Tatkala Mimpi Berakhir (1)

17 Juni 2013 22:19:46 Dibaca :

Hari sudah siang, matahari bersinar dengan garangnya. Perutku terasa melilit minta diisi. Aku berhenti sejenak dari hadapan komputer untuk sekedar mengisi perut. Kuhampiri meja Reni, kelihatannya Reni masih asyik dengan komputernya, tangannya dengan lincah menari-nari di atas keyboard.


“Ren, makan siang dulu yuk, Aku lapar sekali nih!” ucapku hampir merupakan sebuah keluhan.


“Wah, nanggung nih! Kamu duluan sana” ujar Reni


“Ya, sudah, kalau kamu pingsan aku nggak mau nolongin kamu lo ya!” candaku sambil mengedipkan sebelah mata kemudian aku berjalan ke luar kantor menuju kafetaria langgananku yang letaknya di depan kantor.


Hampir setiap siang aku selalu makan siang di situ. Kebetulan lidahku cocok dengan masakannya yang menyajikan menu sehari-hari dengan pilihan aneka sayuran dan lauk yang setiap harinya berganti-ganti sehingga persis masakan di rumah.


Aku menikmati makan siangku dengan lahap, sayur lodeh , tempe goreng, ayam bacem, dan sambal. Apalagi nasinya masih panas dan pulen, wuiiih....nikmatnya! Aku tersentak kaget ketika seorang laki-laki duduk di depanku. Lelaki itu menganggukkan kepala kemudian melahap makanannya. Kami saling diam, sama-sama menikmati makan siang kami. Bagiku lelaki itu sudah tidak asing lagi. Hampir setiap hari aku bertemu dengan lelaki itu di sini. Lelaki itu selalu sendiri bila makan siang di sini. Sama seperti diriku, aku selalu sendiri bila makan siang. Aku jarang makan bareng teman-teman kantorku. Mereka sering menunda makan siangnya bila pekerjaan menumpuk. Sedangkan aku, tak kuat menahan lapar, bila perutku sudah melilit, maka harus segera diisi, kalau tidak badanku gemetar dan kepalaku pusing dan berkunang-kunang.


Sebenarnya risih juga, makan berhadap-hadapan dengan orang yang tidak dikenal, apalagi laki-laki. Tapi apa boleh buat. Saat ini jam makan siang, tempat duduk di cafetaria penuh, hanya mejaku yang masih kosong.


“Sendirian ya mbak?” tegur lelaki itu sambil tersenyum. Alamak, senyumnya itu sungguh manis sekali. Aduuh....apaan sih aku ini, sudah punya suami dan anak kok malah tertarik pada senyum lelaki lain.


“ya” jawabku singkat seraya melanjutkan sisa makananku.


Selanjutnya aku melanjutkan makananku. Kami pun saling diam, membisu, sampai aku selesai makan dan lelaki itu mohon diri untuk mendahului. Ketika aku akan membayar makananku di kasir, ternyata lelaki itu sudah membayar makananku. Aku melongo kaget, kenal aja tidak, malah mentraktir aku!


****


Itu awal dari perkenalan kami, selanjutnya kami sering ketemu saat jam makan siang, dia selalu satu meja denganku. Akhirnya kami akrab. Bila akan mengisi perut kami saling sms supaya kami bisa makan bersama. Lelaki itu bernama Yoga, dia duda beranak satu, istrinya meninggal dua tahun yang lalu karena sakit kanker payudara. Sedangkan aku, wanita bersuami dan beranak dua. Yoga seorang lelaki yang kesepian, sedangkan aku adalah seorang wanita yang menyimpan kekecewaan karena pengkhianatan suamiku.


Suamiku mengkhianati diriku, dia berselingkuh. Secara tidak sengaja aku pernah membaca sms mesra dari seorang wanita. Sekali dua kali, aku masih tidak yakin kalau Bagas selingkuh. Aku diam-diam mencari bukti-bukti bahwa Bagas selingkuh, tapi aku sulit untuk menemukannya. Aku berusaha percaya penuh pada suamiku, sepuluh tahun kami hidup bersama, tak mungkin dia mengorbankan apa yang telah kami ikrarkan di hadapan Tuhan hanya demi seorang wanita, bagaimanapun cantiknya dia.


Kejadian itu sudah berlangsung berbulan-bulan dan aku tak menggubrisnya kembali walau jauh di lubuk hatiku ada setitik kecurigaan. Sampai akhirnya aku pernah mengangkat hp Bagas saat Bagas sedang di kamar mandi, kulihat dari dari Anita, tapi setelah kuangkat langsung ditutup kembali. Karena penasaran, lima menit kemudian, nomor hp Anita kuhubungi, dengan manja wanita itu menjawab


“Halo sayang, aku kangen nih? kapan kita melepas rindu?” Ujar wanita itu manja. Aku tertegun dan terdiam. Seketika aku merasa hancur, dadaku sakit. Sambungan telpon langsung kututup.


Perlahan-lahan aku minta konfirmasi dari Bagas tentang hubungannya dengan Anita. Bagas mengatakan itu cuma teman biasa, sebatas rekan kerja. Tapi aku tak percaya. Intuisiku mengatakan, Bagas menyembunyikan sesuatu dariku. Sejak saat itu rumah tanggaku hambar, kami sering bertengkar, aku selalu mencurigai gerak-geriknya, dan akhirnya kami saling diam. Aku berusaha menutupi apa yang terjadi diantara kami dari kedua anakku. Biarlah mereka tidak tahu konflik yang terjadi pada orang tuanya.


Hidupku serasa hancur berkeping-keping, aku merasa disepelekan. Harga diriku tercabik-cabik dengan hadirnya Anita dalam hidup Bagas. Aku tahu Bagas penuh dengan kepalsuan, bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa dengan Anita. Namun, aku tidak percaya begitu saja dengan sikapnya. Dia lebih penuh perhatian. Itu mungkin karena dia merasa bersalah. Kompensasinya, dia membelikan aku tas dan baju yang mahal. Setiap pulang kerja dia juga membawakan makanan-makanan kesukaan kami dari berbagai restoran.


Sekali dua kali, memang aku dapat dibohongi. Tapi kali berikutnya aku merasakan juga dustanya. Hanya aku tak ingin membicarakannya lagi. Aku menutupi perasaanku. Aku tak ingin ribut. Percuma bila kutanyakan karena dia selalu mengelak dan tetap tak mau mengakuinya bila dia selingkuh. Mana ada sih maling yang mengaku. Bisa-bisa penjara penuh!


Berkenalan dengan Yoga merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Yoga orangnya humoris, dia selalu bercanda sehingga membuatku tergelak-gelak. Aku merasa terhibur. Aku merasa ada sesuatu yang timbul dalam diriku yang membuatku mempunyai semangat kembali, seolah-olah Yoga merupakan sebuah inspirasi bagiku sehingga membuat hidupku menjadi berwarna.


Mula-mula perkenalanku dengan Yoga hanya sebatas makan bersama di kafetaria bila jam istirahat. Tetapi kemudian perkenalan kami tak hanya sebatas jam istrirahat makan siang. Pertemuan kami berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya di luar jam istirahat makan siang. Siapa yang salah kalau pada akhirnya kami saling tertarik dan menjadi saling ketergantungan? Makin lama, aku merasa ada yang berkecamuk di hatiku. Aku merasa dibutuhkan oleh Yoga terutama Nana anaknya yang masih kelas satu SD.


Bukan itu saja, kemanjaan Nana, keterbukaan dan ketergantungan Yoga semakin memikat hatiku. Sekarang bukan hanya Yoga yang merindukan pertemuan kami. Aku juga! Dari satu pertemuan rahasia jatuh ke pertemuan rahasia yang berikutnya. Lama kelamaan, aku memakainya sebagai tempat untuk berkeluh kesah. Enak rasanya punya tempat mengadu. Apalagi Yoga menanggapi keluh kesahku dengan sabar dan dia selalu memberi semangat kepadaku.


Aku telah melakukan perselingkuhan ini dengan sengaja. Aku juga menyadari bahwa jauh di relung hatiku yang paling gelap, aku mencintai Yoga dan dia bukan suamiku! Tetapi perselingkuhan ini justru mengembalikan harga diriku, kepercayaan diriku.


****


Teman sekantorku yang juga merupakan teman akrabku mulai curiga melihat gelagatku. Aku kini semakin hari semakin bersemangat dan senang dandan terutama bila saat istirahat makan siang tiba. Aku cepat-cepat bergegas meninggalkan meja kerjaku dan langsung menghilang. Seperti siang ini, aku segera membereskan meja kerjaku ketika kulihat jarum jam menunjuk ke angka 12. Aku sudah bersiap-siap meninggalkan ruangan ketika Reni tiba-tiba menegurku.


“Dinda, akhir-akhir ini kamu menjadi lain deh! Kamu semakin bergairah terutama pada saat jam makan siang! Aku tak ingin orang lain bergunjing tentang dirimu” Ujar Reni sahabatku.


“Aku ingin kau bercerita pada kami, siapa laki-laki itu, yang selalu menemani kamu makan siang” sambung Tutik “Aku ingin penjelasan darimu setelah makan siang nanti, Sudah sana, kamu temuin gih si dia dan isi perutmu dulu” ujarnya lagi.


Aku terdiam menatap kedua sahabatku itu. Rupanya mereka mengerti apa yang aku lakukan dibelakang mereka. Memang selama ini aku tidak pernah bercerita kepada mereka baik tentang Bagas suamiku, terlebih-lebih bercerita tentang Yoga.


“Memangnya apa yang ingin kau ketahui dari diriku?” jawabku akhirnya.


“Sudahlah, makanlah dulu sana, dia sudah menunggu! Setelah makan siang aja kita bicara” ujar Reni sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


Aku pun kemudian melangkah dengan lunglai, aku jadi merasa tidak enak dicurigai oleh kedua sahabatku. Makan pun serasa hambar, hilang selera makanku. Aku hanya menelan beberapa suap saja setelah itu aku berhenti menyuap, lalu diam terpekur seraya memutar-mutar gelasku. Yoga memperhatikanku


“Kau memikirkan suamimu lagi? Sudahlah, tinggalkan dulu kesedihanmu, ayo sekarang makan dulu, ntar pingsan lo!” Ucap Yoga


Aku menggeleng lemah dan menatapnya sedih.


“Terus kenapa mukanya ditekuk seperti itu?”


“Reni dan Tuti sahabatku mulai curiga padaku, sepertinya dia tahu hubungan kita, dia mengajak aku bicara setelah makan siang” kataku


“Apa yang akan kau katakan kepada mereka nanti?” tanya Yoga seraya meletakkan sendok di piringnya yang sudah kosong.


“Justru itu, aku mau tanya kamu, apa yang harus kukatakan kepada mereka jika mereka menanyakan hubunganku denganmu” sahutku.


“Katakan saja kita hanya sekedar bersahabat” ujar Yoga kalem


“Semoga saja mereka percaya”


Yoga tersenyum, manis sekali. Senyumnya itulah yang selalu membuatku tidak bisa melupakan dirinya. Senyumnya itu selalu menari-nari di pelupuk mataku dan membuatku ingin dan ingin selalu bertemu dengannya.


“Aku tahu, posisimu lemah! Kau wanita bersuami sedangkan aku duda. Hubungan kita memang tak mungkin dapat berlanjut ke arah yang lebih serius. Aku menyadari hal ini, Din, namun, aku sendiri begitu berat bila harus berpisah denganmu” Kata Yoga seraya menatapku.


Menyadari hal itu, aku menjadi semakin sedih, hubunganku ini memang tanpa status dan tak mungkin ada ujungnya, tapi aku pun sudah merasa nyaman dengan hubungan yang seperti ini. Mengenalnya dan mencintainya merupakan suatu yang terindah dalam hidupku. Sudut mataku mulai basah. Selama bersama dengan Yoga, perasaan cintaku pada Bagas mulai berkurang, aku sudah tidak pernah merindukan Bagas lagi bahkan aku juga tidak mempedulikan jam berapa dia pulang. Terserah dia mau pulang malam kek, aku tidak peduli! Demikian pula dengan hubungan suami istri, kami semakin jarang melakukannya. Tapi, aku pun belum pernah melakukannya dengan Yoga. Hubungan kami begitu indah tanpa napsu hanya dilandasi perasaan kasih dan sayang.


****


“Dinda, aku mengingatkanmu bukannya aku mau ikut campur pada pribadimu, tapi aku menyayangkan dirimu, bila sampai ada orang yang menggosipkan dirimu macam-macam. Tentunya kau tahu apa yang terbaik untukmu, bukan? Kau punya suami” ujar Reni setelah aku sampai kantor.


“Kamu masih belum bisa membuktikan kalau Bagas itu selingkuh, kan? Mengapa kau sendiri malah sudah membalas perselingkuhan itu?” ujar Reni lagi. Sementara Tutik hanya diam sambil menatapku tak percaya setelah mendengar ceritaku.


“Kau harus bisa mengendalikan perasaanmu, Dinda! Berusahalah melupakan Yoga. Kembalilah kau mencintai suamimu. Seoarang istri yang baik harus bisa memaafkan suaminya bila dia menyakiti kita, kodrat kita seperti itu. Kau harus bisa menerima kembali suamimu apa adanya bila memang dia benar-benar selingkuh. Selamatkan perkawinanmu demi anak-anakmu!”


Air mataku mengalir tanpa suara membasahi pipiku. Sanggupkan aku tanpa Yoga? Dia sudah menjadi bagian dari hidupku. Bersamanya aku menemukan sesuatu yang kuaanggap sudah hilang. Hari-hariku serasa indah dengan kehadiran Yoga. Haruskah aku melupakannya? Sedangkan sehari tak bertemu saja, aku sudah merindukannya. Aku merasa hubunganku ini tidak ada yang salah karena kami hanya sebatas makan bersama, saling curhat, membantu anaknya membuat PR, dan menemani Nana jalan-jalan. Hanya itu, lain tidak!


“Semua terserah kamu, Din! Tentunya kamu bisa memilih apa yang terbaik untuk keluargamu” ujar Tutik akhirnya setelah melihatku diam membisu dan hanya mengeluarkan air mata.


“Aku tak melakukan apa-apa dengannya, apakah ini salah? Aku cuma bersahabat saja!” ujarku lirih berusaha mencari pembenaran diri.


Reni tersenyum dan berkata


“Kamu sering pergi berdua-duaan dengan lelaki lain yang bukan suamimu itu salah, nyonya! Apalagi kalian punya perasaan tertentu. Meskipun kau tak melakukan apa-apa, tapi orang lain mesti mengira kau seperti itu”


“Untuk saat ini aku masih belum mampu melupakannya” ujarku


Tutik dan Reni mengangkat bahu.


“Terserah kamu, Din!” Ujar Tutik


“Dinda, aku kenal dirimu bukan setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun. Aku tahu sifatmu yang keras kepala kalau dinasehati. Ibaratnya diberi tahu kalau ada lubang di depanmu, kamu itu tidak menghindar malah ingin mencoba masuk untuk mengetahui berapa meter kedalaman lubang tersebut” Ujar Reni jengkel.


Aku tertawa, kami pun lalu tertawa bersama.


****


BERSAMBUNG (17 Juni 2013)


KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?