

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana